Narasi

Dakwah Moderat Membawa Maslahat

Media sosial kita dihebohkan dengan ikrar Hanan Attaki yang menyatakan diri bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU). Keputusan Hanan Attaki masuk dan bergabung dengan NU itu cukup mengejutkan semua kita. Sebab, selama ini, da’i muda itu kerap kali diasosiasikan dan diisukan sebagai pentolan HTI; sebuah ormas keagamaan yang sejak beberapa tahun lalu telah dibubarkan oleh Presiden Jokowi Dodo (Jokowi).

Selain itu, dari konten-konten dakwahnya yang beredar, di media sosial, misalnya, selama ini Hanan Attaki juga dinilai tak sejalan dengan dakwah keislaman yang telah diakui di Indonesia, yakni dakwah keislaman yang rahmatan lil’alamin seperti yang telah digagas dan dilakukan oleh dua Ormas besar sekaliber NU dan Muhammadiyah.

Dakwah-dakwah Hanan Attaki kerap kali dinilai provokatif, mengadu domba, dan tidak mendidik umat. Karena itu, tak ayak bila kehadirannya di suatu daerah untuk memberi ceramah kerap kali menuai penolakan dari masyarakat karena muatan-muatan dakwahnya dianggap memecah belah umat. Tidak mendidik dan tidak mempersatukan umat.

Keputusan Tepat

Namun begitu, keputusan Hanan Attaki masuk ke NU adalah keputusan yang tepat. Dalam berbagai klarifikasinya, Hanan Attaki berkali-kali membantah bahwa dirinya merupakan pentolan HTI. Namun, masyarakat tak serta merta mempercayai klarifikasinya itu. Karena itu, di tengah besarnya kecurigaan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Hanan Attaki, keputusan itu merupakan keputusan yang tepat. Tepat karena hal itu akan menjawab ketidakpercayaan masyarakat bahwa dirinya bukanlah pentolan HTI.

Akan tetapi, terlepas dari penilaian pragmatis itu, keputusan Hanan Attaki untuk bergabung dengan NU juga tepat karena dengan mengambil keputusan itu, Hanan Attaki secara tidak langsung juga akan mengambil peran mendakwahkan paham-paham keislaman yang telah terverifikasi sebagai paham Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja).

Mendakwahkan paham-paham keislaman yang terverifikasi sebagai paham Aswaja ini penting sebab, dalam lanskap sosial-keislaman Indonesia, hanya Aswajalah yang mampu mengakomodasi berbagai keberagaman yang ada, yang mampu menciptakan kesejukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk dan beragam.

Sebab, dalam doktrinnya, Aswaja menekankan diri pada dakwah Islam yang rahmatan lil’alamin. Yakni dakwah keislaman yang moderat, halus, penuh dengan cinta kasih dan tidak keras dan selalu berupaya melakukan kontekstualisasi dengan perkembangan zaman. Yang pada akhirnya menghasilkan cara berislam yang mendamaikan dan menyejukkan kehidupan umat. Tidak mengadu domba dan memecah belah umat. Karena itu, secara sosial-kebudayaan, bisa dikatakan hanya Aswajalah yang cocok dengan corak keberislaman Indonesia.

Hanan Attaki dan Masa Depan Aswaja di Indonesia

Namun begitu, keberadaan paham Aswaja yang rahmatan lil’alamin di Indonesia bukan tanpa tantangan. Masuknya paham-paham impor ke Indonesia belakangan ini, seperti Wahabi dan aliran sesat lainnya yang juga mengaku Aswaja namun tidak menampilkan cara berislam yang moderat adalah tantangan tersendiri bagi kita semua. Karena itu, sebagai pendakwah yang memiliki banyak pengikut, kiranya penting bagi Hanan Attaki untuk ikut serta mengukuhkan paham Aswaja yang telah menjadi karakteristik Islam Indonesia. 

Dengan bergabungnya Hanan Attaki ke dalam NU, menjaga dan merawat Aswaja yang benar-benar Aswaja, yang bukan sekadar mengaku Aswaja tapi justru malah memecah belah kehidupan umat dengan ceramah-ceramah yang provokatif, adalah semacam tanggung jawab moral yang harus dilakukan oleh Hanan Attaki dalam kapasitasnya sebagai pendakwah.

Dengan mengambil keputusan bergabung dengan NU, kita tak ragu lagi bahwa Hanan Attaki bukanlah pentolan HTI. Namun, keputusan dan sikap yang diambil Hanan Attaki itu belumlah cukup tanpa disertai dengan tindakan-tindakan yang merepresentasikan dirinya sebagai pendakwah yang berkomitmen terhadap masa depan paham Aswaja yang moderat di Indonesia. Dakwah moderat akan membawa maslahat.

This post was last modified on 19 Mei 2023 3:35 PM

Alfie Mahrezie Cemal

Recent Posts

Dari Rambo ke Roblox: Gamifikasi Teror dan Urgensi Ketahanan Digital Anak

Bagi generasi digital hari ini, game online telah melampaui definisi sederhana sebagai sarana hiburan. Di…

3 hari ago

Menjadi Kreator yang Berdampak : Mengubah Komunitas Gamer Menjadi Ruang Aman bagi Anak

Sebuah kanal game bisa memiliki ribuan pengikut, jadwal siaran yang teratur, dan penonton yang selalu…

3 hari ago

Bekal Praktis Anak di Ruang Digital: Melatih Berpikir Kritis, Mengenali Manipulasi, dan Berani Menolak

Bagaimana jika anak kita bertemu seseorang di gim daring yang selalu memujinya, mendengarkan keluhannya, lalu…

3 hari ago

The Christchurch Call: Bagaimana Selandia Baru Mengintegrasikan Anti-Ekstremisme Dalam Kurikulum Pendidikan?

Tragedi Penembakan Masjid Christchurch pada 15 Maret 2019 menjadi titik balik bersejarah bagi Selandia Baru.…

4 hari ago

Skin Gratis yang Harganya Mahal

Seorang anak berusia sebelas tahun duduk tenang di sudut ruang tamu. Ia tidak riuh, tidak…

4 hari ago

Mahalnya Untuk Merasa “Diakui”

Pada 7 November 2025, ledakan mengguncang masjid SMAN 72 Jakarta Utara saat khotbah Jumat. Sekitar…

4 hari ago