Keagamaan

Bahaya Tersembunyi di Balik Kesalehan : Mudah Menghakimi dan Merasa Paling Benar

Ada fase dalam hidup ketika seseorang bertanya, “Aku ini siapa, dan hidupku untuk apa?” Bagi banyak anak muda, jawabannya ditemukan dalam agama. Mereka mulai rajin beribadah, berbusana lebih sopan, dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Itu kabar yang sangat menggembirakan.

Namun para ulama sejak lama mengingatkan bahwa jalan menuju Allah memiliki tikungan yang licin. Salah satunya adalah ketika semangat menjadi saleh perlahan berubah menjadi semangat menyalahkan orang lain.

Mengapa itu bisa terjadi? Secara psikologis, identitas yang baru ditemukan masih rapuh. Orang yang sedang mencari pijakan cenderung memeluk kepastian dengan sangat erat. Agar merasa aman, pikiran menarik garis tegas: “kami yang benar” dan “mereka yang keliru”. Garis ini menenangkan, tetapi harganya mahal.

Orang lain tidak lagi dipandang sebagai manusia yang sedang berproses, melainkan sebagai ancaman bagi rasa benar dalam diri kita. Ambisi kesalehan yang tinggi menambah tekanan itu: semakin besar cita-cita menjadi saleh, semakin besar pula keinginan untuk diakui sebagai orang saleh. Perbedaan terasa seperti serangan, dan menyalahkan menjadi cara untuk membela diri.

Di sini bekerja mekanisme yang dikenal dalam ilmu jiwa, yaitu proyeksi. Kegelisahan dan kekurangan yang tidak berani kita tatap di dalam diri, kita pindahkan kepada orang lain. Marah pada diri sendiri berubah menjadi marah pada pihak yang dianggap menyimpang. Menyalahkan memberi kelegaan sesaat, tetapi diam-diam mencuri kesempatan kita untuk berkaca. Semakin sering kita menunjuk, semakin jarang kita bercermin.

Tradisi Islam telah mendiagnosis penyakit ini dengan teliti, dan tahapannya bisa dibaca lewat empat istilah Arab. Pertama, ‘ujb (عجب), yaitu kagum pada amal sendiri hingga lupa bahwa kemampuan beribadah adalah karunia. Dari sini tumbuh kibr (كبر). Nabi SAW menjelaskannya sebagai menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Iblis menjadi contoh abadinya lewat ucapan “ana khayrun minhu”, aku lebih baik darinya. Kibr lalu mendorong ghuluw (غلو), yakni melampaui batas dalam beragama, yang membuat lidah ringan menjatuhkan vonis sesat dan kafir. Ujungnya adalah tahrisy (تحريش), menyulut permusuhan antarsesama, yang menurut hadis menjadi upaya terakhir setan setelah gagal mengajak orang-orang salat menyembahnya.

Para sufi menyebut perangkap ini lebih halus daripada maksiat biasa. Ketika nafsu tidak lagi bisa menikmati dunia, ia pindah mencari kenikmatan yang lebih senyap: merasa paling suci, paling benar, dan berhak menghakimi. Egonya tidak mati, hanya berganti pakaian. Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari pernah mengingatkan bahwa maksiat yang melahirkan rasa hina dan butuh kepada Allah lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa mulia dan sombong. Sebab ibadah yang membuat kita menunjuk orang lain, bukan menunduk di hadapan-Nya, telah kehilangan ruhnya.

Hadis tentang dua lelaki dari Bani Israil menggambarkannya dengan terang. Seorang ahli ibadah terus menegur temannya yang gemar berbuat dosa, hingga suatu hari ia berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu.” Allah lalu berfirman bahwa Dia telah mengampuni si pendosa dan menggugurkan amal si ahli ibadah. Pelajarannya sederhana: kita boleh mengingatkan, tetapi tidak pernah diberi kuasa menentukan nasib orang lain di hadapan Tuhan.

Lalu apa obatnya? Pertama, ubah arah pertanyaan. Sebelum bertanya “siapa yang salah?”, tanyakan “apa yang masih keliru dalam diriku?” Kedua, belajarlah mengasihi diri sendiri. Orang yang mampu menerima kekurangannya lebih mudah menerima kekurangan orang lain, sedangkan harga diri yang rapuh selalu butuh musuh untuk merasa tinggi. Ketiga, tuntutlah ilmu dengan adab, pelan-pelan, dan bersama guru. Ilmu yang matang melahirkan rendah hati, sementara ilmu yang tergesa melahirkan rasa unggul. Keempat, bedakan antara membela kebenaran dan membenci manusia. Kita boleh tegas terhadap kemungkaran, tetapi tetap lembut kepada pelakunya.

Al-Qur’an memberi teladan yang indah. Ketika Allah mengutus Musa dan Harun kepada Firaun, penguasa yang paling zalim, perintah-Nya tetap berbunyi: berbicaralah kepadanya dengan lemah lembut (QS. Thaha: 44). Jika kepada Firaun saja kelembutan diperintahkan, betapa lebih layak kita bersikap lembut kepada sesama Muslim yang sekadar berbeda jalan atau belum sempurna langkahnya.

Ukuran kesalehan bukanlah seberapa banyak orang yang berhasil kita koreksi, melainkan seberapa lembut kita memperlakukan sesama sambil terus memperbaiki diri. Bila ibadah membuat kita lebih rendah hati, lebih peka, dan lebih sabar, di situlah iman sedang tumbuh. Bila ia membuat kita sibuk menunjuk, mungkin yang perlu diperiksa lebih dulu bukan orang lain, melainkan hati kita sendiri.

Samachatul Maula

Recent Posts

Jihad Intelektual: Merebut Kembali Narasi Keberagamaan dari Cengkeraman Kebencian

Semangat keberagamaan generasi muda kita hari ini tengah berdiri di persimpangan dua peradaban besar: tradisi…

2 jam ago

Kehidupan Digital, Gelombang Aksi Demonstrasi Para Pelajar Prancis, dan Intertonikalitas

Hari ini, di Prancis, para pelajar seperti akan mengulang peristiwa revolusi mahasiswa ’68: sebentuk jeda…

2 jam ago

Algoritma Hitam-Putih Beragama: Saatnya Moderasi Dunia Digital Diperlukan!

Di media sosial, perbedaan pendapat tentang agama sering kali tidak berhenti sebagai perbedaan penafsiran. Ia…

1 hari ago

Wajah Baru HTI: Dari Podcast ke Stand Up Comedy

Dulu, ketika mendengar nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bayangan yang melintas di kepala sebagian besar…

1 hari ago

Ustaz Viral, Ilmu Dangkal? Menguji Otoritas Keagamaan di Tengah Banjir Konten Digital

Laporan Digital 2026 dari DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia…

1 hari ago

Dari Rambo ke Roblox: Gamifikasi Teror dan Urgensi Ketahanan Digital Anak

Bagi generasi digital hari ini, game online telah melampaui definisi sederhana sebagai sarana hiburan. Di…

4 hari ago