Zakat Fitrah, Kesalehan Sosial dan Urgensi Filantropi Islam

Zakat Fitrah, Kesalehan Sosial dan Urgensi Filantropi Islam

- in Suara Kita
208
0
Zakat Fitrah, Kesalehan Sosial dan Urgensi Filantropi Islam

Tak terasa bulan puasa akan berakhir sebentar lagi, selain berpuasa sebulan penuh, masih ada rukun puasa yang wajib kita laksanakan menjelang purnanya bulan Ramadan, yakni membayar zakat fitrah. Menurut para ulama, Zakat fitrah menjadi penyempurna terhadap puasa yang telah kita laksanakan, mengingat di dalamnya mengandung praktik kesalehan individual dan sosial sekaligus.

Zakat Fitrah memiliki nilai sosial yang sangat tinggi, karena ketika orang-orang tengah disibukkan dengan hiruk-pikuk persiapan menyambut lebaran melalui berbagai atribut pakaian dan pangan untuk kepentingan pribadi, namun Agama Islam mengajarkan kita untuk peduli terhadap nasib kaum fakir miskin di sekitar kita yang mungkin masih belum memiliki apa-apa untuk persiapan mereka besok.     

Zakat fitrah menjadi media penguatan dimensi sosial dan ini semakin menegaskan bahwa ibadah puasa sejatinya bukan hanya ibadah individual yang sifatnya vertikal kepada Allah semata, namun lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang bersifat horizontal yang meniscayakan spirit berbagi untuk orang lain. 

Pelaksanaan puasa Ramadan tahun 1443 Hijriyah ini adalah sebuah bentuk manifestasi ketakwaan seorang Muslim kepada Allah Swt, karena puasa adalah satu-satunya ibadah yang dilegitimasi langsung oleh-Nya, karena tidak ada orang yang tahu tentang puasa kita, kecuali Tuhannya. Puasa menjadi ritual teologis tahunan yang seyogyanya dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh umat Islam. Sehingga puasa pada gilirannya dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kualitas religiuisitas seseorang dan bisa membawa maslahah bagi semua.      

Puasa di bulan Ramadan adalah bagian dari ritual ibadah yang diwajibkan oleh Allah Swt, sebagaimana tersurat dalam QS Al- Baqarah ayat 183 dan termuat dalam rukun Islam yang keempat. Dalam Islam, menjalani ritual bulan Ramadan dianjurkan dengan memperbanyak ibadah untuk memupuk kesalehan individual dan sosial sekaligus, bukan justru hanya sibuk dengan ritula ibadah individual an sich. Ramadan seharusnya menjadi ajang untuk berlomba-lomba dalam berbuat sebanyak mungkin kebaikan (fastabiqul khoirat).  

Di samping itu, berzakat, khususnya fitrah memiliki hikmah yang besar di dalamnya, kaitan dengan hikmah dan fungsi zakat sendiri misalnya, Al-Quran menegaskan dalam berbagai suratnya, bahwa kesediaan berzakat akan membangun etos dan etika kerja (QS. Al-Mu’minun: 1-4), mengembangkan dan memberkahkan harta (QS. Al-Baqarah: 276 dan QS. Ar-Rum: 39), menjernihkan pikiran dan jiwa (QS. At-Taubah: 103), membantu dan menolong kaum dhuafa dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya (QS. At-Taubah: 60), sekaligus memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat karena harta tidak hanya terakumulasi di tangan sekelompok orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7), dan masih banyak fungsi serta hikmah yang lainnya.

Dalam al-Quran terdapat 32 ayat tentang zakat dan 82 kali diulang dengan mengunakan istilah yang merupakan sinonim dari kata zakat, yaitu kata sodaqoh dan infaq. Pengulangan tersebut mengandung maksud bahwa zakat mempunyai kedudukan, fungsi dan peranan yang sangat penting dalam Islam. Dampak dari pengumpulan zakat ini tidak hanya terkhusus untuk kalangan Muslim, namun juga bisa didistribusikan untuk kalangan agama yang lain, artinya dalam praktiknya zakat bersifat universal.

Urgensi Filantropi Islam

Zakat fitrah sendiri merupakan salah satu bagian dari aktualitas filantropi. Secara historis filantropi, menurut M.C. Ricklefs—seorang ahli sejarah Jawa dan Indonesia dari Australia—merupakan salah satu unsur penting dalam Islam yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Zakat adalah komponen dalam rukun Islam yang sangat penting untuk diamalkan. Filantropi Islam (terutama zakat, sedekah dan wakaf) sebagai tradisi yang dinamis telah dikembangkan oleh penguasa Islam sejak masa khilafah yang 4, dinasti Ummayyah dan Abbasiyah hingga ulama serta masyarakat melalui interpretasi terhadap teks-teks ajaran Islam.

Saat ini, filantropi melalui ZISWAF pada gilirannya telah mengalami transformasi dari kegiatan berderma yang dilakukan secara tradisional menjadi sebuah kegiatan filantropi modern. Meskipun di beberapa tempat praktik-praktik tradisional tersebut tidak hilang bahkan justru masih cukup mendominasi (Amelia Fauzia, 2016: 33). Spirit Filantropi ini terus tumbuh dan berkembang. Hinggga kini ribuan lembaga grant making seperti itu, besar atau kecil hidup di negeri yang kiprahnya banyak dinikmati oleh masyarakat luas tanpa memandang agama dan keyakinannya.

Filantropi Islam melalui zakat fitrah dapat menjadi spirit mewujudkan kesalehan sosial dan individual sekaligus, karena di dalamnya tidak hanya mengedepankan ke “aku-an”, tetapi ke “kita-an” dalam bingkai kemanusiaan. Akhirnya, semoga puasa kali ini membawa berkah bagi kita semua dan dapat menjadikan kita sebagai Insan kamil. Serta ke depan semakin menjadikan kita sebagai makhluk sosial yang tulen autentik, bukan justru individual yang asosial. Semoga.

Facebook Comments