Kebangsaan

Adakah Sepak Bola Piala Dunia Jika Hidup di Negeri Khilafah?

Satu-satunya gerakan yang pernah berhasil mengklaim berdirinya khilafah di abad modern adalah ISIS yang pernah berjaya dari 2014 hingga 2018. Keberadaan ISIS memang mengagetkan masyarakat dunia dan menjadi inspirasi bagi sel lokal di berbagai negara untuk bangkit, tak terkecuali di Indonesia.

Di tengah hingar bingar pesta sepak bola Piala Dunia di Qatar 2022, ada pesan ancaman yang dilancarkan ISIS sebagaimana dikutip surat kabar Marca. Dengan menggunakan telegram mereka memberi pesan akan menyerang Piala Dunia 2022. Bukan hanya kali ini saja, Piala Dunia 2018 ISIS juga menebar ancaman dengan menyebar poster mengerikan yang bergambarkan pemain dunia terkenal seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Jika kita pahami mengapa ISIS dengan sepak bola seolah sangat berlawanan. Bahkan ISIS pernah menghukum 13 anak kecil karena menonton piala Asia antara Irak dan Libanon. Memang belum jelas pasti tentang eksekusi tersebut, tetapi bagi ISIS sepak bola adalah haram karena memamerkan aurat laki-laki dan tasyabuh dengan permainan yang diciptakan Barat. Bahkan konon aturan sepak bola yang diatur oleh FIFA tidak sesuai dengan syariat. Menurut mereka pelanggaran cidera harus dibayar dengan cidera sebagaimana hukum qishas.

Kelompok seperti ISIS yang pernah bermimpi khilafah tetapi gagal atau pun kelompok lain sebagaimana Hizbut Tahrir yang tetap menginginkan kekhalifahan global selalu mendudukkan dunia saat ini dalam dua belahan, antara wilayah Islam dengan kafir. Ruang kerjasama seperti sepak bola dunia tidak akan ada dalam benak mereka. Terkecuali jika mereka nanti membuat Pesta Sepak Bola Piala Dunia Khilafah.

Namun, akan sedikit problematis jika mereka nanti tetap menggelar Piala Dunia. Dalam benak mereka perlu merumuskan ulang apa hukum sepak bola. Apakah olahraga ini haram sesuai dengan syariat atau tidak? Apakah harus bermain bola menutup aurat? Ataukah aturan yang ada dalam sepakbola saat ini sudah sesuai dengan syariat atau tidak? Perlu mengundang negara-negara kafir lainnya atau cukup negeri yang ternaung dalam khilafah global yang akan bertanding? Masih perlu banyak yang dirumuskan bermain sepak bola di negeri khilafah. 

Namun, atas mimpi negeri khilafah dan problematika sepak bolanya tentu tuan rumah Qatar sebagai negara Islam telah berhasil menyelenggarakan pesta sepak bola Piala Dunia 2022. Bukan sebuah mimpi negeri Islam di Timur Tengah menjadi tuan rumah perhelatan Piala Dunia. Memang banyak kontroversi seperti pelarangan secara terbuka penjualan minuman alkohol atau pemasangan ban kapten LGBT. Namun, semua negara harus menghormati norma dan hukum tuan rumah yang berlaku.

Beberapa negara Islam di Timur Tengah telah banyak berpartisipasi dalam hajatan olahraga empat tahunan ini. Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Maroko, Tunisia dengan mayoritas muslim telah menunjukkan diri bagian dari negara sepak bola di Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya. Beberapa investasi pengusaha Timur Tengah telah merambah sepak bola di daratan Eropa. Banyak klub-klub besar Eropa dimiliki oleh penguasa dari Timur Tengah.

Negara Islam dan mayoritas Islam bukan berarti mengisolasi diri dari percaturan kerjasama dunia baik politik maupun olahraga. Membangun dunia dalam kerjasama kemanusiaan menjadi sangat penting. Jika negara khilafah berdiri tentu akan berbeda nasib. Paradigma konflik dan perang terhadap Barat atau negara kafir misalnya sebagai musuh tidak akan pernah berdamai dengan keadaan. Akan sulit menggelar Piala Dunia di Negeri Khilafah. Itupun kalau negeri khilafah adalah nyata bukan sekedar ilusi dan mimpi.

This post was last modified on 28 November 2022 4:43 PM

Farhah Sholihah

Recent Posts

Dari Sanad ke Startup: Jihad Intelektual Santri di Abad Algoritma

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban…

2 jam ago

Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di…

2 jam ago

Tirakat Digital: Amalan Santri Melawan Radikalisasi Daring

Peringatan Hari Santri selalu membawa kita pada ingatan historis tentang keberanian, ketangguhan fisik, dan kedalaman…

2 jam ago

Demonstrasi vs Vandalisme : Menjaga Demokrasi dari Penumpang Gelap dan Eksploitasi Generasi Muda

Momentum peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026 kembali menghidupkan ruang-ruang…

24 jam ago

Membersihkan Mimbar Digital dari Konten Radikal

Di tengah derasnya arus dakwah digital dan maraknya ceramah provokatif, mimbar-mimbar keagamaan kita kerap diuji,…

24 jam ago

Kritis Bukan Berarti Tidak Taat, Moderat Bukan Berarti Mengkompromikan Syariat!

Ada anggapan bahwa anak muda yang kritis terhadap pandangan keagamaan berarti kurang taat. Sebaliknya, mereka…

24 jam ago