Categories: Keagamaan

Waspada Ekstrim Beragama!

Belakangan muncul fenomena ekstrimisme di kalangan umat Islam dalam memahami Alquran dan Hadits Rasulullah saw. Ironisnya, fenomena ini menjangkiti kalangan muda yang notabene kurang memiliki pengetahuan mendalam soal agama. Fenomena ini tak hanya monopoli kaum muda Indonesia saja, melainkan juga mewabah pada wilayah di seluruh penjuru dunia.

Ciri paling menonjol pada mereka yanng sudah terjanngkit virus ekstrimisme ini adalah sikap merasa paling paham dan benar soal ajaran Islam dan berusaha keras –bahkan terkesan memaksa- mengajak pihak lain masuk pada kelompoknya. Dalam berbagai forum mereka tampak senang menyalahkan pihak lain yangn berbeda dengan menyebut pemahaman keagamaan di luar mereka sebagai pemahaman Islam yang tidak asli dan banyak kekeliruan.

Mereka memaksakan diri agar dikategorikan sebagai penganut islam yang benar, memaksa keluarganya dan orang lain untuk mengikuti gaya hidup yang dianggap Islami. Padahal, pada intinya kewajiban-kewajiban tersebut tidak ada dalam Islam. Ada beberapa hal yang mengakibatkan munculnya pemahaman ekstrim seperti ini, antara lain sebagai berikut:

  1. Tidak Bertanya Kepada yang Lebih Ahli

Umumnya mereka yang menganut paham ekstrim tidak ingin bertanya kepada ulama-ulama yang mempunyai pengetahuan dan otoritatif. Padahal, para ulama itu menguasai ilmu-ilmu agama secara konpeherensif, termasuk ilmu alat bantu memahami teks-teks Alquran dan Hadits. Mereka cenderung mengikuti doktrin dari satu pihak saja sehingga mereka terperangkap dalam pemikiran yang ekstrim dan tidak terbuka. Padahal dalam Alquran telah dianjurkan agar senantiasa bertanya kepada ahlinya jika tidak memahami.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ )النحل: 43(

“Dan bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43).

 2. Tidak Memahami Islam secara Benar

Mereka yang ekstrim tidak memahami Islam secara benar dan tidak mengerti makna-makna Alquran dan Hadits Nabi Muhammad saw. Initisari ajaran Islam sangat jelas mengajarkan moderasi dalam segala hal dan menjadi rahmat bagi siapapun. Islam menuntut setiap orang agar belajar dan membaca dan tidak ikut-ikutan, karena hal tersebut bisa saja membawa kepada sikap fanatik yang berujung pada pemikiran ekstrimisme. Akibatnya berpandangan negatif dan senang mengharamkan dan menghalalkan sebagaimana yang difirmankan Allah sebagai  berikut:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (النحل: 116)

“Dan janganlah kalian mengada-ada dan berbohong dan mengatakan ini haram ini halal dan mengatakan bahwa ini dari Allah sesungguhnya orang-orang yang demikian tidak akan beruntung.” (QS. An Nahl: 116).

3. Merasa Benar dan Paling Sempurna

Akibat lain yang dimunculkan akibat pemahaman ekstrim adalah selalu merasa benar dan yang paling benar. Pendapat orang lain dianggap salah dan keliru, menganggap orang lain tidak mengerti apapun tentang Islam. Penyakit ini sangat menonjol dalam diri setiap orang yang berpaham ekstrim karena selalu menganggap dirinya berada pada jalan yang benar dan sedang berada pada jalan yang paling benar. Mereka tidak mementingkan sejarah dan latarbelakang setiap peristiwa dan hukum serta tidak berusaha memahami makna-makna dalam teks-teks Islam tetapi cenderung memahami secara kontekstual. Mereka inilah yang dianggap dalam Alquran sebagai kelompok yang buta hati sebagaimana dalam ayat berikut:

﴿أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى القُلُوبُ الَتِي فِي الصُّدُورِ﴾ الحج: 46

“Kenapa engkau tidak berjalan-jalan di muka bumi agar hati kalian dapat memahami dan telinga kalian dapat mendengar. Sesungguhnya bukanlah mata mereka yang buta tetapi hati mereka yang  ada dalam dadanya buta.” (QS. Al Hajj: 46).

Tiga hal tersebut di atas adalah ciri utama Al Gulwu Wa Al Tatharruf alias ekstrimisme yang kini tengah marak di masyarakat. Ciri-ciri inilah yang membuat mereka semakin jauh, bukan saja jauh dari sesamanya muslim, melainkan juga jauh dari sanak keluarga serta kerabat-kerabatnya. Pada tahapan yang lebih tinggi lagi, sikap ekstrim ini mengantarkan pelakunya pada tindakan berontak terhadap negara ataupun membuat onar mengatasnamakan agama. Semoga Allah selamatkan kita semua. Amin!

This post was last modified on 21 September 2015 4:45 PM

PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

View Comments

  • Maaf kenapa akun twitter saya jadi men-direct message orang-orang yang bahkan bukan mutual followers saya dan isi pesan dari direct message tersebut semuanya mengarah ke site ini? Tolong jika ingin berdakwah lakukan hal yang benar tanpa mengganggu kenyamanan apalagi mengusik privasi orang lain karena bukan feedback bagus yang akan kalian dapatkan namun justru malah sikap semakin apatis dari sasaran dakwah kalian. Terima kasih

Recent Posts

Kekhalifahan ISIS di Roblox: Gamifikasi Ekstremisme yang Menyasar Gen Alpha

Di dunia nyata, kekhalifahan Islamic State of Iraq and Syiria alias ISIS yang berpusat di…

22 jam ago

Transformasi Digital Parenting sebagai Strategi Antisipasi Eksploitasi Ideologis pada Platform Gim Daring

Bagi anak dan remaja masa kini, gim daring bukan lagi sekadar wahana eskapisme sesaat. Ruang…

22 jam ago

Bagaimana Ekstremis Mengeksploitasi Game Online?

Sepanjang 2025, Densus 88 mencatat sekitar 110 anak berusia 10 hingga 18 tahun di 23…

22 jam ago

Mengenali Tanda Awal Paparan Ekstremisme Digital: Keluarga Wajib Hadir!

Seorang anak yang biasanya terbuka tiba-tiba enggan bercerita. Ia semakin tertutup tentang teman-teman daringnya, sering…

2 hari ago

Parental Gaming: Revolusi Pengasuhan di Tengah Ancaman Radikalisasi Gim Daring

Sebagai ibu dari seorang putri berusia 10 tahun, saya kerap tergagap-gagap mengikuti perkembangannya. Misalnya, ketika…

2 hari ago

Belajar dari Anak yang Terpapar

Pukul sebelas malam, lampu kamar anak masih menyala. Orang tuanya mengira ia sedang mengerjakan tugas.…

2 hari ago