Narasi

Belajar Agama Ala Pesantren; Menghindarkan Anak Muda dari Jebakan Radikalisme!

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah lama eksis di Indonesia, berfungsi sebagai wadah pembentukan pribadi yang religius, berakhlak mulia, dan memiliki wawasan kebangsaan yang luas. Pendidikan agama di pesantren diarahkan tidak hanya pada penguasaan ilmu agama semata, tetapi juga pada pengembangan sikap toleran dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan. Dalam konteks ini, santri dididik untuk menjadi pribadi yang mampu memahami, menghargai, dan hidup berdampingan dengan perbedaan.

Pendidikan di pesantren secara umum menekankan pada pendekatan holistik, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam aspek kognitif, santri diajarkan berbagai ilmu agama seperti tauhid, fikih, tafsir, hadits, dan tasawuf. Materi-materi ini diberikan dengan tujuan agar santri memiliki pemahaman yang komprehensif tentang ajaran Islam. Namun, pendidikan agama di pesantren tidak berhenti pada penguasaan teori semata.

Santri juga diajarkan untuk menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup aspek afektif dan psikomotorik. Pengembangan aspek afektif terlihat dalam pembentukan sikap dan perilaku santri yang mencerminkan akhlak mulia, seperti jujur, sabar, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Sementara itu, aspek psikomotorik tercermin dalam berbagai kegiatan praktis seperti ibadah, kerja bakti, dan kegiatan sosial.

Salah satu nilai penting yang ditekankan dalam pendidikan agama di pesantren adalah toleransi. Toleransi di sini bukan berarti membenarkan segala sesuatu yang berbeda dengan keyakinan kita, tetapi lebih kepada sikap menghargai perbedaan dan mengakui keberagaman sebagai bagian dari realitas kehidupan. Santri diajarkan bahwa perbedaan adalah sunatullah, sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah sebagai bagian dari tatanan dunia ini.

Dalam hal ini, santri didorong untuk memahami bahwa perbedaan dalam keyakinan, budaya, dan pandangan hidup adalah sesuatu yang harus diterima dan dihargai, bukan diperdebatkan apalagi dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan. Hal ini sejalan dengan jaran Islam sendiri sangat menekankan pentingnya perdamaian dan penolakan terhadap kekerasan. Al-Qur’an dan Hadits banyak mengajarkan tentang pentingnya hidup damai dalam perbedaan, menghindari permusuhan, dan serta berbuat baik kepada sesama.

Di pesantren, ajaran-ajaran ini tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Santri diajarkan untuk menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang damai, melalui dialog dan musyawarah. Mereka juga diajarkan untuk menghindari tindakan kekerasan, baik dalam bentuk fisik maupun verbal, dan lebih mengutamakan pendekatan persuasif dan edukatif dalam menghadapi masalah.

Santri diajarkan bahwa Islam adalah agama yang inklusif, yang menghargai perbedaan dan mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama lain. Dalam konteks ini, pesantren berperan sebagai miniatur masyarakat yang plural, di mana santri dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan daerah berkumpul dan belajar bersama. Hal ini membantu santri untuk belajar hidup dalam keberagaman, menghargai perbedaan, dan menjauhi sikap eksklusif yang dapat memicu konflik dan kekerasan di masyarakat.

Santri diajarkan untuk tidak menerima segala sesuatu secara dogmatis, tetapi untuk berpikir kritis dan analitis dalam memahami ajaran agama. Mereka diajarkan untuk menggali dan memahami makna ajaran agama secara mendalam, tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga konteks. Pendekatan ini membantu santri untuk memiliki pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang ajaran agama, sehingga mereka tidak mudah terprovokasi oleh paham-paham radikal yang menggunakan agama sebagai alat untuk membenarkan kekerasan.

Helliyatul Hasanah

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago