Yang Berbahaya dari Fanatisme adalah Ekstrimisme!

Yang Berbahaya dari Fanatisme adalah Ekstrimisme!

- in Suara Kita
1133
0
Yang Berbahaya dari Fanatisme adalah Ekstrimisme!

Fanatik dalam beragama adalah keniscayaan karena tanpa sikap fanatik, kita kehilangan keyakinan terhadap agama yang kita peluk. Ruh agama pun akan luruh dari hati sang pemeluk agama tanpa keyakinan. Semua agama dianggap benar baik nilai, aqidah, dan tata cara penyembahan kepada Tuhan. Padahal, setiap agama memiliki aqidah dan tata cara beribadah sendiri-sendiri, sekalipun nilai (value) dari semua agama bersifat universal.

Hanya saja, ketika seseorang bersikap fanatik secara berlebihan (ghuluw) terhadap satu agama, maka orang tersebut cenderung memiliki pandangan yang sempit dalam beragama. Dan, parahnya, justru hal tersebutlah yang disebut-sebut oleh Nabi Muhammad Saw. dapat menghancurkan agama. Diriwayatkan dalam suatu hadis, “Wahai manusia, jauhilah ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama karena sesungguhnya ghuluw dalam beragama adalah yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian.” (HR Ibnu Majah). Mengapa demikian?

Perlu dipahami, seseorang yang memiliki fanatisme berlebihan akan mudah untuk terjebak dalam narasi provokasi, hoaks, ujaran kebencian, dan adu domba. Terutama dalam konteks beragama, mereka yang berpikiran mereka sungguh sempit, akan mudah terbakar ketika ada api kecil yang sengaja dinyalakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melancarkan kepentingan mereka. Maka itu, karena berbahanyanya sikap fanatisme tersebut, Allah SWT juga melarang bersikap berlebihan dalam beragama melalui firman-Nya: “Wahai ahli kitab, janganlah melakukan ghuluw (melampuai batas) menyangkut keberagamaan kamu. Jangan berucap/percaya menyangkut Allah kecuali yang hak.” (QS an-Nisa:59)

Apalagi di era media sosial dan internet, dimana mudah sekali menemukan berita bohong dan provokasi yang sengaja disebar untuk memecah-belah umat. Maka, orang yang memiliki fanatisme berlebihan, pikirannya akan penuh-sesak dengan luapan-luapan kebencian yang selanjutnya justru mengarah pada ekstrimisme. Dimana, cara beragamanya akan cenderung bersifat eksklusif dan hitam-putih. Dia benar, dan yang lainnya salah. Parahnya, sikap-sikap ini oleh kaum ekstrimis diekspresikan melalui kekerasan, pertumpahan darah, dan tindakan-tindakan antikemanusiaan lainnya.

Sejarah Islam mencatatat, latar belakang pembunuhan Usman bin Affan oleh umat Islam sendiri adalah hoaks yang sengaja disebar oleh Abdullah bin Saba’. Parahnya, jasadnya pun harus menunggu dua hari untuk dimakamkan karena sebelumnya ditolak oleh kaum Anshar untuk dimakamkan di makam umat Islam. Lalu, dimakamkanlah di tempat-tempat orang Yahudi. Bahkan, sebelum mencapai makam, jasadnya diludahi dan salah satu tulangnya dipatahkan.

Kasus serupa juga terjadi kepada Ali bin Abi Thalib, dibunuh oleh Ibnu Muljam yang dikenal sebagai orang yang taat dalam beribadah, shalat, puasa dan bahkan hafal Al-Qur’an. Lagi-lagi karena terpengaruh provokasi dan hoaks dari kaum Khawarij yang menyebut Ali sebagai pemimpin yang munafik, kafir dan musyrik sehingga halal dibunuh. Itu menunjukkan betapa berbahayanya orang dengan fanatisme berlebihan, karena sekali mereka terprovokasi, maka mereka bisa menjelma menjadi ekstrimis yang melegalkan pertumpahan darah.

Maka itu, kita perlu membumikan cara beragama yang rahmatan lil ‘alamiin. Cara beragama yang tidak fanatik berlebihan serta menempatkan dimensi kemanusiaan di atas segalanya. Sikap fanatik justru dimanfaatkan ke arah positif untuk memperdalam dan memperluas keilmuan. Sehingga, kita akan memiliki cara pandang yang lebih luas dan utuh serta semakin akrab dengan kemanusiaan dan keberagaman. Semakin memahami bahwa rahmat Tuhan lebih luas dibandingkan seluruh alam raya, sehingga akan memiliki rasa malu kepada Tuhan untuk terus memendam dan memupuk kebencian dalam diri. Tak mungkin bagi orang-orang yang sudah meyadari dan memahami hal-hal tersebut akan terjebak dalam ekstrimisme dan tindakan anarkistis. Sebaliknya, dimana pun ia berada akan senantiasa memanusiakan dan menebar rahmat kepada sesama. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Facebook Comments