Ujaran Kebencian dan Kontestasi Tafsir Kebebasan di Ruang Publik

Ujaran Kebencian dan Kontestasi Tafsir Kebebasan di Ruang Publik

- in Suara Kita
97
0

Jika diamati di ruang publik virtual, ada dua sikap bagaimana kebebasan itu ditafsirkan dan diperlakukan. Pertama, adalah sikap yang menjadikan kebebasan sebagai dalih, tameng, dan alat untuk menyebarkan kebencian, provokasi, intoleransi dan sentimen kelompok. Kelompok inilah  perusak kebebasan.

Kedua, sikap yang menjadikan kebebasan sebagai sarana untuk membangun ikatan persaudaran yang solid, merawat keberagaman, menjaga perbedaan, dan menjadikan kebebasan sebagai sarana mewujudkan kesaling-pahaman dan kesaling-memberdayakan. Kelompok inilah yang disebut sebagai kelompok perawat kebebasan.

Yang terjadi di ruang publik virtual sejatinya adalah kontestasi kedua tafsir ini. Yang pertama menyatakan, atas nama kebebasan, boleh-boleh saja kita melakukan apa saja, termasuk mencaci, memaki, menyebar hoax, serta berbagai bentuk ujarana kebencian lainnya.

Yang kedua menyatakan sebaliknya, demi kebebasan, maka ujaran kebencian harus dihentikan; atas nama kebebasan, provokasi harus dilawan, untuk menjaga kebebasan, hasutan, intoleransi, dan sentiment SARA harus dibersihkan dari rung public virtual.

Di media sosial sendiri, kita bisa melihat, tafsir yang mana yang lebih mencuat ke permukaan (saya menyebutnya mencuat, bukan berarti itu yang paling dominan). Apakah pihak yang merawat kebebasan atau pihak yang merusak kebebasan?

Kebebasan Disalahgunakan

 Nyatanya, kelompok pertamalah yang lebih vokal. Mereka menebar narasi sedemikian bebasnya. Adanya UU ITE bukan jadi penghalang bagi mereka untuk tetap menyebar kebencian. Perang kebencian pun tak terelakkan.

Yang satu memaki, dibalas dengan yang lain dengan makian yang lebih pedas. Pihak ini memcaci, dibalas dengan cacian yang lebih ngeri. Kelompok ini menebar kebencian, disahut kelompok lain dengan ujaran kebencian yang lebih dahsyat. Logika yang dipakai adalah api dibalas dengan api.

Contoh kecilnya adalah ujaran kebencian yang dilakukan oleh Ferdinand Hutahaean.  “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya. Dialah pembelaku selalu, dan Allahku tak perlu dibela,” cuit Ferdinand di Twitter (04/01/2022).

Sontak saja cuitan menjadi viral, menjadi kontroversi dan perdebatan. Tagar #TangkapFerdinand pun menjadi trending di media sosial. Cuitan ini dinilai provokatif dan dianggap melukai agama tertentu. Banyak pihak menyayangkan cuitan ini dan menyarankan agar Ferdinand minta maaf serta menyuruh pihak yang berwajib memproses hukum Ferdinand.

Ferdinand tentu salah. Cuitannya sudah termasuk memprovokasi. Ia sudah melakukan ujaran kebencian.

Akan tetapi, sikap yang disayangkan adalah respons terhadap cuitan ini. Ujaran kebencian Ferdinan  justru dibalas dengan ujaran kebencian yang lebih dahsyat dari itu. Provokasi dibalas dengan provokasi yang lebih ngeri.   

Lihat saja di media sosial begitu banyak hujatan, cacian, provokasi, dan kata-kata yang menjurumus kepada hasutan untuk melakukan tindakan terror. Bahkan, dengan mudah ditemui pernyataan yang menyebut bahwa Ferdinand halal darahnya.

“Darahnya halal, kerena sudah menghinan dan merendahkan Allah. Yang merasa terhina mainkan jari kalian,” tulis seorang warganet (05/01/2022).

Ujaran ini tentu sangat disayangkan. Bagaimana mungkin api bisa dipadamkan dengan api? Marah boleh. Tersinggung silahkan. Tetapi, jangan sampai melakukan hal atau tindakan yang justru lebih buruk, yang itu malah membuat suasana tanpa ruwet.

Tetap pada Koridor

            Kemarahan dan ketersinggungan harus tetap pada koridornya. Jangan melampaui batas. Kalau ujaran kebecian dibalas dengan ujaran kebencian, apa bedanya kita dengan Ferdinand.

Saya teringat ucapan guru saya, “Jika Wahabi mengkafirkan amalaiyah kita, tak perlu dibalas dengan mengkafirkan balik mereka. Kalau kita balik mengkafirkan mereka, apa bedanya kita dengan mereka?”

            Oleh sebab itu, kita oleh marah, emosi, tersinggung, sebab itu adalah hak. Tetapi menggunakan cara-cara yang kontra-produktif, agitasi, dan pernyataan destruktif, bukan menyelesaikan masalah, malah tambah bikin masalah baru.

            Kenapa media sosial riuh jika ada kasus seperti ini. Sebab, sekali lagi, kita tak bisa menahan emosi. Kita hanyut dalam amarah yang membuncah. Akibatnya, media sosial riuh dengan ujaran kebencian: cacian, makian, umpatan dan sumpah serapah.

            Dalam kondisi seperti ini, kontrol emosi sangat diperlukan. Ketenangan dan kejernihan membaca situasi sangat dibutuhkan. Upaya memperkeruh suasana dengan cara-cara provokasi harus dihindari. Mengutamakan kedamaian harus diutamakan.

Tidak Sebebas-bebasnya

            Yang perlu diambil pelajaran dari kasus di atas adalah, ternyata kebebasan itu bukan bebas sebeba-bebas. Meskipun semua orang punya kebebasan, ia dibatasi dengan kebebasan orang lain yang juga sama memiliki kebebasan.

Kita boleh mengekspresikan apa yang ada di benak kita di media sosial. Kita punya hak untuk membuatan cuitan apa yang ada dalam pikiran kita. Tetapi harus diingat, bahwa itu semua harus dipertimbangkan, apakah melanggar hak orang lain, melukai perasaan pihak lain, atau menabrak kebebasan manusia yang lain.

Jika melanggar, melukai, dan menabrak, maka kebabasan itu sudah mentok, sudah sampai di batas dan hanya sampai di situ.

Pemahaman yang seperti ini yang kurang di media sosial. Yang ada justru memperturut ego masing-masing. Tak mengindahkan kaidah dan etika bersosial media.

Facebook Comments