Narasi

Islam Melarang Keras Provokasi atau al-Tahrisy; Inilah Hadist-nya!

Di tengah kepungan wabah yang masih begitu mengganas yang patut kita waspadai bersama juga adalah narasi provokatif yang dilayangkan oleh oknum tak bertanggung jawab. Mengingat beberapa kebijakan pemerintah yang dilematis seperti perpanjangan PPKM Level 4 hingga 2 Agustus mendatang memicu para provokator memanfaatkan isu seksi ini. Ada-ada saja oknum tak bertanggung jawab, yang coba menebar narasi fitnah seolah keputusan ini akibat pemerintah tidak becus menangani wabah Covid-19 ini. Padahal kita tahu penanganan pandemi ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah saja, melainkan seluruh elemen bangsa, tanpa terkecuali.

Bahkan para barisan provokator menggelindingkan narasi penolakan kebijakan pemerintah sebagai isu politis. Alih-alih turut menentramkan masyarakat, oknum tidak bertanggung jawab tersebut malah mengobok-obok suasana menjadi semakin keruh. Oknum seperti ini tentu jangan dibiarkan, masyarakat patut turut melawannya.

Masyarakat harus membuka mata lebar-lebar bahwa oknum penebar provokasi, fitnah, dan adu domba tersebut yang sejatinya punya misi terselubung. Tujuan mereka bukanlah menawarkan solusi untuk kebaikan umat, akan tetapi justru mengadu domba dan memecah belah antara rakyat dengan pemerintah.

Mereka sangat senang jikalau mosi tidak percaya rakyat kepada pemerintah tinggi. Coba perhatikan seksama para provokator tersebut adalah orang yang selama ini membangkang dan ngeyel terhadap pemerintah. Dan sedari dulu kerjaannya memang mencari-cari celah kesalahan pemerintah. Niat mereka adalah bukan membantu atau perhatian pada situasi genting ini. Mereka hanya mencari huru-hara untuk tujuan kelompoknya semata.

Oleh karenanya rakyat jangan mau dihasut oleh oknum yang hatinya sudah dilumuri niat buruk untuk memprovokasi massa dengan menebar fitnah. Sinergi bersama tentunya akan dapat menjernihkan cara berpikir masyarakat untuk bahu-membahu menghadapi wabah Covid-19 ini. Ulama atau tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat harus bersinergi. Karena ketiganya adalah pilar dalam kemajuan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Lagian dalam Islam sangat melarang tindakan provokatif. Provokasi dalam ajaran Islam dapat dilihat dalam Hadis. Hal tersebut terlihat dalam Hadis sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim No.2182. Provokasi atau al-Tahrisy merupakan perbuatan setan. Dalam Hadis tersebut hanya setanlah yang melakukan kegiatan al-tahrisy atau provokasi. Karenanya, bisa kita simpulkan bahwa provokator memiliki kedudukan yang sama hina dengan setan. Selain itu, upaya tersebut juga dapat membuat seorang suami isteri berpisah dan bahkan persaudaraan sesama ummat Islam dan sesama ummat manusua lainnya (jalandamai.org, 16/4/2020).

Selanjutnya, pada hadist yang diriwayatkan Muslim No. 2813 yang artinya “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengutus para tentaranya. Tentara iblis yang paling bawah adalah yang paling besar fitnah (kerusakan)nya. Salah satu tentara iblis berkata: saya telah melakukan ini dan itu. Maka iblis mengatakan: kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian tentara iblis yang lain datang dan berkata: Aku tidak meninggalkan seseorang kecuali setelah ia berpisah dengan istrinya. Maka tentara iblis ini pun didekatkan kepada iblis. Lalu iblis berkata: kamulah yang terbaik, teruslah lakukan itu” (HR. Muslim No. 2813). Beberapa hadist tersebut jelas bahwa tindakan provokasi adalah tindakan iblis/setan dan dilarang dalam Islam.

Kemudian, menurut Alfatih Suryadilaga (2020) mengungkapkan bahwa istilah tersebut menurut al-Baghawi dalam kitab Syarh al-Sunnah dikenal dengan sebuah upaya saling memecah-belah di antara manusia satu dengan lain seperti bertengkar dan berbuat kasar. Atau dalam kaca mata Ibn Asir dikenal dengan memancing perrengkaran antara satu orang dengan orang lainnya. Hal tersebut terlihat dalam Jami’ al-Ushul.

Oleh karena itu sudah saatnya kita hindari dan lawan tindakan provokasi ini. Mengingat perbuatan ini di antara perbuatan tercela yang merusak persaudaraan, merusak persatuan, mengganggu stabilitas dan merupakan perbuatan setan yang harus kita jauhi.

This post was last modified on 29 Juli 2021 3:53 PM

Suwanto

Penulis merupakan Peneliti Multiple-Representation Learning di PPs Pend.Kimia UNY, Interdisciplinary Islamic Studies di Fak. Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, dan Culture Studies di UGM

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

22 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago