Di ruang digital, pesan keagamaan tidak hanya bersaing dengan ceramah lain, tetapi juga dengan potongan video, narasi provokatif, dan konten yang dirancang untuk merebut perhatian. Dalam situasi ini, kedalaman ilmu agama saja tidak selalu cukup untuk membuat dakwah menjangkau masyarakat. Sebaliknya, kemampuan mengemas pesan secara menarik juga tidak menjamin bahwa isi dakwah tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
Di sinilah tantangan dakwah kontemporer bagaimana mempertemukan otoritas keilmuan Islam dengan kemampuan memahami dan mengelola komunikasi digital.
Sebagian kalangan pesantren memiliki tradisi keilmuan yang kuat melalui pengkajian kitab, penguasaan disiplin ilmu agama, dan penghormatan terhadap sanad keilmuan. Namun, kompetensi tersebut tidak otomatis disertai keterampilan mengolah pesan menjadi konten digital yang relevan bagi generasi muda.
Sebaliknya, sebagian kreator dakwah digital mampu membangun audiens melalui video pendek, bahasa populer, dan komunikasi persuasif, tetapi belum tentu memiliki kedalaman ilmu untuk menjelaskan persoalan agama secara kontekstual.
Kesenjangan ini bukan alasan untuk mempertentangkan pesantren dengan kreator digital. Justru, keduanya memiliki kompetensi yang dapat saling melengkapi. Tradisi keilmuan pesantren merupakan modal penting dalam menjaga kualitas dakwah. Pemahaman terhadap tafsir, hadis, fikih, usul fikih, dan khazanah pemikiran ulama membantu pendakwah menjelaskan persoalan agama dengan mempertimbangkan dalil, konteks, serta perbedaan pendapat.
Namun, pengetahuan yang mendalam tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi komunikasi yang efektif di media sosial. Penjelasan panjang membutuhkan strategi penyajian; persoalan kompleks perlu dikomunikasikan tanpa kehilangan konteks; sementara pesan yang ditujukan kepada generasi muda perlu mempertimbangkan bahasa, kebiasaan konsumsi informasi, dan karakter setiap platform.
Praktik literasi digital di pesantren menuntut upaya pengembangan kompetensi melalui pelatihan pembuatan konten, produksi video, dan jurnalistik Islam. Tradisi pesantren dan keterampilan digital bukan dua hal yang harus dipisahkan. Tantangannya adalah menjadikan kemampuan tersebut bagian dari pengembangan dakwah yang berkelanjutan, bukan sekadar keterampilan tambahan.
Tantangan Ekstremisme Melampaui Ceramah Konvensional
Di sisi lain, kemampuan menguasai media sosial dapat menciptakan pengaruh yang besar tanpa selalu diimbangi otoritas keilmuan yang sepadan. Konten yang singkat, emosional, dan tegas sering kali lebih mudah menarik perhatian daripada penjelasan yang mempertimbangkan banyak sudut pandang.
Penelitian tentang otoritas keagamaan di era digital menunjukkan adanya perubahan dalam cara masyarakat mengenali figur yang dianggap berwenang menjelaskan agama. Otoritas yang sebelumnya banyak bertumpu pada pengakuan keilmuan kini juga dipengaruhi oleh visibilitas, performa komunikasi, dan popularitas di media sosial.
Tantangan ini semakin serius ketika berhadapan dengan propaganda ekstremisme. Kelompok ekstrem tidak hanya menyebarkan gagasan, tetapi juga dapat mengemasnya melalui narasi identitas, video emosional, simbol kelompok, komunitas daring, dan konten yang dirancang untuk membangun rasa memiliki.
Mereka dapat menyederhanakan persoalan agama menjadi pertentangan antara kawan dan musuh, mengutip dalil tanpa konteks, lalu membingkai kekerasan sebagai pembelaan terhadap keyakinan. Ketika pesan semacam itu disebarkan dengan kemasan yang menarik dan bahasa yang sesuai dengan pengalaman audiens, bantahan yang hanya berisi penjelasan panjang belum tentu cukup menjangkau mereka.
Karena itu, kontra-narasi tidak cukup hanya benar secara teologis. Ia juga perlu memahami cara propaganda bekerja, kebutuhan emosional audiens, pola penyebaran konten, dan karakter interaksi di platform digital.
Mengawinkan Ilmu Keagamaan dan Literasi Media
Solusinya bukan meminta ulama menjadi selebritas digital atau mendorong kreator membuat konten agama tanpa pendampingan keilmuan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi yang terstruktur.
Pesantren dapat memperkuat pendidikan literasi media, verifikasi informasi, produksi konten, dan pemahaman algoritma tanpa mengorbankan tradisi keilmuannya. Para kreator digital dapat bekerja bersama ulama dan akademisi untuk memastikan bahwa penyederhanaan pesan tidak berubah menjadi penyimpangan makna.
Lembaga dakwah juga perlu membangun tim yang menggabungkan keahlian agama, komunikasi, desain, dan analisis media. Pada akhirnya, dakwah digital membutuhkan dua kemampuan yang berjalan beriringan: ilmu untuk memastikan kebenaran dan kedalaman pesan, serta literasi media untuk membuat pesan itu dipahami dan menjangkau masyarakat.
Di tengah derasnya propaganda dan persaingan perhatian, dakwah tidak cukup hanya benar tetapi tidak terdengar. Namun, bukan berarti hanya boleh menarik perhatian dengan mengorbankan kebenaran.
Masa depan dakwah bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat viral, melainkan oleh kemampuan menghadirkan ilmu yang dapat dipercaya melalui komunikasi yang relevan, bertanggung jawab, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Pada 2023, jemaat sebuah gereja di Furth, Bavaria, Jerman, mendengarkan khotbah 40 menit yang dibawakan…
Kebisingan di lini masa media sosial belakangan ini telah menjadi realitas keseharian yang tak terhindarkan.…
Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban…
Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di…
Peringatan Hari Santri selalu membawa kita pada ingatan historis tentang keberanian, ketangguhan fisik, dan kedalaman…
Momentum peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026 kembali menghidupkan ruang-ruang…