Kebangsaan

Miniatur Pancasila di Jantung Kota: Ketika Masjid, Gereja, Klenteng, dan Pura Berbagi Ruang Publik

Bagi generasi hari ini, makna kesaktian Pancasila itu terasa abstrak. Istilah sakti nyaris selalu berkonotasi pada hal mistis. Orang sakti sering merujuk pada sosok kebal senjata, tidak mempan ditembak, dan punya kekuatan supranatural layaknya super hero. Lantas, apakah kesaktian Pancasila juga merujuk pada makna mistis tersebut?

Tentu tidak. Kesaktian Pancasila itu bermakna bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan senantiasa relevan di segala zaman. Namun demikian, relevansi itu tentu harus diterjemahkan dalam manifestasi yang konkret. Pancasila wajib hadir secara empiris dalam sebuah ruang nyata di mana nilai-nilainya dihirup, dihidupi, dan dirawat secara tulus oleh warga biasa.

Jika ada satu ruang yang mampu merefleksikan kesaktian Pancasila dalam wujud paling konkret dan alami, maka Alun-Alun Kota Magelang adalah salah satu jawabannya. Di pusat kota kecil bernuansa sejuk di Jawa Tengah ini, alun-alun bukan sekedar lanskap urban tempat warga berkumpul, berolahraga, berburu kuliner, atau titik singgah bagi pelancong.

Lebih dari itu, Alun-Alun Magelang adalah miniatur keindonesiaan yang merefleksikan pesan toleransi dalam keragaman agama dan budaya. Di kawasan yang sebenarnya tidak terlalu luas ini,  berdiri rumah-rumah ibadah dari berbagai latar belakang keyakinan. Di sebelah barat, berdiri Masjid Agung Kauman Magelang yang berdiri sejak tahun 1650. Di arah barat laut, ada Gereja Katolik Santo Ignatius. Di sebelah utara alun-alun, terdapat Gereja Protestan GPIB Indrapura. Di sebelah gereja, Pura Jagat Natha baru saja selesai dibangun. Sementara di sebelah Timur, berdiri megah Klenteng Liong Hok Bio, rumah ibadah yang beberapa waktu lalu sempat viral karena menjadi tempat singgah biksu Tudong asal Thailand.

Keberadaan rumah ibadah dari berbagai agama di satu ruang publik itu bukan kebetulan. Fenomena itu tidak lain merupakan keberhasilan menegosiasikan dan mengkompromikan perbedaan keyakinan di ruang publik. Kota Magelang adalah wilayah administratif yang nisbi kecil. Kita bahkan bisa memutari kota ini dengan berjalan kaki tanpa menghabiskan banyak waktu. Namun, kota kecil ini punya semangat inklusivitas yang kuat.

Terbukti, dalam survei Setara Institut, kota yang dikenal dengan Gunug Tidar, Akademi Militer dan Getuk-nya ini berada di peringkat ke-7 kota paling toleran se-Indonesia. Di kota ini, masyarakat dari berbagai agama dan budaya hidup berdampingan, saling bekerja-sama. Sekolah keislaman berdampingan dengan sekolah Katolik atau seorang kiai diundang ke pembukaan toko emas milik pengusaha keturunan China beragama Budha adalah pemandangan yang biasa di kota ini.

Ruang Publik Inklusif

Dalam arsitektur tata kota di Indonesia, Alun-Alun itu menjadi semacam etalase, lemari kaca transparan yang memajang realitas sosial masyarakat yang menghuninya. Jika alun-alun kumuh, kemungkinan besar sebagian warganya juga abai dengan kebersihan. Begitu pula sebaliknya, alun-alun yang rapi dan bersih mencerminkan budaya warganya. Keberadaan rumah ibadah lima agama di Alun-Alun Magelang, sekali lagi, menjadi simbol inklusivitas warganya.

Pluralitas agama yang berkembang di sebuah kota, memang memiliki dua sisi wajah yang berlawanan. Di satu sisi, keragaman itu akan menjadi potensi dan modal sosial yang luar biasa. Dengan catatan, perbedaan itu dikelola secara produktif. Di sisi lain, keragaman agama dan budaya juga bisa memicu perpecahan, bahkan konflik sosial.

Dalam konteks Indonesia pasca-Reformasi, upaya memecah-belah bangsa dengan isu identitas berulang kali terjadi. Polanya selalu sama dan aktornya pun itu-itu saja. Konservatisme keagamaan yang menguat pasca-Reformasi menyuburkan pola pikir segregatif yang mendikotomikan masyarakat ke dalam dua kubu: kami-mereka.

Narasi eksklusif semacam ini secara perlahan mengikis rasa percaya antarsesama dan menyuburkan prasangka negatif pada liyan. Eksklusivisme kian mendapat ruang setelah ledakan media digital yang terjadi belakangan ini. Media digital menjadi alat untuk mengamplifikasi sentimen kebencian. Alhasil, permusuhan direproduksi terus-menerus di ruang publik kita.

Alun-Alun Magelang dengan keragaman rumah ibadah adalah narasi tandingan dari nalar konservatisme itu. Pada momen tertentu, semua rumah ibadah itu riuh oleh aktivitas di waktu bersamaan. Di Minggu pagi, misalnya, Masjid Agung Kauman dipenuhi ibu-ibu berseragam putih. Mereka berduyun-duyun, keluar dari gang-gang sekitar alun-alun. Ada pula yang berombongan mengendarai angkot. Mereka datang untuk mengikuti pengajian ahad pagi.

Tak jauh dari situ, anak-anak turun dari mobil di antar orang tuanya untuk mengikuti Sekolah Minggu. Di tengah keriuhan itu, terdengar sayup-sayup suara paduan suara menyanyikan puji-pujian di tengah misa. Lantas, di ujung timur alun-alun, para biksu keluar dari Klenteng untuk melakukan Pindapatta, yakni mengumpulkan derma dari para jemaahnya.

Di jantung kota ini, warga dari beragam agama tidak diajari untuk saling membenci, alih-alih menghormati. Lantunan azan dari Masjid Agung, dentang lonceng dari Gereja Santo Ignatius dan GPIB Indrapura, wewangian dupa dari Klenteng Liong Hok Bio, serta kekhusyukan doa dari Pura Jagat Natha tidak pernah saling bertabrakan sebagai ancaman. Semuanya berpadu menjadi harmoni spiritual yang justru memperkaya keindahan ragam kebudayaan kota.

Pancasila sebagai Cara Hidup Bersama

Di masa lalu, kesaktian Pancasila diasosiasikan dengan sejarah politik 1965 yang penuh gejolak. Pancasila berhasil menjaga keutuhan bangsa di tengah perang ideologi. Kini, Pancasila dihadapkan pada musuh yang lebih halus, namun tidak kalah berbahayanya. Narasi intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme adalah musuh dalam senyap yang mengancam keutuhan negara. Kesaktian Pancasila hari ini terletak pada kemampuannya menjadi benteng ketahanan naratif (narrative resilience). Maka, idealnyaPancasila tidak dipahami sebagai teori yang kaku dan berjarak. Pancasila harus bertransformasi menjadi cara hidup (way of life).

Dari lanskap sosiologis Alun-Alun Magelang kita belajar bahwa benteng pertahanan melawan radikalisme tidak selalu mewujud pada kekuatan militer, wacana pengetahuan, atau regulasi hukum. Benteng terkuat itu justru tumbuh dari akar rumput, dari ruang-ruang interaksi sosial yang inklusif.

Generasi muda yang melihat lanskap sosiologis itu akan terbiasa menyikapi kebinekaan. Alhasil, mereka akan sulit diinfiltrasi oleh narasi radikalisme. Alun-Alun Magelang adalah prototipe pengaturan ruang publik yang setara untuk semua golongan. Ada banyak kisah tentang toleransi dan inklusivisme di Indonesia.

Sayangnya, cerita itu kerap mengendap begitu saja. Sebaliknya, media sosial lebih sering didominasi oleh isu dan narasi pecah-belah. Seolah-olah Indonesia adalah negara yang selangkah lagi terjebak dalam konflik agama. Kita perlu terus mengangkat kisah-kisah toleransi ke permukaan, sebagai bagian dari narasi positif yang membuktikan bahwa Indonesia yang damai, toleran, dan bersatu bukanlah utopianisme belaka.

This post was last modified on 7 Oktober 2026 1:38 PM

Nurrochman

Recent Posts

Pasang-Surut Relasi Abu Bakar Ba’asyir dan Pancasila

Pada tahun 2022, mantan pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid, Abu Bakar Ba’asyir mengakui Pancasila sebagai dasar…

11 menit ago

Ketika Amarah Memenuhi Media Sosial: Masih Relevankah Musyawarah?

Buka saja kolom komentar di media sosial, dan kita akan melihat pola yang sama berulang.…

13 menit ago

Ketika Pancasila Selalu Dipertentangkan dengan Agama

Seorang pastor Katolik umumnya dikenal melalui pelayanan keagamaan dan karya misionernya. Namun, Y.B. Mangunwijaya memilih…

22 jam ago

Kebencian Harusnya tidak Lahir karena Perbedaan

Pernahkah kita bertanya dalam benak kita pada kita sendiri, sejak kapan perbedaan terasa seperti ancaman?…

22 jam ago

TCC dan Pergeseran Pola Radikalisasi Anak Muda di Ruang Digital

Fenomena True Crime Community (TCC) belakangan mendapat perhatian setelah Densus 88 mengungkap 70 anak berusia…

22 jam ago

Membumikan Hari Kebangkitan Pancasila: Merawat Kebinekaan Melalui Ruang Deliberatif di Era Digital

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati momentum bersejarah Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukanlah…

2 hari ago