Ulama dan Jebakan-Jebakan Religiositas

Ulama dan Jebakan-Jebakan Religiositas

- in Suara Kita
708
0
Ulama dan Jebakan-Jebakan Religiositas

Dalam spiritualitas Jawa berlaku sebuah pepali bahwa hijab teragung manusia adalah justru tangga yang digunakannya untuk meraih apa yang diinginkan. Konon, banyak orang yang kandheg karena terlalu meributkan tangga itu: terbuat dari apa ia dan siapa yang membuatnya. Padahal, tangga itu bukanlah satu-satunya media yang dapat digunakan untuk beranjak naik. Masih ada pohon, tambang, dan segala sesuatu yang dapat dijadikan sarana untuk meraih tujuan.

Dalam khazanah budaya Jawa, pada dasarnya Syekh Siti Jenar adalah seorang sufi Nusantara yang memiliki pendekatan terbalik pada para pengikutnya. Dalam Serat Centhini, pendekatan keislaman Siti Jenar itu diistilahkan sebagai pendekatan waringin sungsang atau beringin terbalik. Seandainya para walisanga minus Sunan Kalijaga beranjak dari ranting, dahan, dan batang untuk mencapai bijinya, Siti Jenar justru beranjak dari biji untuk kemudian beranjak ke batang, dahan, dan ranting.

Kelebihan dan kekurangan pendekatan dari ranting ke biji, atau pendekatan ala tangga di atas, biasanya akan mengantarkan seseorang ke sebuah kesemrawutan, keterbolak-balikan, tumpang suh laiknya bentuk ranting yang tak terstruktur. Maka, tak jarang banyak orang yang kemudian kandheg sebelum meraih biji hanya karena terlalu sibuk pada ranting sebuah pohon yang memang ruwet karena banyaknya konteks yang mengitarinya.

Dengan demikian, justru pada titik inilah terkadang agama sebagai sebuah sarana dapat menjadi hijab yang paling lembut dan sukar untuk disingkap. Kesombongan akan keluhuran dan kesucian agama, dengan merendahkan sarana-sarana lainnya, konon justru dapat mengantarkannya pada status paling rendah di antara hal-hal yang dianggapnya rendahan.

Kasus seorang ulama dari MUI yang diduga terlibat dengan radikalisme-terorisme yang mencuat beberapa waktu yang lalu adalah sebuah bukti bahwa agama dengan segala atribut yang dibawanya ternyata tak selamanya identik dengan keluhuran dan kesucian. Radikalisme dan terorisme jelas adalah sebuah kejahatan yang tak lebih rendah daripada maling ataupun judi.

Dari kasus itu menjadi dapat dipahami kenapa moderatisasi agama perlu dijadikan sebuah agenda tersendiri mengingat problem radikalisme-terorisme yang bertudung agama tak dapat dilepaskan dari agama itu sendiri. Dalam Serat Wulangreh terungkap bahwa ternyata keadaan seorang murid ditentukan oleh keadaan gurunya. Seandanyai gurunya adalah seorang yang radikal, maka besar kemungkinannya muridnya itu adalah seorang teroris (Moderatisme Beragama dalam Kacamata Sufisme Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id). Dan tak ketinggalan, Serat Wedhatama pun menyatakan bahwa hijab teragung dalam kehidupan beragama dan berspiritualitas pada akhirnya adalah diri sendiri.

Pamete saka luyut

Sarwa sareh saliring panganyut

Lamun yitna kayitnan kang miyatani

Tarlen mung pribadinipun

Kang katon tinonton kono

Nging aywa salah surup

Kono ana sajatining urup

Yeku urup pangarep uriping budi

Sumirat serat narawungKadya kartika katongton.

Facebook Comments