Senin, 22 April, 2024
Informasi Damai

Beranda

Kartini dan Keadilan Gender untuk Menangkal Radikalisme
Narasi

Kartini dan Keadilan Gender untuk Menangkal Radikalisme

Raden Ajeng Kartini tidak hanya dikenal karena perjuangannya dalam bidang pendidikan bagi perempuan, tetapi juga karena keyakinannya akan keadilan gender. Visi dan aksi Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan tidak hanya relevan pada zamannya, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan dalam menangkal radikalisme. Melalui pendekatan yang holistik terhadap pendidikan dan pemberdayaan perempuan, Kartini membangun landasan yang kuat untuk memerangi ketidaksetaraan gender dan ekstremisme. Salah satu aspek utama dari perjuangan Kartini adalah ...
Read more 0
Kartini Masa Kini Adalah Ujung Tombak Agen Pendidikan Perdamaian
Narasi

Kartini Masa Kini Adalah Ujung Tombak Agen Pendidikan Perdamaian

Berbicara soal perempuan, dalam sejarah nasional tentu kita kenal sosok Raden Ajeng Kartini. Sosok perempuan fenomenal yang terkenal sebagai pejuang emansipasi wanita, terutama dalam hal pendidikan. Kartini merupakan salah satu representasi perempuan yang peduli dan berjuang demi pendidikan. Mengingat saat itu sosok perempuan tidak dianjurkan untuk sekolah tinggi, sehingga banyak perempuan yang tidak sekolah. Masa Kartini telah berlalu cukup lama dan setiap tanggal 21 April kita rajin memperingatinya. Namun, peringatan ...
Read more 0
R.A. Kartini: Dari Kegelapan Konflik, Menuju Cahaya Perdamaian
Narasi

R.A. Kartini: Dari Kegelapan Konflik, Menuju Cahaya Perdamaian

Minggu 21 April 2024 diperingati hari Kartini. Sebagai seorang perempuan, ada satu hal yang harus kita sadari, bahwa Kartini bukanlah “sekadar” nama yang hanya dikenang. Kartini adalah simbol perjuangan kaum perempuan yang akan terus hidup dan abadi di dalam jati diri kita masing-masing. Dalam konteks argumentasi di atas, Saya tertarik dengan ungkapan terkenal R.A. Kartini, “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Perempuan harus menjadi “cahaya” yang terang (melepaskan kegelapan) di tengah konflik ...
Read more 0
Kebangsaan

Gunungan Megono; Folklore Religi Simbol Kerukunan Beragama Masyarakat Pantura

Idulfitri 1 Syawal bukanlah pamungkas dari rangkaian perjalanan umat Islam menempuh kesucian diri. Di Bulan Syawal, terdapat Sunnah berpuasa selama enam hari, dan lebih utama (afdhal) jika dikerjakan di awal bulan (tanggal 2-7) Syawal. Puasa Sunnah enam hari di awal Syawal itu sudah menjadi tradisi bagi masyarakat muslim Nusantara. Maka, tidak mengenakan jika umat Islam Indonesia mengenal setidaknya tiga hari raya; yakni Idulfitri, Iduladha, dan hari raya ketupat. Satu hal ...
Read more 0
Narasi

Warisan Budaya Lebaran yang Melestarikan Wawasan Kebangsaan

Setiap tahun, ketika datang bulan Ramadan, Indonesia dipenuhi dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan. Di balik berbagai ibadah dan tradisi, ada dua warisan budaya yang menjadi tonggak penting dalam merayakan keberagaman dan persatuan bangsa yakni moment Lebaran Ketupat dan Halal Bihalal. Kedua tradisi ini menjadi simbol kuat dari identitas bangsa Indonesia yang kaya akan kearifan lokal. Kita harus pahami bahwa, warisan budaya merupakan cagar kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan, karena ...
Read more 0
Kebangsaan

Lebaran Ketupat dan Imajinasi Kolektif Bangsa Indonesia

Setelah melalui serangkaian ibadah dan refleksi selama bulan Ramadan, umat Muslim di seluruh Indonesia merayakan hari kemenangan, Idul Fitri. Namun, perayaan tidak berhenti di sana. Terdapat tradisi yang kental dengan keberagaman dan semangat persatuan, Lebaran Ketupat, yang membingkai Idul Fitri menjadi lebih bermakna. Ia menjadi momen yang ditunggu-tunggu setelah tujuh hari perayaan Idul Fitri. Lebaran Ketupat tidak hanya sekadar perayaan kuliner, tetapi juga simbol dari semangat kebersamaan, keberagaman, dan ...
Read more 0
Narasi

Lebaran Ketupat: Wujud Akulturasi Budaya Dalam Anjuran Al Qur’an

Lebaran ketupat seringkali dimaknai kelompok radikal sebagai sesuatu yang bid’ah atau tidak pernah ada pada zaman Nabi Muhammad saw. Sebagai hari kemenangan, lebaran menurut mereka hanya ada di tiga hari saja, yaitu hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Jum’at. Tidak ada lebaran ketupat yang tertulis dalam perjalanan penyebaran Islam Nabi Muhammad saw. Padahal jika dikulik lebih dalam, sebenarnya lebaran ketupat adalah hasil akulturasi Walisongo terhadap makna “Lebaran” yang diajarkan ...
Read more 0
Narasi

Fitrah Kebhinekaan: Kesejatian Islam Indonesia dalam Simpul Kearifan Lokal

Berbagai fenomena yang sangat khas Indonesia ini sesungguhnya mencerminkan hakikat kebangsaan itu sendiri, yaitu kebhinekaan dalam persatuan yang dikenal dengan frasa “Bhineka Tunggal Ika”. Keberagaman keberagamaan dalam berbagai lokalitas adalah salah satu bagiannya. Kelindan agama dan kebangsaan dalam simpul kearifan lokal merupakan kekayaan dan keunikan Indonesia yang patut juga diraya-ingatkan demi menjaga keutuhan bangsa, yang tantangannya tidak sedikit. Selain menjadi panggilan untuk kembali pada fitrah diri sebagai umat beragama, Idul ...
Read more 0
Narasi

Fiqih Lokalitas; Pendekatan Alternatif untuk Memahami Fenomena Lebaran Nusantara

Perjumpaan agama dan budaya barangkali akan menjadi topik yang tidak pernah basi untuk diperbincangkan. Dalam konteks Islam, akulturasi agama dan budaya yang melahirkan ekspresi keberagaman yang khas dan unik telah memantik debar antara kelompok konservatif dan moderat. Kaum konservatif, di satu sisi sangat anti pada praktik akulturasi agama dan budaya. Dalam keyakinan mereka, agama itu murni berasal dari wahyu Allah. Agama bersifat sakral sehingga tidak boleh bercampur dengan budaya yang ...
Read more 0
Halalbihalal dan Ikhtiar Rekonsiliasi Nasional
Narasi

Halalbihalal dan Ikhtiar Rekonsiliasi Nasional

Sepanjang sejarahnya dari masa Nabi Muhammad sampai sekarang, Islam mengandung nilai-nilai universal dan lokalitas sekaligus. Keduanya saling isi mengisi dan berjalan beriringan sampai akhir jaman kelak. Di Madinah, Rasulullah tidak begitu saja membuang nilai-nilai lokal. Mana yang baik dan masih bisa diadopsi dalam ajaran Islam akan Rasul ambil. Yang jelek dan bertentangan dengan aqidah akan Rasul tolak. Bahkan untuk mengubah tradisi yang sudah sangat mengakar, yaitu minum minuman keras, Rasulullah ...
Read more 0