Ulama dalam Pusaran Terorisme; Antara Tuduhan Kriminalisasi dan Pentingnya Edukasi

Ulama dalam Pusaran Terorisme; Antara Tuduhan Kriminalisasi dan Pentingnya Edukasi

- in Suara Kita
891
0
Ulama dalam Pusaran Terorisme; Antara Tuduhan Kriminalisasi dan Pentingnya Edukasi

Terungkapnya beberapa tokoh agama (ulama) yang terlibat jaringan terorisme, seperti ramai diwartakan media massa pekan lalu membuktikan setidaknya dua hal. Pertama, tidak ada individu, kelompok, maupun lembaga yang steril dari potensi terpapar paham radikal di negeri ini. Fakta ini harus kita akui. Beberapa riset dan survei terdahulu telah menemukan fakta bahwa nyaris seluruh institusi sosial masyarakat, seperti lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, bahkan institusi pemerintah telah disusupi gerakan dan paham radikal-terorisme.

Kedua, paham radikal-terorisme telah mengalami semacam transformasi dari segi gerakan. Yakni mereka tidak lagi hanya fokus pada upaya indoktrinasi, pengkaderan, dan perekrutan anggota baru. Namun, mereka mulai bergerak lebih jauh yakni “menguasai” lembaga keagamaan yang notabene memiliki posisi strategis dalam masyarakat. Terutama dalam pengambilan keputusan hukum atau dalam memberikan fatwa-fatwa keagamaan. Fenomena yang terakhir ini tentu patut diwaspadai.

Jatuhnya lembaga-lembaga sosial-keagamaan dan keulamaan di bawah kendali hegemonik kaum radikal-teroris ialah ancaman serius. Fenomena ini idealnya dipahami sebagai semacam warning alarm bahwa infiltrasi paham radikal-terorisme sudah sedemikian mengkhawatirkan. Bisa dibayangkan jika lembaga keagamaan dan keulamaan yang selama ini mejadi rujukan umat justru disusupi oleh anasir radikalisme-terorisme.

Waspada Revolusi Senyap Kaum Radikal

Infiltrasi gerakan radikal di lembaga keagamaan atau keulamaan tentu harus dipahami sebagai bagian dari skenario besar kaum radikal-teroris dalam merobohkan bangsa dari dalam. Dalam leksikon ilmu sosial-politik, fenomena ini kerap disebut sebagai silent revolution alias revolusi senyap. Yakni proses pengambil-alihan kekuasaan politik dengan cara-cara halus, yakni menyusup ke lembaga-lembaga stratregis, termasuk institusi keagamaan dan keulamaan.

Penyusupan gerakan radikal-teroris ke lembaga keulamaan dan keagamaan ini tentu bukan hal kebetulan. Melainkan sudah didesain dan dirancang sedemikian rupa. Seperti kita tahu, dalam struktur masyarakat Indonesia yang relijius, agama dan ulama berikus institusinya memiliki peran strategis. Ulama, tidak hanya dipandang sebagai ahli agama dan sumber referensi keagamaan. Lebih dari itu, ulama ialah panutan (role-model), pembuat opini (opinion maker), sekaligus agen mobilisator publik atawa umat. Dengan modal intelektual, sosial, dan kultural yang dimilikinya ulama merupakan aktor dan agregator perubahan sosial yang mumpuni. Meguasai ulama dan lembaga keulamaan dengan demikian akan sangat menguntungkan bagi gerakan radikal-terorisme.

Dalam teori gerakan sosial-politik, menguasai lembaga-lembaga straegis akan memudahkan terwujudnya tujuan atau agenda sebuah gerakan. Demikian pula halnya dengan gerakan radikal-terorisme. Sebagai sebuah gerakan, mereka tidak hanya membutuhkan ideologi dan anggota. Lebih dari itu, mereka membutuhkan semacam supporting system yang menyokong gerakan mereka. Penyusupan ke lembaga keagamaan dan keulamaan yang belakangan gencar dilakukan kelompok radikal-teroris pada dasarnya merupakan upaya menciptakan jejaring supporting system tersebut.

Pentingnya Mengedukasi Umat

Di titik inilah pentingnya kita (masyarakat dan pemerintah) untuk melakukan dua hal secara beriringan. Di satu sisi, kita perlu menyelamatkan ulama dan lembaga keulamaan dari infiltrasi paham radikal. Pendekatan hukum secara tegas terhadap oknum-oknum ulama yang menunggangi lembaga keulamaan untuk menyokong radikalisme-terorisme patut diapresiasi dan didukung. Penangkapan ulama yang terlibat jaringan terorisme kiranya tidak dimaknai sebagai bentuk kriminalisasi. Melainkan upaya hukum untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku sekaligus pelajaran bagi ulama-ulama lain agar tidak bertindak hal serupa.

Di sisi lain, kita perlu memberikan edukasi alias pencerahan pada umat. Umat harus memiliki kepekaan dan kecerdasan untuk mengidentifikasi mana ulama yang benar-benar berjuang atas nama agama dan mana ulama yang menjadikan agama sebagai alat meraih kekuasaan. Tidak semua yang mumpuni dalam ilmu agama dan berpenampilan relijius layak menyandang gelar ulama. Gelar ulama layak disandang mereka yang tidak hanya mumpuni dalam ilmu agama, namun berkontribusi pada umat, dan bisa menjadi teladan bagi kehidupan beragama, bernegara, dan berbangsa.

Jadi, alih-alih fokus pada isu kriminalisasi ulama yang potensial menimbulkan polemik, idealnya kita fokus pada upaya mengedukasi umat. Kita harus membangun kesadaran bahwa terorisme ialah musuh agama dan negara. Perang melawan terorisme tidak ada kaitannya dengan sentimen anti atai fobia pada agama tertentu. Dimana anasir radikalisme dan terorisme eksis, termasuk di lembaga keagamaan atau keulamaan tentu harus diberangus. Tentu bukan lembaganya yang dibinasakan, namun oknum di dalamnya yang wajib dibina.

Facebook Comments