Peringatan Hari Santri selalu membawa kita pada ingatan historis tentang keberanian, ketangguhan fisik, dan kedalaman spiritual dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa. Namun, di era disrupsi informasi hari ini, medan pertempuran yang dihadapi generasi muda tidak lagi berwujud fisik di garis depan pertempuran, melainkan di balik layar gawai yang serba sunyi namun riuh.
Di tengah kepungan algoritma media sosial, forum gim daring, hingga aplikasi percakapan terenkripsi, sebuah ancaman laten terus mengintai. Salah satunya adalah radikalisasi daring yang memanfaatkan kerentanan psikologis, rasa terasing, dan kesepian anak muda. Proses radikalisasi modern jarang sekali diawali dengan doktrinasi ideologis yang kaku di tatap muka luring.
Sebaliknya, kelompok ekstremis telah bertransformasi menjadi penyusup yang sangat memahami psikologi perkembangan remaja. Mereka mengeksploitasi fenomena loneliness epidemic (wabah kesepian), stres akademis, serta kegalauan identitas anak muda. Melalui gim daring, meme culture, video pendek, dan konten bernada humor gelap (dark humor), para agen adikalisasi menawarkan ruang pelarian mental (coping mechanism) serta kehangatan komunitas semu.
Di sinilah terjadi ideological grooming. Anak-anak muda yang semula hanya mencari hiburan, ketenangan, atau penawar cemas dari kejenuhan dunia nyata, secara perlahan diisolasi dari lingkungan terdekatnya. Rasa frustrasi pribadi mereka dibingkai ulang secara sistematis menjadi kebencian kolektif, hingga akhirnya mengerucut pada pola pikir hitam-putih atau opsisi biner.
Ketika ruang digital tidak lagi menjadi sarana komunikasi, melainkan arena manipulasi emosi dan eksploitasi psikologis, maka pertahanan terbaik tidak cukup hanya dengan pembatasan teknis gawai, melainkan melalui penguatan imunitas kognitif, regulasi emosi, dan ketahanan jiwa. Menghadapi dinamika yang serba kompleks ini, tradisi keilmuan dan spiritualitas pesantren menghadirkan sebuah metodologi penawar yang sangat relevan dan konkret, yaitu tirakat digital.
Reinterpretasi Tirakat
Dalam tradisi pesantren, tirakat atau riyadhah bukanlah bentuk penyiksaan diri atau penolakan terhadap keduniaan, melainkan latihan spiritual untuk mengendalikan dorongan nafsu internal agar seseorang mampu berpikir jernih, bersikap tenang, dan berbuat adil. Jika pada masa lalu tirakat diidentikkan dengan puasa fisik, mengurangi tidur, atau mengasingkan diri dari keramaian, maka dalam konteks modern, tirakat perlu direinterpretasi secara kontekstual.
Di era digital seperti hari ini misalnya, tirakat tentu bukan sekadar puasa makan-minum, bangun malam untuk berdzikir, atau uzlah dari keramaian dunia. Di era ketika banjir informasi menjadi sarana radikalisasi ini, para santri juga wajib melakukan tirakat digital. Tirakat digital adalah bentuk kesadaran kritis, disiplin diri, dan kontrol kognitif dalam berinteraksi di ruang siber.
Konsep ini mencakup tiga pilar utama yang saling menopang. Pertama, tirakat informasi, yang diartikan sebagai upaya menahan diri dari mengonsumsi informasi secara berlebihan, apalagi belum terverifikasi kebenarannya dan berkecenderungan mengarah pada misinformasi, bahkan hoax.
Tirakat informasi bukan berarti kita anti pada berita dan pengetahuan yang beredar di media digital. Tirakat informasi adalah memastikan kita hanya mengonsumsi informasi yang benar, faktual, valid, dan benar-benar kita butuhkan. Setelah melakukan verifikasi kebenaran sebuah informasi, kita patut bertanya: apakah kita benar-benar membutuhkan informasi tersebut?
Kedua, tirakat kognitif, yakni dengan cara menjaga nalar kritis. Di lingkungan pesantren, tirakat kognitif ini mewujud pada beragam kegiatan. Antara lain, tradisi bahtsul masa’il atau kajian kitab kuning yang bertujuan membiasakan santri menghadapi perbedaan pandangan (ikhtilaf). Tirakat kognitif ini mendorong santri untuk lebih fleksibel dalam berpikir dan menghindar dari simplifikasi masalah. Dengan begitu, santri akan mampu memilah, menganalisis, dan mempertanyakan keabsahan setiap informasi dan pengetahuan, termasuk yang beredar di ranah digital.
Terakhir adalah tirakat hati, yakni memastikan hati dan pikiran kita steril dari kelelahan emosional. Caranya adalah dengan mengambil jarak dengan media sosial yang bising dan serba cepat. Tidak ada jalan lain untuk lepas dari jebakan kelalahan mental akibat media sosial selain menepi sejenak untuk melakukan detoksifikasi mental. Scrolling berlebihan akan memicu hormon stress yang pada akhirnya akan memicu kecemasan. Tirakat hati adalah uzlah dari media sosial untuk menepi dan melakukan refleksi diri.
Santri sebagai Agen Kontra-Radikalisasi
Memposisikan santri dan tradisi pesantren dalam konteks radikalisasi daring memberikan pandangan baru bagi strategi perlindungan anak di era digital. Santri tidak boleh hanya menjadi benteng pertahanan pasif yang tertutup dari kemajuan teknologi. Sebaliknya, santri harus hadir sebagai agen kontra-radikalisasi yang kuat dalam hal literasi keagamaan dan teknologi digital.
Sanad keilmuan yang jelas, hubungan yang hangat dengan kiai serta sesama santri, dan pemahaman agama yang inklusif adalah modal sosial yang sangat besar. Ketika nilai-nilai ini hadir di lanskap digital hari ini, maka radikalisasi daring kemungkinan besar dapat ditangkal secara optimal.
Pada akhirnya, peringatan Hari Santri Nasional adalah pengingat bahwa pilar utama perjuangan masa kini adalah merawat akal sehat, ketahanan mental, dan kedamaian bangsa di tengah gelombang disrupsi digital.
Dengan mengamalkan tirakat digital, santri dan generasi muda Indonesia tidak hanya mampu melindungi diri dari perangkap radikalisasi siber, tetapi juga mampu menghadirkan ruang digital yang menenangkan dan mencerahkan.
Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban…
Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di…
Momentum peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026 kembali menghidupkan ruang-ruang…
Di tengah derasnya arus dakwah digital dan maraknya ceramah provokatif, mimbar-mimbar keagamaan kita kerap diuji,…
Ada anggapan bahwa anak muda yang kritis terhadap pandangan keagamaan berarti kurang taat. Sebaliknya, mereka…
Ada fase dalam hidup ketika seseorang bertanya, “Aku ini siapa, dan hidupku untuk apa?” Bagi…