Narasi

Corona, Radikalisme-Terorisme, dan Pendekatan Semesta

Telah lama saya mencatat bahwa persoalan radikalisme-terorisme kontemporer di Indonesia sudah menjadi habitus (Hikayat Binatang Beragama, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org). Dengan demikian, ia tak lagi berkaitan dengan mindset semata. Habitus di sini lebih saya maknai sebagai kondisi mental yang dapat timbul-tenggelam laiknya sinyal ponsel atau internet. Maka, begitu “lancar” sinyal itu, berbagai jejaring yang sebelumnya sudah ada akan langsung terhubung dan tinggal menunggu momen yang tepat untuk bergerak.

Persoalan ideologi dan ideologisasi dalam radikalisme-terorisme kontemporer sebenarnya sudah lama selesai sejak organisasi-organisasi radikal yang berinduk pada IS (Islamic State), baik secara struktural maupun kultural, mewabah di Indonesia. Dari berbagai kasus yang ada kita seperti menghadapi orang-orang goblok yang sama sekali jauh atau bahkan tak mengerti agama yang kerap mereka gunakan sebagai tudung. Maka, pernah pula saya menyimpulkan bahwa radikalisme-terorisme kontemporer di Indonesia lebih memilih pendekatan purbanya: premanisme (Mereka yang Terjaga: Menggagas Pendidikan Antiradikalisme dan Terorisme Sejak Dini, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Untuk menghadapi ancaman-ancaman radikalisme-terorisme di hari ini, atau dengan kata lain pengimplentasian RAN PE secara efektif, kita dapat berkaca pada mekanisme dalam menghadapi wabah corona yang sejak setahun yang lalu hidup berdampingan dengan kita—apalagi yang terkini pemerintah juga gencar-gencarnya tengah membekuk para preman. Akan sangat menarik ketika ketiga “musuh” yang sedang kita hadapi ini dihadapi secara bersamaan.

Ketika menilik Perpres Nomor 7 Tahun 2021, secara tersirat diungkapkan bahwa persoalan radikalisme-terorisme di Indonesia adalah juga laiknya persoalan wabah corona yang butuh ditangani secara menyeluruh dan partisipatif, melibatkan seluruh unsur masyarakat. Ketika beberapa bulan yang lalu banyak aktivis masyarakat sipil ditanya perihal implementasi RAN PE mereka menunjuk siskamling yang sebenarnya telah lama kita lakoni sebagai bentuk nyatanya. Saya kira hal ini memang ada tepatnya meskipun tak ada hal yang baru dalam pendapat itu mengingat radikalisme-terorisme kontemporer di Indonesia memang memilih pendekatan purbanya: premanisme (Perpres RAN PE dan Montase Radikalisme, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Sebagaimana penanganan wabah corona yang sampai sekarang masing berlangsung, kiranya pemerintah harus pula menyosialisasikan wawasan seputar radikalisme-terorisme hingga secara individual, sebelum partisipasi masyarakat benar-benar terwujud, masing-masing orang sudah melakoni protokol antiradikalisme-terorisme secara mandiri. Paling tidak, masing-masing orang sudah sadar diri tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan kata lain, disiplin diri pada akhirnya merupakan kunci dalam menghadapi segala hal yang sudah menjadi habitus.

Habitus pada dasarnya lebih berkaitan dengan suasana mental yang dapat memengaruhi kondisi dunia nyata. Berbagai kearifan lokal yang tujuan utamanya adalah menjaga keselarasan, baik dengan alam atau sesama manusia, atau lebih dikenal dengan istilah memayu hayuning bawana, pada dasarnya adalah salah satu mekanisme untuk menyelaraskan manusia (jagat cilik) dengan alam (jagat gedhe). Asumsi dasarnya di sini adalah bahwa jaget gedhe merupakan cerminan dari jagat cilik (Tumengen Tawang: Penyikapan Budaya Atas Sebuah Bencana, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Taruhlah seorang yang memang bermental bajingan yang otomatis akan memandang segala sesuatu yang mengitarinya sebagai sumber kemarahan dan sesak dada atau suatu hal yang dapat seenaknya ditindas laiknya bocah. Oleh karena itulah, dalam berbagai kearifan lokal, budi pekerti—atau dalam istilah agama disebut sebagai akhlaq—menjadi orientasi utama.

Berbagai pendekatan dan penyikapan terhadap wabah corona selama ini sebenarnya dapat pula diimplementasikan pada RAN PE ketika radikalisme-terorisme juga sudah berwujud sebagai habitus. Di samping pendekatan-pendekatan yang bersifat fisik seperti pembatasan-pembatasan sosial, vaksinasi, dst., pendekatan-pendekatan yang bersifat keagamaan dan kebudayaan yang selama ini mengiringi wabah corona saya kira cukup ampuh pula untuk menghadapi ancaman radikalisme-terorisme (Kahanan: Melongok dari yang Tak Pokok, Heru Harjo Hutomo, Bintang Pustaka Madani, Yogyakarta, 2021).

This post was last modified on 21 Juni 2021 1:03 PM

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

3 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

3 bulan ago