Narasi

Anggapan Keliru Kearifan Lokal dan Tradisi Menodai Akidah

Akidah mana yang tercemari oleh pujian-pujian kepada nabi, bunyi rebana, wewangi kemenyan, atau bahkan ziarah kubur? Budaya apa yang bisa merusak akidah seseorang? Lalu, dengan keimanan yang kita punya, kita harus berbuat apa?

Sebagian orang mungkin akan kembali mempertanyakan itu. Terlebih bagi seseorang yang baru belajar agama. Pencarian akan iman dan kebenaran itu penting untuk diusahakan.

Sebagaimana Nabi Ibrahim yang kala itu menggerakkan jiwa dan raganya untuk menemukan Yang Esa. Nabi Ibrahim mencari dan memantapkan akidahnya dari pengamatannya melihat bintang, bulan, tumbuhan, angin. Dan segala yang ada di sekitarnya.

Nabi Ibrahim tak pernah lelah mencari jalan kebenaran. Ia berusaha sekuat tenaga mendefinisikan siapa yang berhak disembah. Hingga pada puncaknya Nabi Ibrahim diberikan isyarat untuk memotong seekor burung menjadi empat. Keempat potongan itu diletakkan di atas puncak bukit yang berjauhan, atas kuasaNya empat potongan burung tadi berubah menjadi empat burung yang terbang di depan Nabi Ibrahim.

Usaha untuk memantapkan akidah bukanlah usaha yang mudah. Kebanyakan kaum beragama atau orang islam di Indonesia akhir ini beragama karena skenario biologis. Misal, karena orang tuanya muslim, maka anaknya ikut muslim. Berbeda seperti pencarian Nabi Ibrahim pada kisah sebelumnya.

Jauh setelah itu muncul nabi-nabi yang menuntun akidah umat Islam, di antaranya Nabi Isa dan Muhammad Saw. Semua nabi masihlah memperjuangkan keimanan dan mencari jalan kebenaran. Karena keimanan bukan barang pasif, keimanan sebagaimana yang diajarkan nabi-nabi adalah sebuah teladan baik.

Lalu, bagaimana jika hari ini kita dihadapkan dengan pertanyaan akidah mana yang murni? Atau perdebatan tentang akidah dan tradisi. Bahkan anggapan keliru tentang kearifan lokal atau tradisi mengeruhkan akidah seseorang.

Umat manusia jauh sebelum agama ada telah hidup merumuskan pedoman hidupnya masing-masing. Misalnya, sebelum masuknya Islam orang Indonesia memeluk agama lokalnya masing-masing, Penghayat, Hindu, Budha, atau lainnya. Dari agama sebelumnya tentulah meninggalkan warisan tradisi.

Lalu tradisi itu tetaplah ada hingga munculnya Islam di Indonesia. Tradisi berabad hidup di tengah masyarakat. Akan kah Islam sebagai agama yang baru itu serta merta menganggap warisan tradisi itu hal yang buruk? Tentu tidak serta merta demikian.

Sebagaimana ajaran Wali Songo kala itu yang menyebarkan agama Islam di Indonesia ini dengan teduh menyejukkan. Bagaimana caranya? Melalui pendekatan kebudayaan dan mendekatkan diri kepada masyarakat. Jika tidak Islam sebagai akidah yang baru itu tidak lah mudah diterima di Indonesia.

Misal saja, kalau mengulik kembali metode dakwah Wali Songo dengan jalan kebudayaan. Sunan Kali Jaga mengajak rakyat Indonesia masuk Islam dengan cara pertunjukan wayang atau ikut serta mengadu ayam terlebih dahulu. Sunan Bonang dengan tembang dan sastra sufistik. Begitu pula dengan Wali Songo lainnya.

Jadi, tradisi tidak untuk dihabisi, sebisa mungkin tradisi lama yang baik tetaplah diimplementasikan dalam panggung sosial kemasyarakatan. Dengan itu, masyarakat akan mudah menerima maksud baik ajaran Islam. Sebagaimana ungkapan Ulama Nusantara; merawat sesuatu hal (tradisi lama) yang baik (yang buruk ditinggalkan), serta merawat yang sesuatu hal (tradisi baru) yang lebih baik.

Penulis yakin, setiap daerah memiliki kearifan lokalnya masing-masing. Produk kebudayaan yang arif dan bermanfaat bagi masyarakat perlu lah terus dirawat. Sedangkan, jika ada tradisi lama atau baru yang tidak baik atau bertentangan dengan nilai islam, maka perlulah untuk dimusnahkan.

Dari uraian itu, kita sangat lah bisa dengan mudah menjawab bahwa memuji nabi dengan banjari atau sholawatan, muludan, tahlilan, atau bahkan ziarah kubur; merupakan tradisi keagamaan yang baik. Misal muludan, memperingati kelahiran dan kepulangan Nabi Muhammad kepada Sang Khalik, mengapa tidak boleh kita rayakan, ulang tahun kekasihmu saja juga pengennya kamu rayakan, kan?!

Al Muiz Liddinillah

Recent Posts

Masjid Rasa Kelenteng; Akulturasi Arsitektural Islam dan Tionghoa

Menarik untuk mengamati fenomena keberadaan masjid yang desain arsitekturnya mirip atau malah sama dengan kelenteng.…

2 bulan ago

Jatuh Bangun Konghucu Meraih Pengakuan

Hari Raya Imlek menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali relasi harmonis antara umat Muslim dengan masyarakat…

2 bulan ago

Peran yang Tersisihkan : Kontribusi dan Peminggiran Etnis Tionghoa dalam Sejarah

Siapapun sepakat bahwa kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia tidak didominasi oleh satu kelompok berdasarkan…

2 bulan ago

Yang Diskriminatif adalah yang Jahiliyah

Islam melarang sikap diskriminasi, hal ini tercermin dalam firman Allah pada ayat ke-13 surat al-Hujurat:…

2 bulan ago

Memahami Makna QS. Al-Hujurat [49] 13, Menghilangkan Pola Pikir Sektarian dalam Kehidupan Berbangsa

Keberagaman merupakan salah satu realitas paling mendasar dalam kehidupan manusia. Allah SWT dengan tegas menyatakan…

2 bulan ago

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ideologi : Pilar Mereduksi Ekstremisme Kekerasan

Dalam visi Presiden Prabowo, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa.…

2 bulan ago