Waspada Narasi Radikal yang Bertopeng Isu Agama

Waspada Narasi Radikal yang Bertopeng Isu Agama

- in Suara Kita
1185
0
Waspada Narasi Radikal yang Bertopeng Isu Agama

Narasi Radikal merupakan narasi ‘krusial’ yang beredar dalam media digital. Narasi tersebut sulit dibedakan, karena kadangkala isinya menjunjung tinggi toleransi yang ‘bertopeng’ isu agama namun bertentangan dengan ideologi pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.. Hadirnya kelompok radikalisme di negara Indonesia, menimbulkan ketakutan dan kecemasan di tengah-tengah masyarakat, dimana sebagai pemicu terpecah-belahnya kerukunan bangsa.

 Maka dari itu, sangat diperlukan sikap waspada sebagai ‘gaman’ penangkalan narasi radikal agar tidak terperosot dalam lubang kesesatan. Apalagi narasi tersebut umumnya bertopeng isu agama, di mana pembaca sangat rentan terpengaruh.

Narasi Radikal merupakan sebuah konten dalam media online atau media sosial yang isinya bertentangan pada ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta mengandung unsur ujaran kebencian maupun mengadu domba antara pemerintah negara Indonesia dengan masyarakat, guna memecah-belahkan kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Radikalisme yang mengatasnamakan agama saat ini sering terekspose melalui media dalam bentuk teror, pengeboman, kejahatan bertopeng isu agama, maupun narasi. Dampak yang timbul akibat gerakan oleh kelompok radikalisme yang bertopeng agama menjadikan catatan buruk bagi orang yang minim ilmu agama, karena semestinya agama menyerukan pada kedamaian.

Selain menimbulkan dampak tersebut, juga dapat menghancurkan nasionalisme bangsa yang disebabkan oleh penyerangan yang dilakukan kepada masyarakatnya sendiri, yang mana merupakan saudara sendiri.

Kelompok yang membawa paham radikal atau disebut sebagai kelompok radikalisme mempunyai pemahaman terhadap Islam secara praktis tanpa adanya penelusuran pemahaman Islam dengan epistemologi yang memadai dan cenderung pemikirannya kurang luas, sehingga jika terjadi perbedaan ‘setitik turunnya air hujan’ saja langsung mereka musnahkan. Semestinya sebagai umat manusia yang terlahir di negara Indonesia harus menghargai perbedaan, karena itu merupakan kekayaan yang dimiliki NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ). Selain itu, sejatinya kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa di tengah – tengah  perbedaan, yang berarti kita harus menerima takdir yang telah ditetapkan-Nya, yakni perbedaan.

Adanya perbedaan atau keanekaragaman suku, budaya, agama di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, seharusnya dijadikan sebagai ‘senjata’ dalam mempertahankan NKRI dengan berupaya bersatu dalam satu tujuan. Seperti halnya semboyan yang dimiliki negara Indonesia, yakni Bhinneka Tunggal Ika ( berbeda-beda tetapi tetap satu ).

Semboyan tersebut bukan hanya dihafalkan maupun dipelajari saja, melainkan perlu kita implementasikan dalam berkehidupan sebagai pedoman menghargai atau menghormati perbedaan untuk mencapai tujuan menghempaskan ideologi radikal dan tidak mudah terdoktrin oleh isu-isu yang mengarah pada ‘ pengkhiatan ’ terhadap negara sendiri.

Kelompok radikalisme akan tumbuh subur di tengah negara penuh konflik, karena mereka pikir lebih mudah diombang-ambingkan menggunakan jalur mengkambing hitamkan pemerintah, dengan harapan para rakyat Indonesia terkena imbasnya, yakni ikut-ikutan ‘ membenci ’ pemerintahnya sendiri. Hal tersebut bisa menyebabkan terpecah-belahnya kerukunan dan perdamaian antar bangsa Indonesia. Jika semua orang tidak menyadari permasalahan tersebut dan tidak segera diatasi, maka lambat laun kelompok radikalisme akan semakin semena-mena dalam meracuni pikiran para Warga Negara Indonesia ( WNI ) dan juga pengikut mereka semakin meningkat.

Untuk itulah, kita harus waspada akan ‘racun’ narasi radikal agar tidak terlanjur menggeroti pikiran. Jika pikiran sudah dikuasai oleh kelompok radikalisme, kemungkinan timbul rasa ‘benci’ terhadap peraturan pemerintahan negara sendiri. Penanggulan hal tersebut bisa dilakukan dengan menelaah narasi yang ada di media digital, apakah narasi radikal atau bukan dan berpegang pada ideologi Pancasila agar kehidupan lebih terarah dan memiliki tujuan. Selain itu, dapat diupayakan dengan membangun persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia, menanamkan jiwa nasionalisme, berpikiran terbuka dan toleran, dan juga waspada terhadap provokasi dan hasutan dari luar.

Facebook Comments