Narasi

Menghidupkan Ikrar Sumpah Pemuda di Ruang Siber

Hampir seabad lalu, para pemuda dari berbagai daerah duduk bersama dan mengucapkan tiga ikrar sederhana: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Hari ini, ikrar itu diuji di tempat yang tak pernah mereka bayangkan: layar gawai. Ruang siber adalah tanah air baru tempat generasi muda menghabiskan sebagian besar waktunya, dan di sanalah kesetiaan mereka diperebutkan.

Kepedulian anak muda terhadap penderitaan sesama manusia di belahan dunia lain adalah kabar baik. Namun empati yang tidak dibimbing ilmu mudah dibelokkan. Konflik yang rumit, dengan sejarah panjang, kepentingan politik, dan kepentingan ekonomi, sering dipotong menjadi video singkat berisi dua kubu: yang suci dan yang jahat. Algoritma media sosial menyukai kemarahan, sebab kemarahan membuat orang bertahan menonton. Maka yang sampai ke beranda kita bukan gambaran utuh, melainkan potongan yang paling memancing emosi.

Penyesatan semacam ini bekerja lewat bashar, penglihatan mata yang mudah tertipu gambar dan potongan video. Penawarnya adalah bashirah, penglihatan batin yang menembus permukaan untuk menangkap sebab, konteks, dan akibat. Dalam tradisi kita, latihannya bernama tabayyun: berhenti sejenak, memeriksa, lalu menimbang sebelum menyebarkan. Kata fitnah (kekacauan) semula berarti memanaskan emas di atas api untuk memisahkan yang murni dari kotorannya. Ruang siber hari ini adalah api itu. Ia menguji siapa yang sungguh jernih berpikir dan siapa yang sekadar mengikuti arus.

Dalam diri manusia, bagian otak yang mengatur emosi dan pencarian pengakuan berkembang lebih cepat daripada bagian yang mengatur pertimbangan dan pengendalian diri. Ditambah kebutuhan untuk diterima kelompok, anak muda mudah mengalami peleburan identitas: batas antara “aku” dan “kelompokku” memudar, sehingga luka di tempat jauh terasa seperti luka pribadi. Dari sini lahir empati sempit, yakni peduli sepenuh hati pada yang segolongan, tetapi dingin bahkan memusuhi yang berbeda. Pelan-pelan, perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan moral, dan sesama warga negara dianggap lawan.

Di titik inilah tasawuf memberi sumbangan yang tidak tergantikan. Para sufi mengajarkan bahwa sebelum menilai dunia, kita perlu menilai diri. Marah yang tak terarah, fanatisme buta, dan rasa paling benar adalah penyakit hati yang menumpulkan bashirah. Tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, melatih kita menahan diri: tidak langsung membagikan berita yang diterima, tidak langsung menghujat, dan bertanya dahulu apakah kemarahan ini lahir dari keadilan atau dari hasutan. Jiwa yang tenang melihat lebih jernih daripada jiwa yang terbakar.

Kejernihan itu juga meluruskan cara kita memahami persaudaraan. Dalam khazanah pemikiran Islam di Indonesia dikenal tiga ukhuwah: Islamiyyah, persaudaraan seiman lintas negara; wathaniyyah, persaudaraan sebangsa; dan insaniyyah, persaudaraan sesama manusia. Propaganda gemar mengadu ketiganya, seolah mencintai Indonesia berarti mengkhianati umat. Padahal ketiganya saling menopang. Kepedulian pada saudara yang tertindas tidak perlu merobohkan rumah tempat kita berteduh. Rumah itu dibangun di atas mitsaq, perjanjian kokoh yang mengikat secara moral dan spiritual, berakar dari kata yang bermakna keteguhan. Ia lebih dalam daripada ʿahd, janji biasa. Sumpah Pemuda dan kesepakatan para pendiri bangsa adalah mitsaq wathaniy, dan menjaganya adalah amanah.

Maka menghidupkan Sumpah Pemuda di ruang siber berarti menerjemahkan tiga ikrar itu ke dalam perilaku. Satu tanah air: menjaga kedaulatan pikiran kita dari hasutan yang mengadu warga, dan menyalurkan kepedulian dunia lewat jalan yang beradab, sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 untuk ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Satu bangsa: menolak mengotak-ngotakkan sesama warga menjadi kubu yang saling membenci. Satu bahasa: memakai bahasa Indonesia untuk menjernihkan, bukan memanaskan; menulis dengan santun, mengecek sebelum membagikan, dan tidak menuduh tanpa bukti.

Langkah ini perlu dukungan bersama. Sekolah dan pesantren dapat mengajarkan literasi digital bukan hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai latihan berpikir dan menata hati. Orang tua dan tokoh agama dapat menemani anak muda membaca peristiwa dunia dengan sabar. Para kreator muda dapat menjadikan lini masa sebagai ladang kebaikan, bukan arena kemarahan.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang tak peduli pada dunia, melainkan bangsa yang peduli dengan kepala dingin dan hati bersih. Para pemuda 1928 bersumpah dengan lisan; pemuda hari ini menggenapinya dengan jari-jarinya. Semoga setiap unggahan menjadi saksi bahwa ikrar itu masih hidup.

This post was last modified on 28 Oktober 2026 11:18 AM

mawaddah

Recent Posts

Generasi Muda 5.0; Menghidupkan Literasi Kasih Sayang dan Menutup Ruang Radikalisme

Telah kita ketahui bersama bahwa AI atau kecerdasan buatan telah menjelma menjadi kekuatan dahsyat nan…

2 jam ago

Pranciskan Indonesia!: Ketika Slogan Menggelegar Menggantikan Kedalaman Intelektual

Tanda seru dalam slogan “Pranciskan Indonesia!” seolah menyimpan energi perlawanan yang meluap. Ia terdengar heroik,…

1 hari ago

Saat Konflik Geopolitik Diubah Menjadi Perang Akidah

Konflik geopolitik dunia kini telah menjadi bagian dari percakapan generasi muda Indonesia. Melalui media sosial,…

1 hari ago

Manuver Black Bloc di Balik Demo Perancis: Alarm Keras bagi Demokrasi Indonesia

Gelombang protes masif yang melanda Prancis dalam beberapa waktu terakhir kembali menarik perhatian dunia internasional.…

1 hari ago

Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

Ada fenomena menari yang terjadi di lanskap keislaman Indonesia kontemporer. Di tengah menguatnya kelompok kelas…

2 hari ago

Di Balik Konflik Saudi–Houthi: Bahaya Geopolitik dan Ekonomi yang Sering Disederhanakan Politisasi Agama

Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memasuki fase kritis. Eskalasi yang semakin…

2 hari ago