Yang Waras Tidak Boleh Mengalah

Yang Waras Tidak Boleh Mengalah

- in Suara Kita
176
3
Yang Waras Tidak Boleh Mengalah

Tak dapat dipungkiri, bahwa efek dari kontestasi pemilihan kepala daerah dan ca/wapres berujung pada terbelahnya dukungan masyarakat, yang tidak secara otomatis dianggap selesai meski pemilu telah usai, namun resido itu hingga kini masih tersisa. Dan bahkan, dalam batas-batas tertentu, semakin menganga lebar.

Keduabelah pihak masih saling “serang” argumen, terutama di media sosial, tentang siapakah yang sebenarnya menjadi pemenang pada perhelatan akbar pemili 17 April lalu. Meski pada akhirnya, masing-masing kubu percaya dan menyerahkan sepenuhnya kepada putusan Mahkamah Konstitusi (MK), tentang sengketa hasil pemilu, namun tetap saja indikasi “ketidakharmonisan” antar pendukung terlihat jelas.

Yang ironis adalah terdapat oknum tertentu memanfaatkan situasi ini untuk melakukan provokasi, seolah tak rela jika bangsa ini damai, sehingga unsur TSM (terstuktur, sistematis, dan massif) bukan hanya menjadi jargon tuntutan pemohon dalam sengketa pemilu, tetapi justru oleh oknum tersebut dijadikan sebagai pelecut semangat dalam melakukan tindakan-tindakan berupa penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.

Penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, bagi pelaku, sebagaimana terlihat nyata dalam proses penangkapan oleh aparat berdasarkan UU ITE di banyak kasus, terlihat santai, seolah apa yang dilakukkannya itu perkara biasa. Ironis.

Padahal perbuatan itu sungguh tercela, melanggar hukum, dan secara teologis merupakan dosa. Dilihat dari perspektif agama Islam, mereka yang melakukan ujaran kebencian, memproduksi dan penyebar berita palsu, bertetangan dengan firman Allah Swt. Q.S al-Nahl: 105, “Sesungguhnya orang-orang yang membuat/memproduksi (berita) kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah para pembohong”.

Baca juga : Gotong-Royong Viralkan Perdamaian di Medsos

Karena itu, ketika tindakan-tindakan tercela ini dilakukan—apalagi dengan sengaja—sebagai sebuah kelaziman, maka menjadi apa yang oleh Hannah Arendt dalam Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963) disebut “banal”. Banalitas kejahatan, menurut Arendt, adalah situasi yang oleh pandangan umum dianggap melanggar norma, tetapi oleh pelakunya ditanggapi biasa-biasa saja, normal, dan wajar.

Sikap yang waras

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan krusial ini? Selayaknya setiap warga atau individu memilik kesadaran dan tanggungjawab untuk melibatkan diri dalam banyak bentuk kegiatan, baik formal maupun nonformal, membalik posisi, dari ujaran kebencian menjadi ujaran kebaikan. Bagi akademisi, misalnya, perlu melakukan sosialisasi secara massif berupa kegiatan-kegiatan ilmiah yang menunjukkan pentingnya melakukan ujaran kebaikan pada forum-forum diskusi, penyampaian di kelas oleh guru/dosen, seminar, tulisan di media/jurnal, dan lain sebagainya.

Sementara di luar panggung akademik, kontribusi netizen di media sosial sangat dibutuhkan. Saluran pengetahuan yang umumnya melakukan penyebaran hoaks, provokasi, dan ujaran kebencian, harus dilawan dengan melakukan counter narasi yang menunjukkan sebaliknya.

Penyebaran hoaks dan ujaran kebencian dapat dipersepsikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh oknum tidak punya akal budi, “tidak waras”, sebab secara sadar mereka melanggar norma sosial dan agama, maka kita, orang yang waras, tidak setuju terhadap situasi buruk itu, tidak boleh diam. Sikap ini wajib ditanamkan pada setiap insan.

Yang waras tidak boleh mengalah. Setiap diri, di antara kita, wajib ber-’amar ma’ruf hahi mungkar sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk melakukan pertolongan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya bagi generasi yang terpapar ujaran kebencian. Cara ini dengan sendirinya, meski mungkin pelan, akan mengedukasi korban secara positif, dan menyatukan kembali puzzle yang tercerai berai akibat perpecahan dukungan politik.

Media sosial harus dimanfaatkan secara positif untuk melakukan edukasi dan kampanye damai ujaran kebaikan. Semua pihak harus ambil bagian dalam program ini. Nasib bangsa, jika boleh dikatakan demikian, ditentukan oleh keterlibatan aktif kita sebagai civil society, untuk berkontribusi pada hal-hal positif membangun negeri, bukan sebaliknya yang berorientasi pada penghancuran budaya luhur masyarakat. Semoga.

Facebook Comments