Waspada Labelisasi Syiah Sebagai Upaya Menggembosi Agenda Moderasi Beragama

Waspada Labelisasi Syiah Sebagai Upaya Menggembosi Agenda Moderasi Beragama

- in Narasi
230
0
Waspada Labelisasi Syiah Sebagai Upaya Menggembosi Agenda Moderasi Beragama

Propaganda anti-Syiah tidak pernah surut di negeri ini. Belakangan, Habib Husein Ja’far al Hadar ditolak berceramah karena dituding Syiah. Ditarik ke belakang, tudingan Syiah juga dialamatkan pada sejumlah tokoh. Mulai dari Quraisy Shihab sampai Said Aqil Siradj.  

Isu Sunni dan Syiah menjadi perdebatan klasik yang tidak pernah ada ujungnya. Ditinjau dari sejarahnya, Sunni dan Syiah ini lahir karena perbedaan pandangan dalam menentukan siapa pemimpin yang menggantikan Nabi Muhammad. Di satu sisi, ada kelompok yang menyetujui pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah. Namun, sebagian kelompok meyakini bahwa yang paling berhak ialah Ali. Kelompok inilah yang menjadi cikal-bakal aliran Syiah.

Dalam perkembangannya, isu Sunni dan Syiah dikomodifikasi kelompok tertentu untuk mengadu-domba umat Islam. Selama berabad-abad, Syiah difitnah sebagai sesat dan kafir. Padahal dalam Risalah Amman, Syiah diakui sebagai satu dari delapan mazhab dalam Islam. Risalah itu ditandatangani oleh 500 ulama dari 50 negara, termasuk Indonesia.

Wakil dari Indonesia kala itu ialah Maftuh Basuni (Kemenag), Din Syamsudin (Muhammadiyah), dan Hasyim Muzadi (Nahdlatul Ulama). Pengakuan Syiah adalah bagian dari delapan mazhab yang diakui Islam adalah bukti bahwa secara akidah mereka tidak menyimpang. 

Skenario Tersembunyi di Balik Propaganda Anti-Syiah

Meski demikian, praktik anti-Syiah terus saja terjadi. Tampaknya ada skenario dan agenda khusus yang ingin memecah-belah umat dengan mengeksploitasi isu Sunni-Syiah. Dalam konteks Indonesia kita melihat sentimen kebencian terhadap Syiah terutama tudingan terhadap para tokoh ulama, dai dan intelektual sebagai agenda tersembunyi untuk menggembosi agenda moderasi beragama. Indikasinya tampak pada sejumlah hal.

Antara lain, labelisasi Syiah selalu menyasar tokoh Islam yang berpandangan moderat. Quraish Shihab misalnya difitnah sebagai pengikut Syiah karena kerap menunjukkan rasa cintanya pada Ahlul Bait. Padahal, sejatinya tudingan Syiah terhadap Quraish Shihab ini dilayangkan oleh kaum konservatif lantaran pemikiran keislamannya yang moderat.

Seperti kita tahu, Quraish Shihab kerap menyebarkan pesan keislaman yang toleran dan adaptif pada nilai nasionalisme. Ia dikenal sebagai mufassir yang memahami ayat-ayat Alquran secara kontekstual. Ia juga selalu mengutuk keras perilaku beragama yang ekstrem dan radikal. Pendek kata, ia adalah musuh bagi kaum konservatif. Tidak mengherankan jika kelompok konservatif selalu berusaha menjatuhkan reputasinya termasuk dengan menuduhnya sebagai penganut Syiah.

Hal yang sama terjadi pada KH. Said Aqil Siradj, mantan Ketua PBNU. Pakar hadist dan filsafat ini juga diterpa fitnah sebagai penganut Syiah. Sama halnya dengan Quraisy Shihab, Said Aqil juga dikenal sebagai ulama moderat dan kritis terhadap fenomena radikalisme dan terorisme. Ia dikenal sebagai ulama yang mengajarkan keselarasan antara dimensi keislaman, keindonesiaan, dan lokalitas Nusantara. Tidak hanya itu, Said Aqil juga lantang mengkritik ideologi Wahabi-Takfiri.

Labelisasi Syiah dan Penggembosan Proyek Moderasi Beragama

Kini, labelisasi Syiah dialamatkan pada sosok Habib Husein Ja’far al Hadar. Tuduhan itu tentu bukan tanpa tujuan. Habib Ja’far ialah sosok idola anak muda saat ini. Ia memiliki popularitas di media sosial. Kanal YouTube-nya yakni “Jeda Nulis” memiliki 902 ribu subscriber. Sedangkan akun Instagramnya, memiliki 1, 1 juta pengikut. Selama beberapa tahun belakangan, ia rajin berkolaborasi dengan anak muda lintas-profesi mulai dari penulis, komedian, hingga musisi dalam menyebarkan narasi keberagamaan yang moderat, inklusif, dan toleran. Pendek kata, ia ialah ikon baru dalam dunia dakwah Islam di era digital.

Tidak hanya itu, Habib Ja’far juga dikenal sebagai salah satu agen moderasi beragama. Ia digandeng oleh sejumlah instansi pemerintah, termasuk BNPT untuk mengampanyekan moderasi beragama di kalangan kaum muda. Di titik ini, kita bisa mengatakan bahwa serangan label Syiah terhadap Habib Ja’far tidak lebih dari upaya menggembosi agenda moderasi beragama yang digalakkan pemerintah. Pelakunya siapa lagi jika bukan kaum konservatif-radikal. Ketika kaum konservatif gagal membantah argumen para penganjur moderasi beragama, mereka lantas menyerang sosok pribadinya. Salah satunya dengan melabeli mereka dengan tuduhan penganut Syiah.

Masyarakat yang kadung terjebak pada persepsi bahwa Syiah itu sesat dan kafir lantas percaya begitu saja. Puncaknya, masyarakat menilai para penyebar moderasi beragama ialah sosok-sosok penganut Syiah yang wajib ditolak. Pandangan miring inilah yang dikehendaki oleh kelompok konservatif-radikal. Maka, umat Islam harus kritis dalam menyikapi labelisasi Syiah yang disematkan pada sejumlah tokoh. Jangan-jangan, labelisasi itu digunakan untuk menyerang pribadi sang tokoh karena ia gencar mengampanyekan moderasi beragama.

Ke depan, isu Sunni-Syiah idealnya tida lagi dieksploitasi untuk memecah-belah umat. Biarlah keberadaan Sunni-Syiah menjadi sebuah keniscayaan sejarah yang memperkaya khazanah Islam, baik secara intelektualitas maupun spiritualitas. Tidak kalah penting dari itu, umat Islam Islam di Indonesia harus waspada isu labelisasi Syiah pada sejumlah tokoh dijadikan alat untuk menggembosi agenda moderasi beragama.

Facebook Comments