Narasi

Kehidupan Digital, Gelombang Aksi Demonstrasi Para Pelajar Prancis, dan Intertonikalitas

Hari ini, di Prancis, para pelajar seperti akan mengulang peristiwa revolusi mahasiswa ’68: sebentuk jeda dalam bermasyarakat dan bernegara dengan alasan-alasan yang lebih filosofis daripada politis.

Gelombang demonstrasi sebermulanya berpusat di kota Paris lalu menyebar ke berbagai kota di Prancis. Secara permukaan, tuntutan mereka adalah perbaikan kondisi pendidikan.

Kenapa tak semata politis, tapi lebih kepada filosofis seperti gerakan mahasiswa ’68 yang memang mempersoalkan otoritas, pemerintah Prancis sendiri pun konon belum menemukan hubungan antara tuntutan-tuntutan demonstrasi yang tak hanya diikuti oleh para pelajar dan mahasiswa, namun juga guru, orangtua, dan organ pendukung lainnya.

Pada titik itu, gelombang aksi demonstrasi Oktober 2026 memang terdapat kemiripan dengan revolusi mahasiswa ’68 di Prancis.

Pada revolusi mahasiswa ’68, orang kembali mempertanyakan ulang arti kuasa, pengetahuan, hasrat, subjek, dsb., yang menandai dimulainya—setelah orang-orang Prancis “jeleh” dengan revolusi sosial-politik, ideologi, dsb.—apa yang dikenal sebagai “politik epistemik.”

Poststrukturalisme dan postsmodernisme yang dikenal di ranah kebudayaan hari ini adalah efek atas persinggungan yang tercipta saat revolusi mahasiswa Prancis ’68.

Akankah gelombang aksi demonstrasi para pelajar Prancis melahirkan efek epistemik yang sama sebagaimana revolusi mahasiswa ’68 yang melahirkan poststrukturalisme dan postmodernisme, dalam artian posisi epistemik yang sama sekali lain dari kedua corak berkebudayaan itu, belumlah dapat dipastikan.

Yang jelas, meskipun tak secara langsung, dunia digital yang kita rasakan di hari ini adalah juga perluasan dari poststrukturalisme dan postmodernisme. Lihatlah cara kerja mesin pencari seperti google yang bahkan pada tahap yang sekarang sudah dilengkapi dengan AI. Bukankah ini semua hanya mengulang dari logika Derrida tentang karakteristik makna dalam kamus, di mana satu kata akan merujuk pada kata lainnya secara tak terhingga?

Atau keberadaan game online yang di masa sekarang mengiringi perkembangan gen Z dan Alfa, yang sepertinya hanya perluasan lebih lanjut dari dunia simulakra Baudrillard yang merubuhkan batas antara dunia nyata dan dunia maya?

Bukankah dalam studi mutakhir prosentase anak-anak neurodivergen dari gen Z menyentuh angka 51 persen dan gen Alfa menyentuh hingga angka 70 persen (understood.org), yang artinya sebenarnya bahwa cara berpikir mereka adalah cara berpikir yang dekonstruktif: acak, tak memusat, non-linear, dsb.—sebentuk cara berpikir yang memang tak dapat ditampung oleh kurikulum dan sistem pendidikan modern?

Apakah kemudian dunia digital yang mengakibatkan neurodivergenitas atau neurodivergenitas yang justru menciptakan dunia digital bukanlah pertanyaan yang pokok.

Yang terang, kemapanan sesuatu yang sudah berlangsung lama memang tengah digugat. Jangan-jangan kita memang lupa bahwa setiap anak adalah anak zamannya.

Ketika seumpamanya, banyak bos perusahaan AI di hari ini menyarankan untuk memperlambat perkembangan AI yang sudah seperti karakteristik karya di zaman Derrida yang sepenuhnya sudah otonom, sama sekali lepas dari para pengarangnya, barangkali memang sekarang dibutuhkan posisi epistemik yang baru: berpikir dan berkebudayaan di era pasca reruntuhan yang ditinggalkan oleh poststrukturalisme dan postmodernisme.

Pada posisi epistemik seperti itulah intertonikalitas saya rumuskan untuk lebih melihat pada relasi daripada identitas ataupun makna yang sudah hancur lebur di tangan poststrukturalisme (Intertonikalitas dan Indonesia: Identitas yang Tak Pernah Selesai, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Taruhlah, secara intertonikal, untuk kondisi gen Z dan Alfa yang tercatat sebagai anak-anak neurodivergen dari 51 persen hingga 70 persen, bukanlah kondisi mereka yang mesti dirubah. Tapi adalah kondisi yang melingkupi mereka, dari keluarga, lingkungan, sekolah, dst. Lagi pula, konsep keluarga, lingkungan, sekolah, di hari ini adalah juga produk belaka dari relasi kuasa/pengetahuan “abad modern” yang memang anti non-linearitas.

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Bahaya Tersembunyi di Balik Kesalehan : Mudah Menghakimi dan Merasa Paling Benar

Ada fase dalam hidup ketika seseorang bertanya, “Aku ini siapa, dan hidupku untuk apa?” Bagi…

2 jam ago

Jihad Intelektual: Merebut Kembali Narasi Keberagamaan dari Cengkeraman Kebencian

Semangat keberagamaan generasi muda kita hari ini tengah berdiri di persimpangan dua peradaban besar: tradisi…

2 jam ago

Algoritma Hitam-Putih Beragama: Saatnya Moderasi Dunia Digital Diperlukan!

Di media sosial, perbedaan pendapat tentang agama sering kali tidak berhenti sebagai perbedaan penafsiran. Ia…

1 hari ago

Wajah Baru HTI: Dari Podcast ke Stand Up Comedy

Dulu, ketika mendengar nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bayangan yang melintas di kepala sebagian besar…

1 hari ago

Ustaz Viral, Ilmu Dangkal? Menguji Otoritas Keagamaan di Tengah Banjir Konten Digital

Laporan Digital 2026 dari DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia…

1 hari ago

Dari Rambo ke Roblox: Gamifikasi Teror dan Urgensi Ketahanan Digital Anak

Bagi generasi digital hari ini, game online telah melampaui definisi sederhana sebagai sarana hiburan. Di…

4 hari ago