Transformasi Ideologis Ba’asyir dan Masa Depan Radikalisme di Indonesia

Transformasi Ideologis Ba’asyir dan Masa Depan Radikalisme di Indonesia

- in Narasi
309
0
Transformasi Ideologis Ba’asyir dan Masa Depan Radikalisme di Indonesia

Setahun pasca keluar dari penjara, Abu Bakar Ba’ayir kembali mengagetkan publik. Sebuah rekaman video berisi pernyataan Ba’asyir beredar luas di media sosial. Di dalam video itu, secara jelas bahwa dirinya sekarang telah menerima Pancasila dan tidak lagi menganggapnya sebagai syirik. Keyakinan itu dilandasi oleh pemahaman bahwa dasar Pancasila ialah tauhid, yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Ditambah fakta bahwa para ulama terdahulu pun mendukung Pancasila. Ba’asyir berkesimpulan, mustahil ulama mendukung hal yang syirik.

Ba’asyir seperti kita tahu merupakan tokoh yang bisa dikatakan komplet. Ia adalah sosok ideolog, dalam artian tidak hanya memiliki pemikiran dan gagasan, namun juga punya keteguhan hati untuk mewujudkannya. Ia juga seoarang propagandis ulung. Terbukti, retorika dalam ceramahnya mampu membius khalayak sekaligus mampu mempengaruhi pola pikir jemaahnya. Tidak hanya itu, ia juga seorang organisatoris lapangan yang andal. Ia terjun langsung membangun organisasi, merekrut orang, dan melatihnya agar siap menjadi bagian dari gerakan.

Sayangnya, semua kelebihan itu dipakainya untuk berjuang melawan ideologi negara yang sah dan final, yakni Pancasila. Nyaris seluruh hidupnya ia habiskan untuk melawan otoritas pemerintahan yang sah, menolak Pancasila, dan memperjuangkan apa yang diyakininya benar, yakni menegakkan syariah Islam melalui khilafah islamiyyah. Sepak terjang dan rekam jejaknya itulah yang membuatnya menjadi ikon dan legenda hidup tidak tergantikan dalam gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Transformasi Pemikiran Abu Bakar Ba’asyir terhadap Pancasila

Namun, kini ia telah berubah haluan. Setidaknya dibuktikan dari video yang beredar belakangan ini. Jika dibaca dari teori sosial, Ba’asyir tampaknya tengah mengalami “transformasi ideologis”. Yakni berubahnya pemikiran atau keyakinan seseorang yang berpengaruh pada cara pandangnya dalam melihat realitas sosial. Dalam konteks Ba’asyir, transformasi idelogis itu mewujud pada perubahan cara pandangnya terhadap Pancasila; dari yang tadinya menolak dengan argumen syirik atau kafir, menjadi menerima dengan dasar tauhid dan teladan ulama terdahulu.

Perubahan cara pandangnya terhadap Pancasila itu tentu berpengaruh terhadap pola pikirnya dalam melihat realitas politik dan sosial. Di titik ini bisa kita simpulkan bahwa Ba’asyir kini tidak lagi menganggap NKRI dan pemerintahan yang sahnya sebagai tahgut. Lebih lanjut, kita bisa menyimpulkan bahwa Ba’asyir tidak lagi memandang penting upaya mendirikan negara Islam (khilafah) lantaran Pancasila itu sendiri sudah merepresentasikan nilai Islam terutama ketauhidan.

Di satu sisi, kita tentu patut mengapresiasi transformasi ideologis Ba’ayir ini. Bagaimana pun, hal ini tentu akan menjadi stimulus penting bagi gerakan kontra-radikalisme di Indonesia. Seperti kita tahu, radikalisme tumbuh subur karena ditopang oleh ideologi radikal-ekstrem yang menganggap Pancasila dan Islam sebagai dua hal yang bertentangan. Perubahan sikap Ba’asyir yang tidak lagi menganggap Pancasila bertentangan dengan Islam ialah sebuah modal penting untuk mengakhiri perdebatan klasik seputar relasi agama dan negara.

Waspada, Radikalisme Masih Ada!

Namun, di sisi lain, kita tidak boleh terlalu optimistik bahwa pernyataan Ba’asyir ini akan menjadi akhir dari gerakan radikalisme-terorisme di Indonesia. Jika dilihat dalam konteks lebih luas dan nalar obyektif, kita harus mengakui bahwa pernyataan Ba’asyir yang menerima Pancasila tidak lantas serta-merta menjadi akhir gerakan radikal-teror di Indonesia. Melihat kecenderungan selama satu dekade terakhir, kelompok radikal-teror di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa dan melahirkan faksi-faksi yang kerapkali justru saling bertentangan, bahkan saling mengkafirkan satu sama lain. Misalnya, para teroris kelas kakap kerapkali menuduh sinis para pelaku bom panci yang menurutnya

Terlebih, pasca hilangnya wilayah kekuasaan ISIS di Irak dan Syuriah. Kelompok teroris di Indonesia cenderung bersifat lone-wolf, tanpa komando, dan acak alias tidak terhubung antara kelompok satu dan lainnya. Fenomena aksi lone-wolf terrorism ini menandai bahwa gerakan radikal-terorisme di Indonesia sebenarnya tidak memiliki satu figur pemimpin utama. Artinya, siapa pun bisa menjalankan aksi teror tanpa mendapatkan perintah dari pemimpin.

Transformasi ideologis Ba’asyir ini tentu patut kita sambut gembira. Bagaimana pun ia ialah seorang tokoh besar, memiliki basis massa yang militant, dan propagandis serta organisatoris ulung. Sikapnya yang menerima Pancasila kiranya akan menginspirasi pengikutnya untuk melakukan hal yang sama. Dampak pernyataan ini diharapkan bisa menjernihkan kerancuan sebagian kalangan dalam memahami relasi agama dan negara atau Pancasila dan Islam.

Namun, di saat yang sama kita tidak boleh lengah. Radikalisme dan terorisme masih akan tetap ada. Kelompok-kelompok kecil dan lone-wolf yang tidak terikat ke organisasi atau jaringan teroris besar masih eksis di negeri ini. Bukan tidak mungkin mereka justru akan berbalik mengkafirkan Ba’asyir yang kini telah pindah haluan. Apalagi, di zaman medsos ini, ideologi anti-Pancasila bisa disebarluaskan melalui kanal-kanal publik dengan mudah tanpa mendompleng ketokohan seseorang.

Facebook Comments