Ummatan Washatan : Kontruksi Moderasi sebagai Jalan Toleransi

Ummatan Washatan : Kontruksi Moderasi sebagai Jalan Toleransi

- in Suara Kita
484
0
Ummatan Washatan : Kontruksi Moderasi sebagai Jalan Toleransi

Mencanangkan tahun 2022 sebagai tahun toleransi bukanlah agenda baru, apalagi harus dipersoalkan. Bagi umat Islam yang tidak dangkal pemahaman keagamaannya, toleransi bukan sesuatu yang aneh, apalagi dipersoalkan. Toleransi adalah buah manis dari prinsip ajaran Islam, yaitu beragama secara moderat. Sementara intoleransi yang merupakan antonim toleransi adalah buah pahit bagi mereka yang berada di ruang ejawantah yang dangkal tentang agama. Dengan kata lain intoleransi bukan ajaran agama dan dilarang.

Intoleransi dinilai sebagai sikap buruk atau akhlak tercela karena berakibat pada pengangkangan ajaran agama. Berawal dari intoleransi kemudian tumbuh sikap keagamaan yang ekstrem, lalu menjadi teroris. Intoleransi menjadi titik awal dari terorisme. Intoleransi sumber terorisme. Karena itu, agama Islam sangat menekankan kepada umatnya untuk beragama secara moderat. Tidak ada cara selain moderasi beragama untuk mencapai dan membumikan cita-cita rahmatan lil’alamin.

Tipikal beragama secara moderat bisa ditemukan dalam kelompok muslim aliran Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja). Tidak menafikan yang lain, karena kenyataannya paham Aswaja yang paling dominan menampilkan sikap keagamaan yang moderat dan sikap toleransi.

Pernyataan ini bukan mengada-ada dan tanpa dasar. Muhammad Ba Karim Muhammad Ba Abdullah dalam disertasinya berjudul “Wasathiyatu Ahlussunah bainal Firaq” membuktikannya.

Pernyataan beliau, “Moderasi beragama Aswaja pada hakikatnya merupakan penjelmaan dari prinsip-prinsip moderasi yang diajarkan oleh agama Islam”.

Kelompok Aswaja adalah penjelmaan dari istilah al Qur’an “Ummatan Washatan”, konstruksi umat yang menerapkan sikap moderatisme secara sempurna. Wujudnya adalah terbentuknya umat Islam menjadi “Khairu Ummah”, umat terbaik yang pernah ada di muka bumi (al Baqarah: 143). Al Qur’an tegas mengatakan umat Islam adalah umat terbaik.

Pertanyaannya, umat Islam yang mana yang layak digelari sebagai umat terbaik?

Jawabannya mudah dan jelas. Khairu ummah adalah ummatan washatan, umat Islam yang moderat dan toleran. Sikap ini dimiliki oleh umat Islam yang beragama mengikuti Nabi, sahabat, tabi’in, pengikut tabi’in dan ulama salafusshaleh. Generasi umat Islam awal pada zaman Nabi dan para sahabat disepakati sebagai umat terbaik yang disebut oleh al Qur’an. Karenanya, umat Islam yang masuk kategori khairu ummah adalah mereka yang mengikuti jejak mereka. Dan, mereka adalah kelompok Aswaja.

Hari ini, umat Islam yang merefleksikan sikap keagamaan seperti muslim era awal tidak sulit dicari. Yaitu, mereka yang selalu mengkampanyekan moderasi, toleransi dan kedamaian. Membebaskan manusia dari segala keterbelengguan; keagamaan, politik dan ekonomi.

Tetap berdakwah (amar ma’ruf nahi mungkar) tetapi dengan cara-cara yang hikmah dan bijaksana. Penyampai bukan memvonis. Tidak memaksa seseorang untuk menganut Islam, tidak memurtadkan atau membid’ahkan, dan juga tidak mengkafirkan madhab lain.

Memiliki paham keagamaan yang mengakui setiap individu memiliki kedudukan yang sama di hadapan manusia yang lain. Islam mengajarkan untuk menghormati semua individu tanpa memandang agama, suku ras dan sebagainya. Persekusi, peminggiran hak, intimidasi, dan teror terhadap manusia lain adalah dosa besar.

Aswaja sebagai cerminan ummatan washatan dan khairu ummah mengedepankan sikap keagamaan yang moderat (wasathiyah), toleran (tasamuh), dan seimbang (tawazun). Karena itu, apabila ada sekelompok umat Islam yang memandang terorisme sebagai jihad, memiliki sikap keagamaan yang radikal, intoleran dan ekstrem jelas telah jauh menyimpang dari ajaran Aswaja. Mereka bukan umat terbaik, bahkan disangsikan identitas keagamaannya.

Facebook Comments