Narasi

Membersihkan Mimbar Digital dari Konten Radikal

Di tengah derasnya arus dakwah digital dan maraknya ceramah provokatif, mimbar-mimbar keagamaan kita kerap diuji, akankah menjadi jembatan kasih sayang atau justru corong kebencian? Ketika sebagian pendakwah lebih gemar mencaci ketimbang merangkul, lebih fasih memaki daripada memuliakan, kita pun dihadapkan pada tantangan besar, menyelamatkan dakwah dari distorsi moral dan ideologis. Di sinilah peran dakwah moderat sebagai jalan tajdid keumatan.

Padahal, sejatinya dakwah adalah jalan sunyi yang menebar hikmah dan kelembutan, bukan ajang adu argumen penuh amarah. Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali dakwah moderat sebagai fondasi merawat kebangsaan, agar Islam tak hanya tampak agung di atas kertas, tetapi juga terasa menyejukkan dalam laku keseharian umat.

Kehadiran pendakwah di ruang-ruang digital yang acapkali ekstrem, radikal, dan memaki-maki tentu sangat merusak citra Islam yang notabene adalah agama yang menyeru kasih sayang kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Di lain sisi juga ada pendakwah berhaluan khilafah yang seringkali mendoktrin ideologi transnasional melalui kanal-kanal digital.

Padahal kita paham bahwa sudah seharusnya dakwah dilakukan secara santun sebagai akar pada proses memuliakan setiap manusia. Santun dalam berdakwah tentunya wajib diamalkan dengan bahasa yang baik, sopan, dan lemah lembut tanpa memaki-maki. Ini lah diantara karakteristik dakwah kebangsaan, yang sepatutnya dipahami oleh para juru dakwah di NKRI ini.

Sebagaimana disebutkan oleh Mubasyaroh (2017) setidaknya ada enam prinsip dakwah kebangsaan. Adapun pertama, prinsip qaulan layyinan. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Thaha ayat 44, yang artinya, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata–kata yang lemah lembut, mudah–mudahan ia ingat akan takut”.

Menurut pandangan Al-Maraghi (1943: 156) qaulan layyinan berarti pembicaraan yang lemah lembut supaya lebih dapat menyentuh hati dan menariknya untuk menerima pesan luhur dalam isi ceramahnya.

Kedua, prinsip qaulan sadidan. Maksud dari qaulan sadidan yaitu pembicaraan yang benar, jujur, lurus, tidak bohong, dan tidak berbelit-belit. Kata qaulan sadidan disebut dua kali dalam Al-Qur’an.

Kebohongan tentulah sangat merugikan banyak pihak. Dan sangat berbahaya jika isi ceramah mengandung kebohongan. Tausiah, pesan, ataupun nasihat ceramah harus dilandasi sumber yang kredibel seperti Al-Qur’an; nasab keilmuannya juga jelas, bebas dari cacat keilmuan.

Manakala ada pendakwah yang sering mencaci maki, bahasanya kasar, bahkan acap kali isi ceramahnya bernuansa adu domba ataupun provokasi, tentu jangan kita ikuti. Karena hal ini jelas bukan tuntunan yang bersumber dari Rasulullah SAW alias cacat nasab keilmuannya.

Dalam tradisi ulama-ulama ahli sunnah wal jama’ah, nasab keilmuan mendapat tempat yang sangat penting. Artinya, apa yang disampaikan benar-benar ilmu yang bersumber dari nabi yang turun-temurun tidak terputus ke sahabat tabi’in, tabiut tabi’in, dan ulama-ulama terdahulu.

Ketiga, prinsip qaulan maysuran yang bermakna berkata dengan mudah atau gampang. Berkata dengan mudah dalam hal ini maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti, dan dipahami oleh audiens atau jamaah.

Salah satu prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan mendekatkan manusia dengan Tuhannya dan hamba-hambanya yang lain bukan malah memecah belah. Islam mengharamkan setiap komunikasi yang membuat manusia terpisah dari Tuhannya dan hamba-hambanya.

Seorang dai yang baik harus mampu menampilkan dirinya sehingga disukai dan disenangi orang lain. Untuk bisa disenangi orang lain, ia harus memiliki sikap simpati dan empati. Di samping itu juga harus dibarengi dengan pesan-pesan komunikasi yang disampaikan secara arif dan bijaksana serta menyenangkan, tidak mengandung umpatan ataupun caci maki.

Keempat, prinsip qaulan baligha, yaitu ucapan yang lugas, efektif, dan tidak berbelit-belit (QS An-Nisa : 63). Kelima, prinsip qaulan ma’rufa, yaitu perkataan yang baik, santun, dan tidak kasar sebagaimana termaktub dalam QS An-Nisa: 5, QS. Al-Baqarah: 235, 263, dan QS. Al-Ahzab: 32). Dan keenam, prinsip qaulan karima, artinya kata-kata yang mulia dan penuh penghormatan (QS. Al-Isra: 23).

Harapannya dengan berbagai prinsip dakwah kebangsaan kehidupan berbagsa dan beragama di negeri ini menjadi rukun. Ini adalah menjadi tugas kita semua untuk mengantarkan umat Islam meraih martabat yang mulia. Sehingga citra Islam dimata umat agama lainnya menjadi positif, dalam artian Islamophobia dalat kita gerus. Apalagi, berdakwah dengan santun juga akan mewujudkan umat Islam menjadi berkeadaban dan bermartabat.

Dakwah moderat menjadi jalan tengah yang menjahit perbedaan, mengikis kebencian, dan merawat persatuan. Dengan menghidupkan enam prinsip dakwah kebangsaan, para dai bukan hanya mengukuhkan keislaman yang berakhlak, tetapi juga memperkokoh keindonesiaan yang beradab. Inilah ikhtiar bersama untuk menjadikan mimbar sebagai cahaya, bukan bara; sebagai penyejuk, bukan pemecah; dan sebagai suluh damai dalam rumah besar bernama Indonesia, termasuk di ruang-ruang digital.

Suwanto

Penulis merupakan Peneliti Multiple-Representation Learning di PPs Pend.Kimia UNY, Interdisciplinary Islamic Studies di Fak. Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, dan Culture Studies di UGM

Recent Posts

Kritis Bukan Berarti Tidak Taat, Moderat Bukan Berarti Mengkompromikan Syariat!

Ada anggapan bahwa anak muda yang kritis terhadap pandangan keagamaan berarti kurang taat. Sebaliknya, mereka…

3 menit ago

Bahaya Tersembunyi di Balik Kesalehan : Mudah Menghakimi dan Merasa Paling Benar

Ada fase dalam hidup ketika seseorang bertanya, “Aku ini siapa, dan hidupku untuk apa?” Bagi…

1 hari ago

Jihad Intelektual: Merebut Kembali Narasi Keberagamaan dari Cengkeraman Kebencian

Semangat keberagamaan generasi muda kita hari ini tengah berdiri di persimpangan dua peradaban besar: tradisi…

1 hari ago

Kehidupan Digital, Gelombang Aksi Demonstrasi Para Pelajar Prancis, dan Intertonikalitas

Hari ini, di Prancis, para pelajar seperti akan mengulang peristiwa revolusi mahasiswa ’68: sebentuk jeda…

1 hari ago

Algoritma Hitam-Putih Beragama: Saatnya Moderasi Dunia Digital Diperlukan!

Di media sosial, perbedaan pendapat tentang agama sering kali tidak berhenti sebagai perbedaan penafsiran. Ia…

2 hari ago

Wajah Baru HTI: Dari Podcast ke Stand Up Comedy

Dulu, ketika mendengar nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bayangan yang melintas di kepala sebagian besar…

2 hari ago