Dulu, ketika mendengar nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bayangan yang melintas di kepala sebagian besar masyarakat mungkin adalah barisan demonstran berpeci, bendera hitam-putih bertuliskan kalimat tauhid yang dikibarkan tinggi-tinggi di kawasan Monas, serta seruan tegas tentang penegakan khilafah di ruang-ruang publik.
Narasi mereka disampaikan secara eksplisit dan kaku lewat majelis-majelis formal, buletin cetak Al-Islam yang dibagikan saban Jumat di masjid-masjid, hingga diskusi oleh BEM di kampus-kampus negeri ternama. Namun, setelah resmi dilarang oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2017 melalui pencabutan status hukumnya, apakah narasi dan gerakan ideologis tersebut lantas menguap begitu saja dari bumi pertiwi?
Jawabannya, tentu tidak. Sejarah gerakan sosial dan ideologi menunjukkan bahwa sebuah pemikiran atau doktrin politik-keagamaan jarang sekali mati hanya karena pembubaran organisasi secara legal-formal. Organisasi bisa dibubarkan dan dilarang, namun pesannya tetap bisa disebarkan, melalui kemasan, retorika, dan media yang berbeda.
Di era digital saat ini, ideologi yang pernah berada di bawah bendera HTI melakukan metamorfosis visual dan kultural yang sangat mulus. Mereka melanggengkan doktrin lama lewat wajah baru yang jauh lebih ramah, ngepop, dan dekat dengan keseharian anak muda. HTI bertransformasi dari bentuk gerakan ideologis yang doktriner menuju gerakan kultural yang adaptif pada budaya populer, termasuk podcast (siniar), komik, video pendek medsos, sampai stand up comedy (lawak tuggal).
Bagi Generasi Z, indoktrinasi yang bersifat menggurui, dogmatis, apalagi intimidatif sudah lama kehilangan daya pikatnya. Anak muda hari ini memiliki kecenderungan alamiah untuk skeptis terhadap wacana politik berat yang disampaikan dengan nada tinggi atau orasi yang berapi-api. Para pentolan HTI agaknya paham betul dengan perubahan ini. Maka, para eksponen HTI pun mengubah strategi gerakan menjadi lebih related dengan karakter anak muda.
Doktrin politik yang dulunya terkesan berat, kaku, dan kontroversial kini dipoles sedemikian rupa agar terasa relevan, santai, estetis, dan tidak memicu kecurigaan. Maka, tidak mengherankan jika tokoh HTI sekelas Felix Shiaw hari ini rajin berkolaborasi dengan banyak komika (pelaku stan up comedy dan rajin datang ke banyak podcast yang digawangi para pelawak tunggal tersebut.
Di podcast pun Felix tidak lagi mengobral materi tentang kejayaan Islam, khilafah, atau kisah heroik peperangan merebut Konstantinopel seperti dilakukannya dulu ketika HTI masih eksis. Alih-alih itu, ia sekarang lebih banyak membahas tentang parenting, karir anak muda, kesehatan mental, bahkan anime atau manga.
Membongkar Kamuflase
Apakah ia sudah melepas ideologi khilafahnya? Tentu belum. Apa yang dilakukannya saat ini adala bagian dari kamuflase dan rebranding personal. Ia memakai isu-isu parenting, karir, dan kesehatan mental untuk menutupi jejak kelamnya yang akrab dengan isu-isu radikal dan ekstremisme. Ia rajin bergaul dengan para komika untuk mengubah citranya yang identik dengan ideologi ekstrem menjadi figur yang lucu, santai, dan ramah Gen Z.
Padahal, jika kita jeli memperhatikan, penampilan Felix di banyak podcast bersama para komika masih sering menyelipkan narasi-narasi yang selama ini identik dengan pola pikir para khilafaher. Misalnya, ketika membahas soal parenting anak di sebuah podcast, Felix dengan tegas menyebut bahwa kenakalan anak itu diakibatkan oleh sistem parenting sekuler yang tidak menjadikan agama sebagai fondasi dasarnya.
Di podcast lain, ketika membahas tentang sulitnya anak muda mendapat pekerjaan impian, Felix buru-buru menghakimi sistem ekonomi kapitalis sebagai penyebabnya. Begitu pula ketika ia membahas tentang fenomena maraknya korupsi di kalangan pejabat. Tanpa ragu, ia menyebut fenomena itu dilatari oleh sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia.
Meski tidak secara eksplisit menyebut khilafah sebagai solusi tunggal atas persoalan-persoalan tersebut, audiens akan secara otomatis berpikir ke arah sana. Kampaye ideologi khilafah hadir dalam pendekatan yang soft-selling, bukan hard-selling. Felix hadir sebagai sosok yang seolah-olah netral dan tidak punya tendensi apa apa, padahal sejatinya ia membawa segudang misi untuk memasarkan kembali khilafah.
Strategi kamuflase kultural ini relatif berhasil mengelabui anak muda. Terbukti, label radikal itu perlahan luntur dari diri Felix. Banyak komika yang dulu kritis bahkan anti padanya pun kini mau podcast bersama dan tanpa sadar memberikan panggung dan sorotan pada Felix Shiaw. Salah satu faktornya adalah karena hari ini, anak muda muslim urban kehilangan sosok yang otoritatif dalam konteks gerakan Islam moderat.
Praktis hanya ada Habib Ja’far yang hari ini bisa dikatakan representatif untuk disebut sebagai tokoh Islam moderat yang dekat dengan Gen Z, otoritatif, dan punya basis massa besar di media digital. Di saat yang sama, banyak para kiai muda atau Gus yang sebenarnya berpandangan moderat justru kerap menjadi “public enemy” di kalangan muslim urban, karena gaya hidupnya yang dianggap tidak islami.
Tantangan Kiai dan Gus
Melihat fenomena ini, kita patut menyadari bahwa membentengi generasi muda dari infiltrasi ideologi ekstrem tidak lagi cukup hanya dengan pendekatan hukum, pelarangan simbol fisik, atau pembubaran organisasi secara legal. Benteng pertahanan yang paling nyata dan berkelanjutan terletak pada revitalisasi nalar kritis dan pemahaman keagamaan yang mendalam di tingkat individu.
Anak muda perlu dibekali dengan kemampuan membongkar narasi. Anak muda wajib mampu membongkar selubung kemasan yang menyamarkan ideologi ekstrem ke dalam bentuk budaya dan estetika populer.
Di saat yang sama, kita perlu mengembalikan otoritas keislaman ke tangan yang benar. Di titik ini, pesantren sebagai sumber tradisi keilmuan paling otoritatif harus bertransformasi dari sekadar lembaga pendidikan menjadi institusi gerakan kultural. Para kiai, gus, dan santri wajib hadir di media sosial dengan narasi keislaman moderat. Jika kelompok radikal bisa luwes beradaptasi dengan gaya hidup Gen Z urban, mengapa para kiai dan Gus tidak? Inilah tantangan yang harus dijawab ke depan.
Di media sosial, perbedaan pendapat tentang agama sering kali tidak berhenti sebagai perbedaan penafsiran. Ia…
Laporan Digital 2026 dari DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia…
Bagi generasi digital hari ini, game online telah melampaui definisi sederhana sebagai sarana hiburan. Di…
Sebuah kanal game bisa memiliki ribuan pengikut, jadwal siaran yang teratur, dan penonton yang selalu…
Bagaimana jika anak kita bertemu seseorang di gim daring yang selalu memujinya, mendengarkan keluhannya, lalu…
Tragedi Penembakan Masjid Christchurch pada 15 Maret 2019 menjadi titik balik bersejarah bagi Selandia Baru.…