Yang Wajib Dilakukan MUI Pasca Disusupi Teroris; Reformasi dan Sterilisasi

Yang Wajib Dilakukan MUI Pasca Disusupi Teroris; Reformasi dan Sterilisasi

- in Suara Kita
1086
0
Yang Wajib Dilakukan MUI Pasca Disusupi Teroris; Reformasi dan Sterilisasi

Ditangkapnya Zain an Najah, anggota Komisi Fatwa MUI Pusat karena keterlibatannya sebagai Dewan Syuro Jamaah Islamiyyah merupakan ironi sekaligus aib. Ironis karena MUI merupakan lembaga keagamaan dan keulamaan yang digadang menjadi pilar NKRI. ditangkapnya Zain juga menjadi aib MUI karena telah mencoreng wajah lembaga tersebut.

Namun, apa lacur. Ibarat nasi telah menjadi bubur. Ironi dan aib itu telah terbongkar. Bukan waktunya untuk menyesali, apalagi menutupi aib dan berkilah dengan membangun pencitraan. Bahwa ada oknum anggotanya yang terlibat jaringan terorisme itu merupakan fakta yang tidak bisa dibantah oleh MUI.  Meski demikian, hal ini juga bukan berarti akhir atau kiamat bagi MUI sebagai sebuah lembaga.

Berbagai seruan untuk membubarkan MUI santer bergaung di media sosial belakangan ini. Namun, jika dianalisa seruan itu tidak organik alias tidak berasal langsung dari umat. Ada kesan propaganda pembubaran MUI di media sosial ialah upaya membenturkan pemerintah dan MUI. Hal ini tentu harus diwaspadai. MUI dan pemerintah ialah dua entitas yang idealnya bermitra dan bersinergi. Pemerintah ialah perwujudan dari umara, sedangkan MUI ialah representasi ulama. Keduanya merupakan pilar penting dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Saya pribadi masih percaya bahwa MUI pada dasarnya ialah lembaga yang moderat dan nasionalis. Bahwa ada oknum-oknum anggota yang kerap berpandangan konservatif itu ialah sebuah dinamika organisasi yang tidak bisa dihindari. Meski demikian, secara keseluruhan MUI merupakan lembaga keagamaan moderat. Bukankah MUI berisi ulama-ulama yang berasal dari beragam entitas ormas keislaman, seperti NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Lebih dari itu, selama ini MUI menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga NKRI.

Momentum Reformasi dan Sterilisasi MUI

Ditangkapnya Zain an Najah idealnya menjadi momentum MUI untuk berbenah. Inilah momentum untuk membuktikan bahwa MUI masih layak menjadi khadimul ummat (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra pemerintah). Setidaknya ada dua hal yang wajib dilakukan MUI dalam hal ini. Pertama, reformasi internal kelembagaan meliputi pembenahan struktural. Dalam konteks ini, MUI harus memiliki mekanisme screening dan profiling yang komprehensif menyangkut setiap anggota, pengurus, apalagi petinggi-petingginya. Tujuannya ialah untuk mengidentifikasi sedetail mungkin karakter, rekam jejak, dan latar belakangnya. Hal ini penting untuk memastikan anggota, pengurus dan petinggi MUI benar-benar merupakan sosok yang tidak hanya alim, namun memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.

Reformasi internal di tubuh MUI ini penting mengingat pasca-Reformasi, MUI seolah berjalan ke arah yang acapkali tidak sesuai dengan khittah-nya sebagai lembaga keagamaan. Misalnya, pada momen tertentu MUI kerap terjebak dalam kontestasi politik praktis. Momen tidak terlupakan dalam konteks ini ialah pada momen Pilkada DKI 2017 dimana sejumlah anggota MUI menjadi eksponen penggerak demonstrasi berjilid-jilid yang sempat menimbulkan instabilitas sosial-politik di Tanah Air. Reformasi internal MUI diperlukan sebagai semacam self-audit demi mengembalikan lembaga ke jalur yang benar.

Selain reformasi internal kelembagaan, MUI juga wajib melakukan sterilisasi dari anasir radikalisme-terorisme. MUI harus bersikap tegas terhadap oknum-oknum ulama yang berhaluan radikal dan anti-NKRI. Harus ada semacam mekanisme untuk memastikan seluruh anggota, pengurus, dan petinggi MUI benar-benar memiliki pandangan keagamaan yang inklusif, moderat, dan setia pada NKRI. Sterilisasi ini merupakan momentum untuk menyapu bersih anasir radikalisme yang mendompleng di tubuh MUI. Oknum ulama radikal-teroris di tubuh MUI itu tidak lebih dari penumpang gelap yang mengotori MUI, mencoreng kehormatannya, dan menjadi benalu yang menggerogoti lembaga dari dalam.

Reformasi dan sterilisasi ini tentu membutuhkan sinergi semua pihak, termasuk umat. Umat Islam kiranya harus cerdas menyikapi kasus terorisme di tubuh MUI. Di satu sisi, umat Islam memang harus kritis pada lembaga-lembaga keagamaan, termasuk MUI. Namun, di sisi lain umat Islam idealnya tidak mudah dijebak dalam narasi provokatif. Terutama agenda untuk mengadu-domba antara pemerintah dan MUI. Tidak kalah penting dari itu ialah umat Islam kiranya tidak boleh percaya pada narasi kriminalisasi ulama yang digaungkan pihak tertentu. Arkian, reformasi dan sterilisasi internal MUI untuk memastikan lembaga tersebut bebas dari unsur radikalisme dan terorisme ialah hal mutlak untuk saat ini. Hal itu kiranya akan menjadi bagian dari perang melawan radikalisme dan terorisme di lembaga keagamaan.

Facebook Comments