Waspada Ghuluw, Waspadai Radikalisme!

Waspada Ghuluw, Waspadai Radikalisme!

- in Suara Kita
570
0
Waspada Ghuluw, Waspadai Radikalisme!

“Wahai ahli kitab, janganlah melakukan ghuluw (melampuai batas) menyangkut keberagamaan kamu. Jangan berucap/percaya menyangkut Allah kecuali yang hak.” (QS an-Nisa:59)

Ghuluw merupakan sikap melampaui batas atau berlebih-lebihan dalam beragama. Nabi bersabda: “Wahai manusia, jauhilah ghuluw dalam agama karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama.” (HR Ibnu Majah).

Perlu dipahami, ekspresi ekstrimisme dan radikalisme yang marak terjadi baik di jagat maya maupun dunia nyata belakangan ini umumnya berkait erat dengan sikap berlebihan atau mabuk agama. Sungguh, sikap ghuluw yang selanjutnya bermuara pada tindakan ekstrimis dan teror inilah yang menghancurkan umat Islam. Lihat saja Suriah. Oleh sebab dikuasai oleh kalangan ekstrimis, perang terjadi secara terus-menerus dan rakyat disana tidak pernah merasakan kehidupan yang nyaman dan tentram. Baru-baru ini, Afganistan yang kini sedang dikuasai oleh Taliban juga terindikasi mengekang kebebasan perempuan untuk berprestasi di ranah publik. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa ketika kaum ghuluw berkuasa, niscaya negara akan menjadi radikal dan jumud terbelakang sementara negara-negara lain berbondong-bondong untuk bersaing menjadi negara maju.

Sikap ghuluw yang telah menghancurkan umat Islam, menurut KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), sebenarnya muncul dari umat Islam yang ilmunya kurang. Gus Baha mencontohkan Ibnu Muljam, seorang pembunuh Ali bin Abi Thalib, keponakan Nabi Muhammad yang sekaligus pernah menjabat sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin. Semasa hidup, Ibnu Muljam dikenal sebagai orang yang taat dalam beribadah, shalat, puasa dan bahkan hafal Al-Qur’an. Tetapi memang pemahaman terhadap keislaman kurang, diibaratkan bacaan Qur’an-nya tidak masuk kecuali sampai batas kerongkongannya. Karena itu, Ibnu Muljam berani membunuh sahabat Ali yang bahkan termasuk golongan yang telah dijamin masuk surga.

Fenomena Ibnu Muljam ini, menurut Gus Baha, bisa terjadi pada siapa saja umat Islam yang pemahamannya kurang. Sebagaimana Ibnu Muljam yang taat ibadah, awalnya merasa “paling suci” dari pada orang lain. Lambat laun orang tersebut berani menuduh orang lain yang berbeda dengannya sebagai kaum yang salah. Kemudian ia mulai berani menvonis orang lain. Dan ujungnya ia bisa berbuat ekstrim kepada orang yang dipandang buruk. Ia merasa bahwa dirinya adalah “representasi Tuhan” yang berhak menghakimi orang lain. Dalam posisi inilah ia sebenarnya sedang “membajak agama” untuk kepentingan nafsunya sendiri (Fatkhul Anas, 2019).

Oleh sebab bahayanya sikap ghuluw tersebut, maka kita harus mewaspadai dan membentengi diri dari sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Mengingat, kehadiran sikap ghuluw ini berpotensi membuat seseorang melegalkan kekerasan kepada orang yang dianggap berbeda dengannya. Hal yang pertama perlu dilakukan agar terhindar dari kondisi ini adalah memperdalam dan memperluas pengetahuan agama Islam. Semakin dalam dan luas pengetahuan seseorang, ia akan emmahami bahwa semakin bermacam-macam pula pemikiran manusia. Hanya saja, hal tersebut harus bersumber guru-guru yang kredibel dan sumber-sumber bacaan yang mu’tamad (dapat dipertanggungjawabkan).

Selanjutnya, perlu juga diperkukuh lagi dengan menerapkan sikap-sikap Islam toleran. Islam toleran adalah praktik beragama Islam yang menghormati keberagaman dan keberbedaan, sebaliknya Islam intoleran adalah praktik beragama yang suka menyalahkan orang yang berbeda, mengkafirkan dan bahkan membunuh orang yang dianggapnya buruk.

Islam yang lurus dan toleran inilah, yang oleh KH Mustofa Bisri (Gus Mus) disebut sebagai Islam yang mudah untuk diamalkan. Bukan Islam yang mempersulit orang, apalagi berlebih-lebihan (ghuluw). Ringkasnya, Islam yang mengajarkan manusia untuk saling menghormati perbedaan, tolong-menolong dan memberi keselamatan, bukan malah menghancurkan apalagi membunuh sesama saudara satu agama dan bangsa. Wallahu A’lam bish-shawaab.

Facebook Comments