Narasi

Parental Gaming: Revolusi Pengasuhan di Tengah Ancaman Radikalisasi Gim Daring

Sebagai ibu dari seorang putri berusia 10 tahun, saya kerap tergagap-gagap mengikuti perkembangannya. Misalnya, ketika ia suatu kali bilang, “Ibu, aku pinjam hapenya untuk mabar sama teman-teman, ya”. Saya terbengong demi mendengar kata “mabar”. Sebelumnya, saya juga kebingungan ketika dia bilang “Aku udah install Roblox di hape Ibu, jangan dihapus ya”. Saya sempat berpikir Roblox itu semacam permainan susun bata. Ternyata tidak.

Begitulah, sebagai orang tua milenial kita kerap merasakan gap generation dari anak-anak kita yang Gen Alpha dan digital native. Mabar, roblox, skin, dan istilah-istilah lain yang asing di telinga kita, begitu fasih diucapkan anak-anak kita. Di satu sisi, sebagai orang tua kita mau tidak mau menerima kultur itu sebagai hal yang normal.

Namun, di sisi lain, kita juga kerap dibebani dengan perasaan was-was. Ekosistem daring dikenal tidak ramah anak. Predator seksual, penipu finansial, sampai yang terakhir agen radikalisasi, berkeliaran di sana. Anak-anak adalah target empuk pelecehan, penipuan, dan radikalisasi.

Di titik ini, orang tua dihadapkan pada dilema. Menutup akses anak pada ekosistem digital adalah tindakan tidak bijak. Hal itu akan melahirkan pemberontakan yang lebih dahsyat. Di samping itu, pengetahuan teknis tentang teknologi digital adalah skil yang harus dikuasa anak untuk masa depannya. Namun, memberikan akses anak pada dunia daring tanpa kontrol yang ketat sama saja menjerumuskan anak ke belantara penuh jebakan dan hewan buas.

Disinilah konsep parental gaming menjadi relevan untuk diadaptasi oleh orang tua milenial. Parental Gaming bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sebuah bentuk revolusi pengasuhan digital (digital parenting). Konsep ini mengajak orang tua untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka, menanggalkan peran sebagai pengawas yang serba melarang, dan secara aktif masuk ke dalam dunia virtual anak sebagai co-player atau rekan bermain bersama (mabar).

Selama ini, jurang pemisah antara orang tua dan anak dalam hal teknologi menciptakan celah bagi masuknya ancaman, seperti pelecehan seksual, penipuan, hingga infiltrasi radikalisme. Para penjahat siber itu awalnya mendekati anak dengan menempatkan diri sebagai teman yang peduli dan berempati.

Kehadiran orang tua secara langsung dalam kehidupan digital anak, misalnya menjadi co-player ketika anak bermain gim daring, secara efektif akan mengeliminasi celah tersebut. Parental gaming secara langsung akan berdampak pada setidaknya tiga hal penting.

Pertama, menghapus jarak antar-generasi dan membentuk kepercayaan yang kuat. Umumnya, anak-anak akan cenderung defensif defensif jika diajak bicara mengenai bahaya internet melalui gaya ceramah formal. Namun, ketika seorang ibu atau ayah mau terlibat dalam aktivitas berinternet anak-anaknya, pesan-pesan itu dimungkinkan untuk disampaikan tanpa menimbulkan resistensi dari anak. Anak merasa hobinya dihargai dan diakui. Rasa saling percaya yang terbangun saat berhasil meraih kemenangan bersama di dalam gim (clutch atau Victory) menjadi fondasi yang sangat kokoh di dunia nyata.

Kedua, membangun sistem deteksi dini secara alamiah tanpa ada kesan memata-matai atau menghakimi anak-anak. Parental gaming adalah metode tepat untuk menangkal strategi radikalisasi daring yang berjalan senyap dan jauh dari pantauan orang tua, guru, bahkan aparat penegak hukum. Kelompok radikal biasanya menggunakan metode grooming yang diawali dengan obrolan santai di lobi umum, pemberian hadiah skin gim gratis, lalu secara bertahap mengajak anak berpindah ke grup obrolan rahasia yang terenkripsi.

Melalui parental gaming, orang tua memungkinkan untuk mengenali siapa saja yang menjadi teman satu tim anak. Orang tua bisa melihat bagaimana kebiasaan obrolan di server tersebut dan langsung menyadari jika ada interaksi yang tidak wajar, misalnya orang asing yang meminta informasi pribadi anak, ajakan untuk menebar kebencian, penyebaran meme atau humor yang menormalisasi kekerasan, dan sebagainya.

Ketiga, terbukanya ruang diskusi yang egaliter dan terbuka. Ketika orang tua membersamai anaknya bermain gim, anak tidak akan segan dan kebingungan bertanya tentang hal-hal yang ia temui di ruang digital. Di saat yang sama, orang tua juga dapat memberikan pemahaman secara langsung tentang literasi digital dan berpikir kritis melalui pendekatan yang informal dan tidak kaku.

Lingkungan Domestik Sebagai Benteng

Pencegahan ekstremisme kekerasan dalam skala global kini makin mengakui bahwa ketahanan utama komunitas digital berakar dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Lembaga antiterorisme internasional seperti UNOCT maupun BNPT menekankan bahwa anak muda tidak boleh hanya dipandang sebagai korban pasif, melainkan mitra aktif yang perlu dibekali imunitas digital.

Parental Gaming memungkinkan imunitas tersebut terbentuk sejak dari dalam rumah. Anak-anak yang mendapatkan perhatian, pengakuan, dan ruang aman dari orang tuanya sendiri tidak akan mudah tergiur oleh rayuan palsu yang ditawarkan oleh para perekrut di dunia maya.

Parental Gaming tidak menuntut orang tua untuk menjadi pemain gim daring yang jago, apalagi profesional. Intinya bukan pada kemahiran bermain, melainkan pada kehadiran dan keterbukaan emosional. Orang tua yang mau bertanya “Gim ini cara mainnya gimana sih, Kak?” atau “Ibu boleh coba ikut main?” adalah upaya serius melindungi anak dari paparan negatif.

Bagi orang tua yang ingin mulai menerapkan revolusi pengasuhan ini, berikut tiga langkah praktis yang bisa dilakukan mulai hari ini. Pertama, mengalokasikan waktu bermain gim daring bersama anak. Misalnya, 15-30 menit dalam seminggu, untuk benar-benar duduk mendampingi atau ikut bermain gim favorit anak tanpa memegang pekerjaan lain.

Kedua, mempelajari bahasa gim daring yang populer di kalangan anak. Hal ini akan membantu orang tua memahami kecenderungan karakter dan perilaku anak di dunia digital. Gim apa yang disukai, karakter apa yang dimainkan, dan bahasa atau simbol apa yang dipakai adalah representasi dari karakter anak tersebut.

Ketiga, membangun kepekatan terkait keamanan digital melalui momen bermain gim daring bersama. Misalnya, orang tua bisa memberi pengertian agar anak tidak memberikan data pribadi, menerima pemberian, atau melakukan apa yang disuruh oleh orang tidak dikenal di media digital.

Saya sendiri memutuskan menerapkan parental gaming ketika suatu kali anak saya bercerita bahwa temannya diajak menikah oleh seseorang di Roblox. Saya tidak menelusuri lebih jauh hal itu, namun saya cukup menjadikannya sebagai alarm warning bagi anak saya. Bahwa grooming itu nyata dan ada di sekitar kita. Tinggal menunggu giliran siapa yang akan kena. Maka, saya memutuskan bahwa sebelum giliran itu datang, anak saya sudah punya mekanisme pertahana yang kuat dan saya memiliki sistem deteksi dini yang mumpuni.

Perkembangan dunia digital, termasuk gim daring adalah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Pilihan terbaik adalah beradaptasi. Parental Gaming adalah upaya konkret beradaptasi dengan gim daring. Ketika orang tua terlibat ke dalam kultur gim daring anak-anak Gen Alpha, sejatinya mereka tengah membangun benteng pertahanan terkuat untuk menjaga jiwa, pikiran, dan masa depan anak-anak mereka dari ancaman radikalisasi.

Siti Nurul Hidayah

Recent Posts

Mengenali Tanda Awal Paparan Ekstremisme Digital: Keluarga Wajib Hadir!

Seorang anak yang biasanya terbuka tiba-tiba enggan bercerita. Ia semakin tertutup tentang teman-teman daringnya, sering…

3 jam ago

Belajar dari Anak yang Terpapar

Pukul sebelas malam, lampu kamar anak masih menyala. Orang tuanya mengira ia sedang mengerjakan tugas.…

3 jam ago

Jangan Hanya Awasi Layarnya, Mari Lindungi Anak dari Grooming dan Radikalisasi Online

Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari dunia yang dikenal orang tua mereka.…

1 hari ago

Anatomi Digital Grooming: Kenali Enam Langkah Rekrutmen Ekstremis di Gim Daring

Bagi sebagian besar orang tua, pemandangan anak sedang bermain gim daring barangkali tidak asing. Bermain…

1 hari ago

Dari Teman Mabar ke Ruang Ekstremisme: Modus Digital Grooming dalam Perekrutan Anak

Bayangkan seorang anak yang sedang bermain gim daring. Ia bertemu pemain lain yang ramah, sering…

1 hari ago

Pancasila dalam Wacana Buddha, Resep bagi Dunia yang Kian Gaduh

“Senjata terus diproduksi, kabar bohong menyebar secepat kilat, dan alam dikuras tanpa jeda. Di hadapan…

4 hari ago