Teknologi dulu dilahirkan dengan harapan bisa mendekatkan manusia dan masa itu telah terlewat begitu saja dan sudah berubah. Ruang digital sekarang menjadi sebuah arena pertandingan atau bisa jadi sebuah hutan belantara, satu sama lain waspada dan saling menyerang. Kolom komentar yang diciptakan untuk menyapa dan ngobrol santai kini telah menjadi medan perang, tempat caci-maki. Hal ini tidak perlu ku lanjutkan, kukira ini sudah disaksikan bersama. Keadaan ketika orang tidak lagi beradu gagasan namun didasari oleh kebencian seperti ini disebut polarisasi afektif. Perbedaan warna kulit, bahasa, agama, tradisi seakan sudah cukup untuk membuat kita saling membelakangi. Pertanyaannya: mengapa identitas kita sosial kita ini begitu rapuh dan mudah diadu?
Jika kita menengok ulang sejarah bangsa kita ini, kita akan tahu bahwa hal ini sudah bukan barang baru. Nusantara tidak hanya takluk karena letusan meriam semata, tetapi karena siasat devide et impera, melemahkan lawan dengan adu domba (politik pecah belah). Kesultanan Mataram yang megah itu terbelah karena ego kekuasaan di dalam yang dimainkan dari luar. Kita sering mengira musuh datang dari seberang, padahal perpecahan yang paling efektif dibangun dari dalam. Snocuk Hurgronje mempelajari budaya kita untuk menemukan retakan yang bisa dilebarkan demi meredam perlawanan rakyat. Ironisnya, taktik tua ini dipakai oleh segelintir dari kita yang mempunyai kepentingan. Mereka tidak lagi membutuhkan serdadu. Cukup menunggangi algoritma dan hoaks, maka persaudaraan kita telah terpecah tanpa satu peluru ditembakkan. Sungguh mudah dan murah bukan? Sejarah tidak pernah benhenti mengajar, hanya saja kita yang sering berhenti belajar dan lupa mencatat.
Narasi politik sengaja dirancang untuk mengagungkan kelompok kita dan menjelekkan kelompok mereka. Label-label negatif disuntikkan terus-menerus dan berulang-ulang sebagai ejekan. Lama-lama kita tidak lagi melihat mereka sebagai manusia. Kalimat, bahasa yang dulunya lahir menjadi jembatan ikatan kini menjadi sebuah jurang dan tembok pemisah. Kita pun merasa kebenaran ada di kelompok kita sendiri lalu tanpa sadar merendahkan martabat sesama manusia.
Jika kita waras, kita tidak akan terjerumus dalam politik pecah belah. Lalu bagaimana kita menjaga kewarasan berfikir kita? Yang perlu dilakukan kita harus selalu ingat bahwa manusia adalah homo homini socius; sahabat bagi sesama. Sebelum menjadi pendukung siapa pun, kita lebih dahulu adalah manusia yang saling membutuhkan. Lahir dalam perbedaan dan memang sewajarnya berbeda, dalam perbedaan kita saling membutuhkan. Dengan kata lain, perbedaan tidak menghapus hak seseorang untuk dihormati. Memcah belah rakyat atau masyarakt adalah penghianatan terhadap kodrat kemanusiaan kita. Jika kita bisa menjaga kodrat kemanusiaan maka bukan tidak mungkin keadilan sosial akan terwujud. Keadaan kita sekarang ini mungkin karena kita tidak lagi menyelami makna Pacasila.
Prof. Notonagoro menegaskan bahwa sila persatuan tidak pernah bisa berdiri sendiri, keutuhan bangsa mutlak dijiwai oleh ketuhanan yang murni dan kemanusiaan yang beradab. Secara teologis, konsep ini satu tarikan nafas dengan ukhuwah insaniyah dalam Islam. Agama Buddha meletakkan fondasi perdamaian pada pengakuan dan penghormatan mendalam terhadap kemajemukan (Bhineka Tunggal Ika), menolak tegas pandangan sempit intoleransi. Agama Katolik, sejalan dengan dorongan Konsili Suci, mengajarkan umatnya untuk melupakan permusuhan masa lalu dengan umat beragama lain dan secara tulus melatih diri untuk saling memahami. Visi ini dikukuhkan di level global melalui Ensiklik Fratelli Tutti (Persaudaraan Semua Manusia) oleh Paus Fransiskus, yang sangat seirama dengan filosofi homo homini socius. Nilai ini bukanlah teori di atas kertas. Nenek moyang kita telah mempraktikkannya ratusan tahun silam lewat ikatan Pela Gandong di Maluku yang mendamaikan, serta filosofi Dalihan Na Tolu di tanah Batak yang merawat keharmonisan sosial secara paripurna.
Pancasila tidak boleh dibiarkan hanya menjadi sekadar tugu peringatan yang bisu di sudut sejarah. Ia harus senantiasa dihidupkan sebagai kata kerja yang nyata berdenyut dalam keseharian kita. Filsafat bangsa ini menuntut kita untuk sejenak menarik napas panjang, menahan emosi dan jemari sebelum mengetik makian di dunia maya, mulai melembutkan tutur bahasa, dan berani memilih untuk merengkuh perbedaan dengan senyuman tulus. Mari kita merenungkan hal sederhana ini bersama-sama: bukankah sapaan hangat serta jabat erat dari saudara dan tetangga di dunia nyata terbukti jauh lebih mendamaikan dan bermakna daripada larut dalam sorak-sorai kebencian semu di layar kaca?
This post was last modified on 13 Oktober 2026 2:58 PM
Seorang anak yang biasanya terbuka tiba-tiba enggan bercerita. Ia semakin tertutup tentang teman-teman daringnya, sering…
Sebagai ibu dari seorang putri berusia 10 tahun, saya kerap tergagap-gagap mengikuti perkembangannya. Misalnya, ketika…
Pukul sebelas malam, lampu kamar anak masih menyala. Orang tuanya mengira ia sedang mengerjakan tugas.…
Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari dunia yang dikenal orang tua mereka.…
Bagi sebagian besar orang tua, pemandangan anak sedang bermain gim daring barangkali tidak asing. Bermain…
Bayangkan seorang anak yang sedang bermain gim daring. Ia bertemu pemain lain yang ramah, sering…