Walisongo dan Agama Tontonan

Walisongo dan Agama Tontonan

- in Suara Kita
268
0
Walisongo dan Agama Tontonan

Dalam banyak cerita, di antaranya dalam Serat Babad Demak, Serat Musyawaratanipun Para Wali, dan Serat Seh Sitijenar karya R.P. Natarata, yang terkenal dengan nama pena R. Sasrawijaya, telah lama disajikan tentang adanya perbedaan, pertentangan, dan bahkan penyingkiran sesama anggota Walisongo yang dilakukan di masjid. Dengan kata lain, pada masa kerajaan Demak itu masjid tak semata berfungsi sebagai rumah ibadah, namun juga sebagai tempat sarasehan atau diskusi, perdebatan, persidangan, hingga bahkan pemvonisan sebagaimana yang dialami oleh Siti Jenar.

Memang adalah sebuah anakronisme dalam sejarah ketika menyimpulkan bahwa ketika zaman Walisongo itu sudah terdapat perbedaan pandangan antara penganut Islam moderat dengan Islam radikal, Islam kultural dengan Islam struktural, Islam substansial dengan Islam formal. Namun satu hal yang pasti, Sunan Kalijaga dengan segala gaya dan kiprahnya menyingkapkan bahwa Islam yang bercorak moderat, kultural, substansial, dan bahkan yang bercorak auchthonous itu,benar-benar ada.

Dalam banyak kisah Kalijaga pun mesti berbenturan dengan para wali lainnya terkait dengan pandangan dan pendekatan keislamannya. Dan dalam banyak kisah itu masjid adalah sebuah ruang yang digunakan keduabelah pihak yang berbeda untuk saling mempertanyakan dan mengklarifikasi, dan bahkan pada kisah Siti Jenar, adalah juga sebuah ruang untuk menyingkirkannya.

Saya tak mengatakan bahwa pada masa itu Sunan Giri yang menghukumi bahwa wayang dan kemenyan adalah sebentuk bid’ah yang bernilai haram sebagai representasi Islam radikal dan formal, sementara Kalijaga yang mengakomodasi itu semua merepresentasikan Islam moderat dan substansial. Saya tak hendak pula mengatakan bahwa pertentangan antara Islam wektu lima di Lombok, yang konon dianut para pengikut Sunan Giri, dengan Islam wektu telu, yang konon dianut oleh para pengikut Kalijaga, adalah sebentuk pertentangan antara Islam transnasional dan Islam auchthonous. Namun dalam kasus ini, satu hal yang menarik, ketika ditautkan pada konteks kini dimana tengah ramai orang mempertanyakan dipakainya rumah ibadah sebagai ruang untuk menyebarkan secara bebas narasi-narasi yang ditengarai “radikal,” adalah dipakainya masjid untuk melakukan hal itu sekaligus melakukan kontra-narasinya yang sudah barang tentu sama-sama getolnya.

Dalam hal ini saya tak hendak mendukung ataupun menolak narasi-narasi yang ditengarai “radikal” atau sebaliknya yang berkumandang di masjid atau rumah-rumah ibadah lainnya. Namun sejarah Walisongo cukup membuktikan bahwa apa yang menjadi kekhawatiran banyak orang di hari ini ternyata sudah berlangsung sejak dahulu kala. Meskipun, perbedaannya, ketika di hari ini perdebatan itu dilakukan pihak-pihak yang berselisih di ruang yang berbeda, dengan hanya bermediakan media-media sosial, sementara pada masa Walisongo perdebatan itu dilakukan pada ruang yang sama dimana pihak-pihak yang berselisih saling bertatapmuka secara langsung sampai tercapainya sebuah kesepakatan. Dengan hal ini, dapat dimengerti kenapa pandangan Kalijaga misalnya, dapat lestari hinga kini dengan adanya kesepakatan-kesepakatan dengan wali-wali lainnya.

Dari tilikan sejarah itu, maka orang pun dapat berpikirulang tentang kehidupan beragama di Indonesia masa kini yang menyangkut dengan narasi-narasi yang ditengarai “radikal” yang cukup murah diumbar di ruang-ruang publik. Dengan berkaca pada kisah Walisongo, ternyata kesepakatan-kesepakatan atas hal-hal yang dianggap berbeda dan bertentangan dapat langsung tertolak atau justru terjembatani ketika pihak-pihak yang berselisih saling bertatapmuka secara langsung tanpa bermediasikan media-media sosial seperti yang terjadi selama ini. Lumrah serangan atau respon atas perbedaan dan pertentangan di antara pihak-pihak yang berselisih berkategori telat hingga, seumpamanya, sebuah fitnah telah berhasil menjadi sebuah kebenaran.

Bukti bahwa hingga detik ini apa yang ditengarai “radikal,” meskipun pihak pemerintah sudah sepreventif dan setegas mungkin menanganinya, masih cukup murah ditemui di ruang-ruang publik, adalah petunjuk tentang perlunya menyediakan sebuah ruang untuk memfasilitasi perdebatan publik secara langsung. Maka, dalam hal ini, pemerintah selaku pihak yang bebas dari kategori bid’ah dan tak bid’ah mesti memfasilitasi perdebatan antara pihak-pihak yang berselisih itu. Di sinilah, ketika hal ini dapat difasilitasi, akan benar-benar tampak yang mana orang yang benar-benar ahli dalam bidang agama yang patut untuk didengarkan atau sekedar “badut gorengan” yang di ciptakan untuk kepentingan politis tertentu. Jangan-jangan murah dan maraknya radikalisme di hari ini bukan karena orang benar-benar teryakinkan oleh hujah-hujahnya, namun ibarat menonton sinetron, orang itu sudah muak melihat kelanjutannya sehingga tertinggallah ia akan kisahnya yang diam-diam masih dilangsungkan.

Facebook Comments