Utopia Khilafah; Ajaran, Pengajian atau Kekuasaan?

Utopia Khilafah; Ajaran, Pengajian atau Kekuasaan?

- in Suara Kita
189
2
Utopia Khilafah; Ajaran, Pengajian atau Kekuasaan?

Perbincangan tentang khilafah menjadi hangat kembali setelah beredarnya video pawai Khilafatul Muslimin di Brebes (Jawa Tengah) dan Cawang (Jakarta Timur). Sambil berkonvoi mereka menyebarkan selebaran propaganda tentang Khilafatul Muslimin dan dengan segala atribut untuk mengkampanyekan tegaknya sistem khilafah sebagai solusi umat.

Namun, setelah menjadi berita hangat dan berbagai kalangan merespon sebagai aktivitas negatif, kelompok Khilafatul Muslimin membantah bahwa mereka tidak berniat mendirikan negara, apalagi merebut kekuasaan. Yang mereka lakukan adalah upaya menyatukan umat Islam dalam satu wadah khilafah untuk ibadah. Ibadah dalam rangka menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Tetapi, khilafah itu kan institusi politik, bukan agama? Lalu, kenapa pula harus beribadah dengan cara penggalangan kekuatan dan pengumpulan massa dan berkonvoi? Kalau bukan politik, lalu apa?

Tak bisa dipungkiri, segala gerakan untuk berdirinya sistem khilafah bukan murni untuk kepentingan agama, tapi untuk politik dan kekuasaan. Pendukung khilafah, seperti Khilafatul Muslimin, hanya lihai berlindung dibalik agama dan kebebasan berekspresi untuk memuluskan kampanye dan propaganda khilafah. Berkilah seperti apapun, pawai itu tujuannya kesana.

Apakah Khilafah ajaran Islam?

Kelompok pro khilafah dengan sangat percaya diri mendalihkan bahwa gerakan yang mereka usung merupakan perintah agama yang diabaikan oleh mayoritas umat Islam. Padahal, alasan itu tak lebih sebagai jargon teologis kosong untuk memperdaya umat. Mereka, untuk meraih dukungan dan keinginan politis melabeli segala usahanya dengan “kemasan agama”.

Tidak ada bukti autentik dan dalil sharih (jelasa) yang mengatakan khilafah adalah satu-satunya sistem bernegara. Tidak ada pula ketegasan para ulama yang mengatakan khilafah solusi umat dan solusi segala kerunyaman. Bahkan, Imam Nawawi tidak mewajibkan sistem khilafah.

Seperti telah maklum, khilafah sebagai sistem politik baru ada pasca meninggalnya Nabi. Kalau kita mencari dalil tentang kewajiban untuk memberlakukan sistem khilafah, maka dalam dua sumber dalil primer dalam Islam yaitu al Qur’an dan hadits tidak akan diketemukan. Karenanya, sistem khilafah yang dipilih oleh para sahabat Nabi tak lebih sebagai hasil kreativitas ijtihad mereka. Karena ijtihad, maka ia merupakan sarana yang dipilih karena dianggap paling cocok pada saat itu.

Sifat ijtihad yang lain adalah bisa berubah apabila mendapati situasi dan kondisi yang berbeda. Karena itu, selain Imam Nawawi yang tegas mengatakan khilafah bukan satu-satunya sistem politik yang dikehendaki oleh Islam, cendikiawan muslim M. Sa’id al Asymawi menyatakan bahwa khilafah bukan bagian dari rukun iman, bukan pula bagian dari syariat Islam. Khilafah hanya bagian dari sejarah Islam karena pernah dipraktikkan dalam sejarah perjalanan politik umat Islam. Maka, menjalankan sistem politik berdasarkan khilafah bukan kewajiban.

Karena bukan bagian dari Islam yang hakiki, maka menegakkannya boleh saja, misalnya di negara yang seratus persen beragama Islam. Tapi di negara yang multikultur seperti di Indonesia boleh saja memakai sistem politik dan pemerintahan yang bukan khilafah. Dengan demikian, khilafah adalah sarana (wasilah), bukan tujuan (maqashid). Karena itu, bentuknya bisa apa saja yang penting tidak bertentangan nilai-nilai ajaran Islam.

Lagi pula, khilafah sangat berpotensi menyebabkan mudharat bagi keagungan agama Islam sendiri. Yakni, tatkala akidah dibelenggu oleh politik dengan jargon teologis kosong, dan syariat dicampur baur dengan persoalan politik praktis. Kalau sudah begini pasti terjadi pengkaburan dalil. Dalil yang dipakai benar tapi salah menempatkannya. Seperti kata Sayyidina Ali: “Dalilnya benar, tapi digunakan untuk kebatilan”. Kalimatul Haq Yurodu bihil Bathil.

Khilafah Hanya Dakwah dan Pengajian?

Dakwah, seperti disampaikan oleh Nabi kemudian ditiru oleh para ulama salaf dilakukan dengan bijaksana, tidak memaksa, dan tidak dengan cara kekerasan. Dakwah itu merangkul bukan memukul, mengajak bukan menginjak, dan menyampaikan kebenaran bukan membuat keonaran.

Faktanya, apa yang diklaim oleh pengkhotbah khalifah seperti yang baru-baru ini disampaikan oleh Khilafatul Muslimin yang sedang ramai diperbincangkan, bahwa apa yang mereka lakukan tak lebih syiar, pengajian dan sebagainya sangat kontras dengan wajah aslinya.

Faktanya, selama ini kelompok pro khilafah mengahdirkan wajah Islam adalah Islam politik yang penuh kebengisan, kekerasan, keonaran dan pemaksaan. Suatu tindakan yang justru memperburuk citra dan keagungan Islam itu sendiri.

Kalau alasan kenapa ngotot dengan sistem khilafah adalah untuk membumikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tapi kenapa harus membuat gaduh dengan aksi-aksi seperti konvoi sambil membawa bendera khilafahnya yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan karena tujuan sebenarnya sudah bisa ditebak?

Kalau ingin membumikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukankah Islam itu sendiri pada hakikatnya keadilan, toleransi, moderat, kebebasan, kesetaraan dan kasih sayang?

Yang tidak disadari oleh kelompok pendukung khilafah dengan segala jenis dan namanya adalah, sistem khilafah hanya merupakan konsep hasil kreativitas ijtihad para sahabat dan ulama pada waktu itu. Karena konsep hasil ijtihad, maka ia bukan keniscayaan. Ia hanya kulit dan bukan isi. Karenanya, bisa berubah nama dan bentuk senyampang mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam.

Di negara yang multikultural seperti di Indonesia, meniscayakan sistem khilafah sama dengan bermimpi di siang bolong. Ini, karena Pancasila dan UUD 45 telah mencerminkan nilai-nilai agama sekaligus kemanusiaan. Sederhananya, ideologi Pancasila dan UUD 45 sama sekali tidak bertentangan dengan hukum Islam, bahkan menampilkan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Keduanya juga sangat menghormati kemanusiaan. Segala perbedaan sebagai sunnatullah dibingkai dengan baik supaya keharmonisan dan persatuan tetap terjaga.

Maka, kalau masih mungkin, tugas kita sebagai umat Islam yang masih bisa berpikir logis tentang agama adalah mengetuk kesadaran para pengasong khilafah supaya berhenti dan sadar serta tidak melanjutkan “cita-cita buruk” mendirikan khilafah. Mengusung khilafah pada masa kini tak ubahnya mengerjakan proyek gagal dan tumbangnya moral Islam. Yakinlah, khilafah yang kalian usung adalah kekhilafan. Khilafah yang kalian perjuangkan dalam perspektif teologis dan ijtihadiyah, tidak ada hubungannya dan tidak paralel dengan Khilafah Nubuwah yang dijanjikan Rasulullah.

Facebook Comments