Tradisi Syawalan: Memperkuat Silaturahmi, Mengikis Intoleransi

Tradisi Syawalan: Memperkuat Silaturahmi, Mengikis Intoleransi

- in Suara Kita
284
0
Tradisi Syawalan: Memperkuat Silaturahmi, Mengikis Intoleransi

Tradisi Syawalan merupakan salah satu tradisi masyarakat Nusantara yang dilaksanakan setelah shalat Idul Fitri. Setiap daerah memiliki tradisi Syawalan dan memiliki keunikan masing-masing, tetapi pada intinya tradisi Syawal dilaksanakan pada bulan Syawal.

Pelaksanaan tradisi syawalan merupakan upacara komunal yang berlandaskan syariat Islam yang sangat kental dengan kebudayaan nusantara. Secara garis besar, tradisi Syawalan merupakan tradisi untuk mengunjungi sanak-saudara dan meminta maaf atas kesalahan yang dibuat selama setahun.

Di beberapa daerah di Indonesia, tradisi syawalan tidak hanya berkunjung kepada sanak-saudara yang masih hidup, tetapi momentum untuk mengingat saudara atau orang berpengaruh atas jasa-jasanya.

Membumi Islam

Tradisi Syawalan merupakan bentuk perpaduan Islam dan kebudayaan yang ada di nusantara, bisa dikatakan hadiah umat Islam untuk Indonesia. Bahkan bisa dikatakan sebagai contoh penetration pacifique dakwah Islam Nusantara.

Dengan adanya tradisi syawalan merupakan kehadiran Islam yang dibawakan pada pendakwah tidak anti terhadap kearifan lokal. Sehingga para mubaligh Islam bisa membumikan Islam bahwa islam adalah agama rahmatan lil alamin. Mereka berhasil menciptakan simbol-simbol keislaman dan menyatukan Islam dalam denyut kehidupan masyarakat.

Tradisi syawalan merupakan dakwah yang tidak hanya retorika, tetapi menghadirkan Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat, terutama di Indonesia. Inilah pelajaran bagi para da’i masa kini yang lebih menekankan sisi entertaining: hiburan yang miskin makna.

Islam sebagai agama yang damai, hadir dengan wajah yang damai dan mendamaikan. Dengan cara ini, bangsa Indonesia menjadi “muslim” tanpa harus mengucap kalimat syahadat. Kosakata bahasa Indonesia sarat dengan nuansa Islam.

Misalnya, dalam tradisi Syawalan, tidak akan terlepas dari ketupat. Ketutup menjadi makanan “wajib” adalah saat pelaksanaan tradisi syawalan. Dalam bahasa Jawa, ketupat memiliki makna,yakni dari kata ku maknanya ngaku (mengakui) dan pat yang berarti lepat (kesalahan).

Dengan kata lain, bahwa ketupat merupakan simbol bahwa orang yang menghidangkan mengakui atas kesalahan yang telah diperbuat. Tradisi syawal dengan adanya makanan ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Tujuan untuk memperkenalkan Islam tetapi tidak menghilangkan identitas orang Jawa.

Sebelum datangnya Islam, ketupat sering digantung di pintu utama masuk rumah, bahkan dianggap semacam sesajen, tetapi bagi Sunan Kalijaga mengubah tradisi tersebut menjadi hal yang lebih positif. Yakni, simbol untuk saling memaafkan saat Idul Fitri.

Proses asimilasi budaya dan keyakinan yang telah berproses panjang ini, akhirnya mampu menggeser kesakralan kupat menjadi sebuah tradisi islami.

Memperkuat Silaturahmi, Mengikis Intoleransi

Dengan adanya tradisi syawalan, merupakan pelajaran pendakwah terdahulu bahwa menghadirkan Islam penuh dengan bahwa cinta dan ramah terhadap budaya. Para pendakwah dulu, memperlihatkan bahwa Islam dan budaya loka bisa bersanding serta bisa asimilasi tanpa menghilangkan inti ajaran Islam.

Sisi inklusif dan akulturasi Islam dengan budaya Nusantara adalah kunci dakwah yang perlu terus dikembangkan. Oleh karena itu, tradisi Syawalan merupakan Idul Fitri dengan segala tradisi dan kebudayaan yang melekat adalah warisan Islam yang perlu dirawat dan diruwat.

Saat ini, bukan lagi mempersoalkan apalagi mem-bid’ahkan halalbihalal, mudik dan open house yang merupakan rangkaian perayaan Idul Fitri. Yang terpenting adanya tradisi syawalan adalah momentum untuk melakukan perbaikan kehidupan kebangsaan, terutama toleransi.

Secara kultur, toleransi terjadi masyarakat yang menghilangkan silaturahmi, sikap saling mengenal satu sama lain. Yakni mempertahankan toleransi dimulai dari individu-individu. Melalui proses bottom-up, relasi antarindividu yang baik merupakan modal sosial yang bermakna dalam membangun harmoni dan kerukunan mewujudkan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Facebook Comments