Suatu hari di Mekah, jauh sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, seorang pedagang dari Zubaid, Yaman, menjual barangnya kepada seorang tokoh Quraisy dan tidak dibayar. Sebagai pendatang tanpa suku yang melindungi, ia hanya bisa berdiri di dekat Ka’bah dan berseru meminta tolong.
Tidak ada yang menyusun pernyataan sikap. Sejumlah pemuka Mekah berkumpul dan bersepakat membela siapa pun yang dizalimi, tanpa memandang suku atau kedudukan. Perjanjian itu dikenal sebagai Hilf al-Fudul. Bertahun-tahun kemudian, Muhammad saw. menyatakan akan memenuhi ajakan serupa seandainya diundang kembali.
Kisah ini patut dibaca ulang ketika derita orang di belahan dunia lain sampai ke layar kita dalam hitungan detik. Banyak anak muda bereaksi cepat dan tulus; dalam semalam mereka yakin siapa yang salah dan siapa yang pantas dibenci.
Kepekaan itu layak dihargai. Yang mengkhawatirkan adalah empati yang berhenti sebagai opini, sebab ia murah, cepat panas, dan mudah dibelokkan menjadi permusuhan terhadap kelompok lain, bahkan terhadap tetangga sendiri. Pedagang dari Zubaid tidak ditolong oleh kemarahan. Ia ditolong oleh orang-orang yang bersedia berkumpul dan bekerja.
Psikologi sosial menjelaskan mengapa kerja bersama ampuh. Gordon Allport mengingatkan bahwa perjumpaan antarkelompok tidak otomatis menghapus prasangka. Ia berhasil bila para pihak setara, punya tujuan sama, bekerja sama tanpa berlomba, dan didukung norma yang jelas. Aksi kemanusiaan memenuhi syarat itu hampir secara alami.
Ketika pemuda berbagai agama memasak di dapur umum yang sama atau memikul logistik bagi korban bencana, pertanyaan mereka bergeser dari “siapa kamu” menjadi “apa yang bisa kita selesaikan”. Identitas iman tetap utuh, dan di atasnya tumbuh identitas baru sebagai sesama penolong dan sesama warga negara.
Jonathan Haidt menambahkan lewat teori intuisi moralnya: manusia menilai benar dan salah melalui beberapa naluri dasar, yakni kepedulian, keadilan, kesetiaan, kepatuhan pada otoritas, dan penghormatan pada yang suci. Kabar yang sengaja dipanaskan biasanya menyasar kesetiaan dan kesucian, sehingga pembaca merasa kelompoknya terancam. Kerja kemanusiaan lintas iman menggeser sorotan ke kepedulian dan keadilan. Kesetiaan pun dimaknai ulang: bukan pada kubu, melainkan pada nilai yang menyelamatkan nyawa siapa pun.
Semangat Hilf al-Fudul kemudian dirumuskan para ulama dalam Maqasid al-Syariah: menjaga jiwa, akal, dan kehormatan manusia. Menolong korban krisis berarti menjaga jiwa; menolak kabar menyesatkan berarti menjaga akal.
Dalam kerangka itu, persaudaraan dalam Islam Indonesia dipahami sebagai tiga lingkaran yang saling menguatkan: sesama Muslim, sesama anak bangsa, dan sesama manusia. Kepedulian pada penderitaan di mana pun tidak menuntut kita mengorbankan ketertiban dan kesepakatan bersama di tanah air sendiri. Justru negara yang kokoh adalah saluran paling efektif untuk menyalurkan bantuan secara bermartabat.
Tasawuf menawarkan kedalaman yang sering terlewat. Para sufi mengingatkan bahwa kemarahan atas nama agama kerap menyimpan penyakit hati yang halus, yakni merasa paling benar dan paling suci. Lewat tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, seseorang dilatih memandang sesama makhluk dengan kasih sayang.
Ada ungkapan yang dikenal luas: seluruh makhluk adalah keluarga Allah, dan yang paling dicintai-Nya ialah yang paling bermanfaat bagi keluarga-Nya. Membela keadilan tanpa menumbuhkan kebencian adalah ibadah yang ikut menjernihkan hati si penolong.
Pesan serupa bergema di agama lain: agape dalam Kekristenan, tikkun olam dalam Yudaisme, vasudhaiva kutumbakam dalam Hindu, karuna dan metta dalam Buddha, ren dalam Khonghucu. Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar bahkan menandatangani dokumen persaudaraan manusia bersama.
Tidak ada akidah yang perlu dikaburkan; setiap pemuda bergerak dari kedalaman imannya sendiri menuju tujuan yang sama. Resolusi Dewan Keamanan PBB 2250 tahun 2015 menempatkan pemuda sebagai mitra perdamaian, bukan sekadar pelaku masalah atau korban pasif.
Di Indonesia, Young Interfaith Peacemaker Community mempertemukan pemuda Muslim dan Kristen membaca kitab suci tentang keadilan, sementara GUSDURian Youth menggelar pelatihan media sosial untuk perdamaian dan aksi tanggap bencana lintas iman.
Karena itu, tugas orang dewasa bukan memadamkan empati anak muda, melainkan memberinya arah. Biarkan hati mereka peka pada derita dunia, lalu ajak mereka bekerja bersama sesama, apa pun imannya. Di Mekah dulu, yang menjawab seruan si pedagang asing adalah mereka yang bersedia datang dan duduk bersama. Generasi yang hatinya luas, nalarnya jernih, dan cintanya pada kemanusiaan tidak bertentangan dengan cintanya pada Indonesia hanya lahir dari kebiasaan yang sama.
Terdapat potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung…
Peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tidak boleh dibiarkan menguap sekadar menjadi romantisme sejarah…
Surakarta, 1927. Di tengah ruang kongres yang riuh, Haji Agus Salim melangkah tenang menuju mimbar.…
Telah kita ketahui bersama bahwa AI atau kecerdasan buatan telah menjelma menjadi kekuatan dahsyat nan…
Hampir seabad lalu, para pemuda dari berbagai daerah duduk bersama dan mengucapkan tiga ikrar sederhana:…
Tanda seru dalam slogan “Pranciskan Indonesia!” seolah menyimpan energi perlawanan yang meluap. Ia terdengar heroik,…