Bagi sebagian besar orang tua, pemandangan anak sedang bermain gim daring barangkali tidak asing. Bermain gim telah menjadi salah satu gaya hidup paling populer bagi anak-anak dan remaja dari beragam latar belakang sosial. Namun, di balik grafis yang memukau dan keseruan bermain gim, ada ancaman sunyi yang kerap tidak terdeteksi, yakni digital grooming.
Istilah grooming pertama kali dipakai dalam konteks pelecehan seksual pada anak dengan medium media digital daring. Grooming adalah upaya menjadikan media digital daring sebagai alat untuk mendekati dan memanipulasi anak-anak demi kepentingan orang dewasa.
Dalam perkembangannya, istilah grooming tidak hanya identik dengan isu kekerasan seksual anal di platform daring. Namun, istilah ini juga merambah ke isu lain, termasuk ideologi radikal-ekstremisme. Dalam konteks ini, grooming merujuk pada fenomena ketika platform digital daring, termasuk gim, dipakai oleh aktor jaringan radikal-ekstremisme untuk menyebarkan doktrin sekaligus menjaring pengikut baru. Selain media sosial, gim daring kini menjadi medium favorit kelompok ekstremis untuk menjaring simpatisan baru di kalangan anak-anak.
Gim daring dipilih karena karakteristiknya yang berbeda dengan media sosial. Gim daring memiliki banyak varian dan semuanya memiliki basis penggemarnya sendiri-sendiri. Gim berbasis block seperti Roblox dan Minecraft, sangat digemari oleh anak-anak hingga remaja. Sementara gim bergenre FPS (First Person Shoote) seperti Call of Duty, Polyfield, World War 2, dan sebagainya menyasar kelompok remaja dan anak-anak.
Gim daring kini tak lagi sekadar hiburan pengisi waktu luang, melainkan telah bergeser menjadi medium baru rekrutmen jaringan ekstremis. Indoktrinasi tidak lagi terjadi melalui forum sakral seperti jaulah, liqo’, kajian, daurah, dan sebagainya. Indoktrinasi, bahkan rekrutmen jaringan ektremis kini bisa dilakukan melalui medium teknologi digital, salah satunya gim daring.
Bagaimana Agen Ekstremisme Menjebak Anak-anak Kita?
Rekrutmen jaringan ekstremisme di dunia gim tidak terjadi secara instan dalam semalam. Para agen radikalisasi memanipulasi kerentanan emosional anak melalui strategi bertahap yang sangat terstruktur. Menurut Rachell O’Connor, grooming terhadi dalam lima tahap.
Pertama, targeting, yakni mengidentifikasi target yang akan menjadi objek rekrutmen. Identifikasi target ini biasanya ditentukan dengan memetakan kondisi psikologis anak. Anak-anak yang mengalami krisis mental, seperti anak broken home, kesepian, atau korban bullying, akan menjadi target empuk bagi agen radikalisasi. Kerentanan emosional inilah yang menjadi pintu masuk untuk mendekati lalu mengindoktrinasi.
Kedua, building trust, yakni upaya membangun kepercayaan. Setelah target diidentifikasi, perekrut mulai masuk memposisikan diri sebagai teman yang suportif. Mereka membantu level gim, bahkan membelikan skin atau senjata langka. Di tahap ini, anak merasa menemukan figur yang peduli, menghargai, dan memahami perasaan mereka.
Ketiga, migration, yaitu perpindahan media komunikasi dari gim daring ke aplikasi perpesanan Ketika anak mulai percaya, mereka akan digiring untuk memindahkan medium komunikasi dari gim daring ke platform perpesanan yang lebih tertutup seperti WhatsApp, Telegram, atau Discord. Aplikasi-aplikasi itu dipilih lantaran lebih eksklusif dan lebih personal.
Keempat, isolation, yakni pengucilan. Inilah fase ketika anak dijauhkan dari orang tua, teman, dan lingkungannya. Anak-anak akan dicekoki pandangan bahwa keluarga dan teman yang berbeda pandangan adalah musuh.
Kelima, indoctrination, yaitu proses menanamkan ideologi radikal-ektrem ke anak-anak. Begitu fondasi kepercayaan terbangun kokoh, doktrin radikalisme pun mulai disuntikkan secara halus. Misalnya, melalui medium budaya pop yang tren di kalangan anak dan remaja. Seperti, meme, lelucon gelap (dark joke), video, dan sebagainya yang disusupi oleh propaganda tentang ideologi radikal-ekstrem. Isu kekerasan dan peperangan dibungkus rapi seolah-olah merupakan bagian dari tindakan heroik yang suci.
Keenam, activation atau mobilization, yakni upaya mendorong anak melakukan tindakan kekerasan dan teror di dunia nyata. Bentuk aktivasi ini bervariasi, mulai dari menyebarkan propaganda di komunitasnya, merekrut teman sebaya, mendanai kegiatan lewat dompet digital, hingga pada kasus ekstrem, terdorong melakukan kekerasan fisik demi membuktikan loyalitas.
Menjaga Anak Tanpa Merenggut Dunianya
Menyelamatkan anak dari grooming ekstremis tidak bisa dilakukan dengan cara represif, seperti menutup akses anak pada media digital. Cara represif justru bisa menjadi boomerang. Ketika rumah menjadi tempat yang penuh tekanan, penghakiman, dan larangan, anak justru akan makin mencari pelarian emosional di ruang digital.
Memasang aplikasi canggih di gawai pintar yang mereka gunakan juga tidak cukup. Mekanisme pengawasan yang paling efektif adalah memperkuat relasi anak-orang tua di dunia nyata. Orang tua harus hadir secara fisik dan emosional dalam kehidupan anak. Meluangkan waktu untuk bermain gim daring bersama, membahas karakter permainan, serta berdiskusi tentang bahaya grooming, jauh lebih efektif melindungi anak dari grooming, ketimbang melarang sepenuhnya anak bermain gim daring.
Selain itu, orang tua harus memiliki kepekaan terhadap perubahan perilaku anak-anak. Orang tua wajib waspada jika anak tiba-tiba menjadi sangat tertutup, menarik diri dari lingkungan sosial, apalagi sering menggunakan istilah-istilah asing berbau kebencian. Perubahan emosi, cara berkomunikasi, dan perilaku merupakan indikasi awal anak-anak terkena paparan ideologi radikal.
Di atas semua itu, kita perlu membekalai anak-anak dengan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Ajarkan anak untuk menyaring informasi dan berani mempertanyakan hal-hal yang janggal. Misalnya, mengapa orang yang baru dikenal di gim tiba-tiba membelikan skin dan senjata? Ajari anak untuk berani menolak pada tawaran yang mencurigakan.
Pada akhirnya, harus diakui bahwa indoktrinasi dan rekrutmen radikalisme-ekstremisme pun telah berevolusi. Ini artinya, perang melawan terorisme belum usai. Perang itu berpindah ke arena digital, salah satunya di platform gim daring. Inilah perang senyap yang kerap kali tidak terlihat. Perang yang hanya bisa dimenangkan ketika orang tua, guru, masyarakat, dan anak saling bersinergi untuk menutup celah masuknya infiltrasi radikalisme daring.
Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari dunia yang dikenal orang tua mereka.…
Bayangkan seorang anak yang sedang bermain gim daring. Ia bertemu pemain lain yang ramah, sering…
“Senjata terus diproduksi, kabar bohong menyebar secepat kilat, dan alam dikuras tanpa jeda. Di hadapan…
Suatu malam, saya melihat sebuah unggahan yang sebenarnya biasa saja. Seseorang membagikan pendapatnya tentang sebuah…
Di tepi barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Nogotirto, Gamping, Sleman, membentang sebuah kawasan yang…
Rentetan kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah belakangan ini telah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan.…