Trilogi Persaudaraan Sebagai Penawar Sikap Intoleran

Trilogi Persaudaraan Sebagai Penawar Sikap Intoleran

- in Suara Kita
574
0
Trilogi Persaudaraan Sebagai Penawar Sikap Intoleran

Peristiwa perusakan Masjid Ahmadiyah di Kalimantan Barat menambah daftar panjang kasus intoleransi di negeri ini. Kejadian tersebut seolah mengaminkan riset Setara Institut yang bertajuk Intoleransi Semasa Pandemi, Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan Di Indonesia Tahun 2020.

Riset tersebut mengatakan bahwa jenis pelanggaran atas kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) yang paling banyak terjadi adalah tindakan intoleransi (Kompas.com). Selain itu, riset tersebut juga  menemukan sebanyak 24 rumah ibadah mengalami gangguan sepanjang 2020. Rinciannya, yakni Masjid (14), Gereja (7), Pura (1), Wihara (1), dan Klenteng (1).

Memang, umat Islam menjadi yang paling banyak mengalami gangguan terkait rumah ibadah. Namun Setara Institut memberi catatan bahwa yang paling banyak mendapatkan gangguan adalah tempat ibadah umat Islam dari mazhab atau golongan yang oleh kelompok pelaku dianggap berbeda dari mainstream. Peristiwa perusakan Masjid Ahmadiyah di Kalimantan Barat, menjadi contoh nyata dari temuan tersebut.

Akar Perilaku Intoleran

Menggunakan terminologinya Gus Sahal, perilaku intoleran adalah sikap anti terhadap pihak yang berbeda, baik itu beda agama maupun beda mazhab. Perilaku ini, jika dibiarkan akan naik tahap menjadi radikal, yakni memusuhi siapa pun yang berbeda. Apabila sudah begitu, tinggal butuh dorongan untuk menjadi teroris, yakni memerangi siapa pun yang berbeda. Proses tersebut memiliki kesinambungan dan bertahap.

Pertanyaannya kemudian, mengapa sebagian saudara kita yang muslim memiliki pandangan keagamaan yang ekstrem? Menolak sekaligus memusuhi yang berbeda. Dengan kata lain enggan menerima perbedaan? Apa akar dari perilaku tersebut?

Gus Dur, dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita menjelaskan fenomena itu. Gus Dur berpendapat bahwa akar dari fenomena tersebut ada dua. Pertama, para penganut Islam keras merasa kecewa atas “ketertinggalan” umat Islam dari Barat dan penetrasi budayanya dengan segala aspeknya. Oleh karena merasa tidak mampu mengejar ketertinggalan itu, mereka kemudian menggunakan cara kekerasan untuk menolak sekaligus menghalangi kemajuan barat beserta ideologi budayanya.

Kedua, lahirnya sikap intoleran yang ekstrem tersebut akibat adanya pendangkalan agama yang menghinggapi kaum muda. Akibat adanya pendangkalan agama, umat Islam terutama generasi mudanya tidak mampu melihat substansi dari ajaran Islam. Mereka hanya mencukupkan diri atau puas dengan sumber tekstual tanpa mempelajari berbagai penafsiran dan pendapat-pendapat hukum yang sudah berjalan berabad-abad lamanya.

Trilogi Persaudaraan

Menjelang Muktamar NU ke-28, Kiai Ahmad Shidiq mengenalkan konsep ukhuwah atau persaudaraan. Konsep tersebut dikenalkan Kiai Ahmad Shidiq sebagai rambu-rambu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsep yang kemudian dikenal dengan nama konsep trilogi ukhuwah tersebut di antaranya adalah;

Pertama, ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam. Persaudaraan ini muncul, tumbuh dan berkembang karena adanya persamaan keimanan atau keagamaan, baik di tingkat nasional ataupun internasional. Persaudaraan ini menjadi modal kuat sebagai fondasi persatuan dan kesatuan umat Islam, khususnya di negeri ini. Dengan adanya konsep persaudaraan ini, perbedaan-perbedaan yang tidak prinsip antar sesama umat Islam, tidak perlu menjadi pemicu perpecahan.

Kedua, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sesama anak bangsa yang lahir, tumbuh dan hidup di NKRI. Rasa persaudaraan ini muncul atas dasar nasionalisme. Jadi siapa pun, beragama apa pun dan dari suku mana pun, akan menjadi saudara se-bangsa dan se-tanah air. Konsep persaudaraan ini, menjadi modal kuat untuk menghadang ideologi transnasional yang hendak mengubah negara bangsa ini menjadi negara berdasarkan agama tertentu.

Ketiga, ukhuwah insaniyah/basyariyyah atau persaudaraan sesama manusia. Rasa persaudaraan ini tumbuh dan berkembang atas dasar rasa kemanusiaan. Seperti yang diungkapkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa mereka yang tidak saudara dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan. Rasa persaudaraan ini akan mengikis sikap kebencian terhadap yang berbeda, karena pada dasarnya kita semua sama, bersaudara dalam kemanusiaan.

Trilogi persaudaraan tersebut akan efektif jika digunakan sebagai penawar sikap-sikap intoleran yang kian berkembang di negeri ini. Kasus perusakan Masjid Ahmadiyah tidak akan terjadi, apabila pelaku memiliki pemahaman tentang konsep trilogi ukhuwah, minimal ukhuwah insaniyah.

Akhirnya, mari kita gaungkan konsep trilogi ukhuwah sebagai penawar sikap-sikap intoleran. Jika perlu, konsep trilogi persaudaraan ini diajarkan di sekolah-sekolah. Agar generasi penerus bangsa ini tahu, bahwa kita tidak hanya bersaudara dengan sesama umat Islam, tapi juga memiliki saudara se-bangsa dan saudara dalam kemanusiaan.

Facebook Comments