Zakat sebagai Energi Saling Berbagi, Bukan Saling Memusuhi

Zakat sebagai Energi Saling Berbagi, Bukan Saling Memusuhi

- in Suara Kita
226
0
Zakat sebagai Energi Saling Berbagi, Bukan Saling Memusuhi

Syaikh Nawawi Banten dalam kitabnya Nihayatuz Zain menulis: “Sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan, lebih-lebih pada sepuluh hari terakhirnya”. Ungkapan Imam Nawawi ini bukan tanpa dasar. Banyak sekali hadits Nabi yang menekankan keutamaan sedekah di bulan Ramadhan. Satu diantaranya adalah hadits dari Anas.

Nabi pernah ditanya: “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama”?. Beliau menjawab: “Sedekah di bulan Ramadhan”. (HR. Turmudzi). Riwayat lain mengatakan: “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan di antara manusia yang lain, dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya saat bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Ibrahim al Bajuri dalam Hasyiyah al Bajuri menyimpulkan hadist-hadits Nabi yang semisal denga dua hadits di atas, bahwa pada bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Sebab, pada bulan Ramadhan semua amal akan dilipatgandakan pahalanya.

Hadits-hadits Nabi tersebut mendidik umat Islam supaya memiliki sifat empati terhadap sesama muslim. Menekankan pentingnya “saling merasakan”. Dengan sedekah berarti kita telah berbagi. Sedekah mengandung energi pemersatu yang kuat. Dan, sedekah adalah energi pemersatu Ramadhan.

Ramadhan sendiri sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk lebih berempati kepada sesama. Rasa lapar dan dahaga mengajarkan kepada kita untuk merasakan penderitaan kaum dhuafa yang saban harinya didera lapar dan dahaga. Mereka yang terhimpit oleh kekurangan ekonominya berjibaku dengan hanya supaya mendapat sesuap nasi. Lapar adalah hal biasa yang mereka rasakan. Maka, sekali lagi, Ramadhan mengajarkan kepada kita supaya memiliki sikap empati kepada sesama.

Diundangkannya zakat adalah upaya untuk menanamkan rasa empati tersebut. Dengan empati kita kemudian memiliki sikap simpati sebagai manifestasi dari dimensi sosial ibadah puasa. Kita dididik untuk berbagi, bukan untuk memusuhi.

Bulan Ramadhan bukan hanya sekedar puasa, mengkhatamkan al Qur’an berkali-kali, dzikir di masjid dan ibadah individual yang lain. Lebih dari itu, Ramadhan mengajarkan untuk ikut merasakan penderitaan sesama, sehingga jiwa tergerak untuk berbagi bersama.

Oleh karenanya, sangat naif kalau ada seseorang yang berpuasa, namun masih membenci dan mencaci, menyebar fitnah dan seabrek perilaku yang merentankan terjadinya sikap saling memusuhi. Apa arti bulan Ramadhan kalau kita masih jauh dari tujuan puasa itu sendiri?

Lapar, dahaga, zakat dan anjuran memperbanyak sedekah adalah pelajaran supaya kita menjadi manusia sesungguhnya. Manusia yang mencintai sesama, tidak saling memusuhi, tidak saling membenci, dan tidak saling adu domba. Fitrah di hari raya nanti adalah kembalinya manusia seperti tujuan semula ia diciptakan. Yakni, untuk beribadah, mengasihi, toleransi, saling menyayangi, dan paling penting saling berbagi dan tidak saling memusuhi.

Facebook Comments