Narasi

Filosofi Puasa dan Keterampilan Mengendalikan Diri

Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk merefleksikan, mengevaluasi diri serta melatih diri untuk menemukan jati diri yang kuat. Melalui ibadah puasa, umat Islam menahan diri sejenak untuk tidak melakukan aktifitas sebagaimana biasanya. Proses menahan diri ini menjadi kunci dari ibadah puasa.

Allah menjadikan dan mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Bukan hanya berlaku untuk agama Islam saja, menjalankan puasa juga menjadi salah satu ajaran di hampir semua agama.

Pada tanggal sebelumnya, umat Hindu juga merayakan peringatan Nyepi. Hampir memiliki semangat yang sama dengan Ramadan, Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang diperingati dengan cara melakukan penyepian atau penghentian aktivitas selama 24 jam. Mereka menyepi dalam kesucian untuk mencari jati diri dan mengambil jarak dari keinginan-keinginan sehari-hari sebagaimana biasanya.

Filosofi puasa sejatinya pada prakteknya menahan laku. Sebuah ujian untuk sejenak manusia berhenti tidak mengumbar segala keinginan. Ujian sebenarnya manusia adalah ketika ia mampu menahan dan mengelola keinginan.

Hiruk pikuk kehidupan dunia terkadang membuat manusia lupa akan jati dirinya dan menjadi gelap mata, gelap hati dan pikiran. Manusia harus menjaga jarak sejenak dan melatih diri untuk menahan dari berbagai keinginan tersebut.

Puasa sejatinya bukan sekedar bertujuan untuk menahan lapar ataupun haus saja. Menahan lapar dan haus adalah simbol keinginan primer yang setiap hari dipenuhi oleh manusia. Jika manusia mampu menahan lapar dan haus, ia akan meningkat mampu menahan hawa nafsu pendengaran, lisan, penglihatan, dan berbagai indera dari segala dosa, bahkan sampai menjaga hati dan pikiran dari segala sesuatu selain Allah.

Karena itulah, berpuasa harus dibaca sebagai latihan diri untuk menempa benteng yang kuat. Ketika orang mampu mengendalikan diri dengan praktek mengendalikan makan dan minum sebagai kebutuhan paling pokok, manusia akan mudah mengendalikan keinginan-keinginan yang lain.

Puasa harus kita pahami sebagai sebagai momentum memperbaiki diri dari segala kesalahan yang sudah kita lakukan. Kesalahan lisan yang sering menghujat orang lain, kesalahan jemari yang sering menyebar hoax di medsos, dan beberapa bentuk penyebaran kebencian lainnya yang sebenarnya tanpa kita sadari mampu memecah belah bangsa.

Mencegah keinginan tersebut harus dilatih ketika Ramadan. Sembari menahan lapar dan haus, Ramadan harus menjadi benteng untuk menahan hal yang berpotensi merusak diri dan orang lain apalagi merusak persatuan. Ramadan menjadi semacam early warning system bagi manusia untuk tidak berbuat keburukan.

Indonesia selalu diberikan kesempatan untuk memperkuat toleransi antar umat beragama dengan cara menghargai perbedaan satu dengan yang lainnya. Sebagaimana ibadah Nyepi dan Puasa yang berdekatan adalah cara Tuhan menguji keimanan hambanya untuk tidak selalu mempertentangkan perbedaan.

Praktek setiap agama berbeda. Itu sudah jelas. Ibadah semua agama berbeda, tetapi yakinlah semangat semua agama memiliki titik temu yang sama. Agama ingin menjadikan manusia yang bermoral dengan pendekatan spiritual. Agama ingin mengajak manusia pada kebaikan dan kedamaian dengan cara mengenali identitas dan fitrah dirinya sebagai manusia.

Fokus manusia yang beragama jangan selalu mempertentangkan perbedaan. Jangan fokus pada hal lahiriyah yang Nampak berbeda, tetapi pada esensi yang memiliki nilai sama. Di situlah semua agam bertemu dan saling menyapa.

Baik Nyepi dan Puasa adalah memiliki esensi mengajak umatnya mengevaluasi diri, menyepi diri dan memperbaiki diri dengan cara mendidik keterampilan mengendalikan diri.  Perbedaan yang tampak dari lahiriyah dan harfiyah tentang praktek ibadah bukan hambatan untuk saling bersatu karena sesungguhnya agama mempunyai nilai dan tujuan yang sama.

Inilah juga yang menjadi pelajaran penting dari bangsa ini. Masyarakat Indonesia telah biasa dengan keragaman. Kebhinekaan merupakan karakter bangsa Indonesia dengan ragam suku, ras, tradisi dan agama. Meski banyak perbedaan terbukti dari dulu bangsa kita mampu bersatu menjadi masyarakat yang majemuk tersebut hidup rukun, saling menghormati dan menghargai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apa kuncinya karena Indonesia berani keluar dari tampilan perbedaan dan memfokuskan pada semangat dan motivasi yang sama. Begitu pula seperti perayaan Nyepi dan Ramadan hal yang tepat bagi kita untuk lebih memfokuskan terhadap persamaan yang ada dalam nilai-nilai pengendalian diri dan introspeksi diri, melatih diri, mengendalikan diri dan menemukan jati diri sebagai manusia.

This post was last modified on 30 Maret 2023 2:49 PM

Imam Santoso

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago