Waspada Provokasi dan Serangan Balik Teroris Terhadap BNPT

Waspada Provokasi dan Serangan Balik Teroris Terhadap BNPT

- in Suara Kita
1126
0
Waspada Provokasi dan Serangan Balik Teroris Terhadap BNPT

Sebuah petisi daring menuntut pembubaran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) beredar luas di jagad maya. Petisi daring dari laman change.org dan dibuat oleh akun “Pembela NKRI” itu diberi judul cukup provokatif, yakni “Bubarkan BNPT karena tidak ada kinerja-nya dalam menanggulangi aksi terorisme”. Sekilas, dari tata bahasa, penulisan dan pemilihan diksi judul, petisi ini dibuat oleh orang yang tidak memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni.

Apalagi jika kita membaca isinya. Tata kalimat yang kacau, kesalahan ejaan yang berulang kali, kesalahan ketik (typo) seolah menunjukkan bahwa petisi ini dibuat oleh orang yang baru belajar menulis. Tidak hanya itu, jika dibaca keseluruhan tampak jelas ketiadaan argumen yang diusung di balik tuntutan pembubaran BNPT tersebut. Dari sini kita bisa menyingkap sejumlah sesat pikir petisi daring pembubaran BNPT tersebut.

Sesat pikir yang pertama ialah pembuat petisi daring ini tampak tidak memahami secara utuh tugas pokok dan fungsi BNPT. Ada kesan bahwa pembuat petisi berusaha menyudutkan peran BNPT dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme di Indonesia selama ini. Padahal, jelas bahwa tupoksi BNPT dalam pemberantasan terorisme lebih diarahkan pada aspek pencegahan melalui pendekatan lunak (soft-power). Yakni pendekatan sosio-kultural melalui dua strategi yakni kontra-radikalisasi dan deradikalisasi.

Kontra-radikalisasi ialah agenda atau program untuk membendung arus deras ideologi radikal-ekstrem berbalut keagamaan yang belakangan ini melanda Indonesia. Kontra-radikaliasi diorientasikan untuk mencegah masyarakat terpapar paham radikal keagamaan ekstrem yang mengarah pada terorisme dan kekerasan. Penting diketahui, BNPT selama ini menjadi leading sector dalam agenda kontra-radikalisasi.

Program kontra-radikalisasi BNPT membentang dari mulai edukasi ihwal bahaya gerakan radikalisme, ekstremisme dan terorisme ke masyarakat dan ke institusi pemerintah melalui berbagai media dan stretegi. Sampai menjalin kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil seperti LSM, organisasi keagamaan, universitas dan tokoh-tokoh publik lainnya.

Sedangkan program deradikalisasi ditujukan untuk “menyembuhkan” para narapidana terorisme atau siapa pun yang terpapar paham radikal agar kembali moderat dan nasionalis. Agenda ini pun telah berjalan bertahun-tahun dan efektif dalam merangkul mereka yang terpapar radikalisme untuk kembali menjadi warganegara yang taat hukum dan cinta tanah air. Maka, jika ada orang yang meragukan sepak terjang dan kinerja BNPT dalam agenda kontra-radikalisasi dan deradikalisasi, kemungkinan besar orang tersebut malas melakukan riset dan mencari data atau memang sengaja menutup mata dan telinga untuk mengabaikan fakta.

Waspada Provokasi dan Adu-Domba Teroris

Sesat pikir yang kedua ialah ada semacam upaya untuk mengadu-domba antara BNPT dan lembaga lain, terutama Polri dan khususnya lagi Densus 88. Padahal, Polri dengan Densus-88-nya merupakan mitra strategis BNPT dalam memberantas terorisme. Jika BNPT lebih berperan di sektor pendekatan lunak, Polri, terutama Densus 88 lebih berperan di sektor pendekatan keras (hard-power) yakni melalui penangkapan dan pengungkapan jaringan terorisme.

Di lapangan, meski tugas dan kewenangan keduanya berbeda, namun sinergi antar-lembaga tetap terjaga. Para petinggi BNPT seperti kita tahu merupakan perwira-perwira Polri terpilih yang memang menguasai isu dan pemetaan seputar gerakan terrorisme-radikalisme, tidak hanya dalam lingkup nasinoal, namun juga internasional. Selama ini kita lihat kedua lembaga bisa bersinergi, dan tidak ada kesan keduanya saling berebut posisi untuk menjadi lebih dominan, apalagi saling bersaing mengedepankan ego-sektoral.

Upaya mengadu-domba BNPT dan Polri khususnya Densus 88 ini bisajadi merupakan bagian dari provokasi dan serangan balik kelompok teroris yang tidak ingin kedua lembaga itu kompak dalam memberantas terorisme. Jika upaya itu berhasil, maka kaum radikal-teroris akan mendapatkan ruang gerak yang leluasa untuk bermanuver. Maka, tugas kita semua ialah memastikan agar hal itu tidak sampai terwujud.

Tindakan provokasi dan serangan balik kelompok radikal-teroris dengan menggunakan petisi daring ini harus dilawan dengan narasi positif. Seluruh elemen masyarakat sipil harus kompak dan bersatu menghalau setiap provokasi kaum radikal-teroris, termasuk yang mewujud dalam petisi daring pembubaran BNPT. Selama kaum radikal-teroris masih menjadi ancaman di negeri ini, selama itu pula kita masih membutuhkan peran BNPT. Membubarkan BNPT berarti memberikan kesempatan pada kelompok teroris untuk merusak negara dan bangsa ini.

Facebook Comments