Narasi

Mahalnya Persaudaraan Antar-kelompok

“Kepentingan” merupakan satu hal yang menjadikan seseorang akan melakukan apa saja. Dengan adanya “kepentingan”, tak perduli teman jadi musuh, saudara tak lagi dikenal, bahkan orang tua tak lagi dihormati. Saat ini, terdapat kelompok sesa(a)t yang memiliki “kepentingan” berbeda dengan kelompok lainnya. Kelompok ini selalu mengatasnamakan agama Islam dan membela NKRI, namun dalam praktiknya tidak sesuai dengan keduanya.

Agama Islam dan NKRI selalu menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dalam perbedaan. Allah SWT berfirman, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujuraat: 13).

Terdapat kisah tentang perasaudaraan dalam perbedaan (keyakinan) di masa Nabi Muhammad SAW. Ketika itu terdapat pengemis non-muslim yang selalu berada di sudut pasar kota madinah. Kondisinya sangat memrihatinkan dan tuna netra. Bahkan, untuk mencukupi kehidupan harian, ia hanya menunggu belas kasih orang lain. Beruntung saat itu terdapat seorang yang selalu datang untuk memberikan makanan berikut menyuapi dengan lembut. Pengemis lemah itu pun selalu lahap dalam menyantap makanan yang diberikan. Di sela-sela makan, ia selalu berpesan kepada orang yang menyuapi agar menjauhi Muhammad karena ajaran sesatnya.

Peristiwa pemberian makanan ini pun terjadi setiap hari hingga pada suatu ketika pengemis tersebut merasakan bahwa orang yang menyuapi bukanlah orang biasanya. Ia merasa bahwa kelembutan yang dirasakan masih kalah jauh dibandingkan dengan kelembutan yang selama ini ia terima. Maka, saat itupun orang yang menyuapi (Abu Bakar) menceritakan bahwa dirinya bukanlah orang yang biasa menyuapi, dan orang yang biasa menyuapi adalah Nabi Muhammad SAW yang kala itu telah wafat. Maka, pengemis tersebut baru menyadari bahwa Muhammad yang selama ini dihinanya ternyata memiliki modal persaudaraan yang luar biasa, bahkan terhadap pemeluk agama lain yang selalu mengejeknya.

Sungguh, Nabi Muhammad SAW merupakan teladan terbaik, termasuk dalam hal persaudaraan. Aisyah sendiri pernah mengatakan bahwa akhlak Nabi Muhammad SAW adalah al-Qur’an. Sementara, al-Qur’an adalah pedoman hidup, termasuk di dalamnya juga terdapat persaudaraan.

Sementara itu, NKRI memiliki semboyan “bhineka tunggal ika”. Dengan semboyan ini, seluruh komponen Negara, tak membedakan suku, ras, dan agama, semua adalah sama, bersaudara. Mereka adalah sama-sama warna negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Jika ada satu kelompok merasa unggul sehingga merendahkan kelompok lain, maka kelompok ini tidak sesuai dengan semangat NKRI.

Bermula dari sinilah, jika mutakhir ini terdapat kelompok yang merasa diri paling benar dan suci sehingga dapat dengan mudah merendahkan kelompok lain, maka kelompok tersebut tidak pantas berada di NKRI. Kelompok ini juga tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang mengajarkan persaudaraan, bahkan terhadap kelompok lain.

Publik mesti mengetahui bahwa kelompok yang selalu menggunakan kedok agama dan pembela NKRI tidak selamanya sesuai dengan ajaran agama dan semangat NKRI. Kedok tersebut bisa jadi hanya untuk mengelabuhi masyarakat sehingga terpesona untuk menjadi pengikutnya. Padahal, bisa saja kelompok ini adalah kelompok yang dibuat dalam rangka menghancurkan agama (Islam) dan bangunan kokoh NKRI. Wallhu a’lam.

This post was last modified on 4 Desember 2017 12:07 PM

Anton Prasetyo

Pengurus Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama (LTN NU) dan aktif mengajar di Ponpes Nurul Ummah Yogyakarta

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago