Narasi

Ber-Ber-Pancasila di Media Sosial, Sebuah Keharusan!

Suatu malam, saya melihat sebuah unggahan yang sebenarnya biasa saja. Seseorang membagikan pendapatnya tentang sebuah isu yang sedang ramai dibicarakan. Tidak ada kata-kata kasar dalam unggahan tersebut. Tidak ada pula ajakan untuk menyerang siapa pun.

Namun, beberapa menit kemudian, kolom komentarnya berubah menjadi arena pertengkaran. Ada yang menyebut orang lain bodoh, ada yang membawa-bawa agama, ada pula yang mulai menyerang kehidupan pribadi orang yang bahkan tidak mereka kenal.

Saya hanya membaca sambil menggeser layar ke bawah. Anehnya, semakin banyak komentar yang muncul, semakin sulit menemukan pembicaraan tentang persoalan awal. Orang-orang tidak lagi membahas masalahnya. Mereka sibuk menyerang orang yang berbeda pendapat.

Pemandangan semacam itu rasanya sudah tidak asing lagi akhir-akhir ini. Media sosial memang membuat kita bisa mengatakan hampir apa saja kepada siapa saja. Hanya dengan beberapa ketukan, pendapat kita dapat dibaca puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang. Masalahnya, kemudahan berbicara ternyata tidak selalu diikuti dengan kematangan dalam berpikir.

Di dunia nyata, mungkin kita masih berpikir dua kali sebelum memaki seseorang yang sedang duduk di depan kita. Kita bisa melihat ekspresinya, mendengar nada suaranya, dan menyadari bahwa ia adalah manusia yang memiliki perasaan. Di media sosial, semua itu menghilang. Yang terlihat hanya foto profil, nama akun, dan beberapa kalimat di layar. Karena itulah, seseorang bisa dengan mudah lupa bahwa di balik akun tersebut ada manusia lain.

Atas dasar itulah saya kemudian merenung. Bahwa sepertinya, dalam bermedia sosial pun, kini kita juga harus berpancasila sekaligus. Kita sering membicarakan Pancasila dalam upacara, ruang kelas, atau peringatan hari-hari nasional. Namun, mungkin salah satu ujian paling nyata terhadap nilai Pancasila justru terjadi ketika tidak ada guru yang mengawasi, ketika tidak ada orang tua yang melihat, dan ketika kita memegang ponsel seorang diri tanpa pengawasan siapapun.

Pernah juga saya melihat seseorang menjadi bahan olok-olok karena sebuah kesalahan yang ia lakukan. Kesalahannya memang pantas dikritik. Tetapi kritik perlahan berubah menjadi penghinaan. Satu orang membuat lelucon, orang lain ikut menambahkan, lalu puluhan akun lainnya ikut tertawa. Sebuah kesalahan kecil akhirnya berubah menjadi hukuman sosial.

Saat itu saya berpikir, mungkin kita terlalu sering mengira bahwa karena seseorang berada di balik layar, maka kita boleh memperlakukannya sesuka hati. Padahal, menjadi manusia yang beradab tidak mengenal tempat. Kita tetap harus menjaga ucapan meskipun tidak sedang berhadapan langsung. Kita tetap harus menghargai orang lain meskipun pendapatnya berbeda.

Menurut saya ber-Pancasila di media sosial tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Kadang bentuknya sangat sederhana. Seperti menahan jari untuk tidak menulis komentar kasar, memeriksa berita sebelum membagikannya, tidak ikut-ikutan mempermalukan seseorang, atau bersedia mengakui bahwa pendapat kita mungkin saja salah.

Mungkin tindakan-tindakan itu terlihat sepele. Tidak akan ada penghargaan karena kita memilih diam daripada menghina orang lain. Tidak ada yang memberi tepuk tangan karena kita memeriksa kebenaran sebuah berita sebelum menyebarkannya. Namun, justru di situlah nilai Pancasila diuji, ketika kita melakukan sesuatu yang benar meskipun tidak ada yang melihat.

Pancasila tidak seharusnya berhenti di halaman buku atau tulisan di dinding sekolah. Ia harus ikut hidup ketika kita mengetik, berkomentar, membagikan sesuatu, bahkan ketika kita memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Indonesia adalah rumah bagi banyak perbedaan, maka belajar ber-Pancasila di media sosial bukan lagi sekadar pilihan, melainka sebuah keharusan.

Helliyatul Hasanah

Recent Posts

Pancasila dalam Wacana Buddha, Resep bagi Dunia yang Kian Gaduh

“Senjata terus diproduksi, kabar bohong menyebar secepat kilat, dan alam dikuras tanpa jeda. Di hadapan…

4 menit ago

Wajah Inklusif Mlangi: Menemukan Pancasila di Kampung Pesantren

Di tepi barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Nogotirto, Gamping, Sleman, membentang sebuah kawasan yang…

6 menit ago

Pancasila yang Terasing di Sekolah: Menyingkap Perundungan dan Erosi Keadaban di Kalangan Gen Alpha

Rentetan kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah belakangan ini telah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan.…

1 hari ago

Mampukah Pancasila sebagai Antibodi Sosial di Tengah Algoritma Kebencian?

Tanpa disadari, saat ini kita hidup di tengah ekosistem yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh apa…

1 hari ago

Pancasila Dalam Pusaran Ideologi-ideologi Dunia

Karl Raymond Popper, barangkali, adalah sedikit pemikir yang menempatkan kesalahan sebagai suatu keharusan dalam proses…

1 hari ago

Pasang-Surut Relasi Abu Bakar Ba’asyir dan Pancasila

Pada tahun 2022, mantan pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid, Abu Bakar Ba’asyir mengakui Pancasila sebagai dasar…

2 hari ago