Narasi

Mengurai Jebakan Propaganda Ekstremis dan Menafsir Ulang Sumpah Pemuda di tengah Gejolak Geoekonomi-Politik

Tembok kedaulatan sebuah negara hari ini tidak lagi semata diruntuhkan oleh invasi militer, melainkan oleh infiltrasi narasi yang secara perlahan menggerogoti kesadaran warganya. Sembilan puluh delapan tahun silam, para pemuda Nusantara berkumpul mengikrarkan sebuah sumpah revolusioner untuk mendirikan bangunan bernama Indonesia. Kini, di usianya yang hampir menyentuh satu abad, ikrar agung itu menghadapi ujian eksistensial berupa ancaman yang tidak kasat mata: pembajakan emosi publik untuk mendelegitimasi kedaulatan negara-bangsa.

Mari kita letakkan persoalan ini pada panggung realitas. Di era hiper-konektivitas, dinamika global merangsek masuk ke ruang tamu dan gawai kita tanpa permisi. Namun, informasi yang hadir sering kali telah dimanipulasi. Rentetan konflik geopolitik seperti ketegangan berdarah antara Houthi dan Arab Saudi, gejolak sosiokultural di jalanan Paris, hingga diskursus sekularisme yang kompleks di Azerbaijan, tidak lagi disajikan sebagai fakta utuh. Di tangan kelompok tertentu, krisis-krisis ini dicabut dari konteks historisnya, direduksi, dan didistorsi menjadi amunisi propaganda di dalam negeri.

Tujuannya sangat terstruktur: menyulut sentimen kemarahan massa, meruntuhkan kepercayaan terhadap sistem demokrasi yang sah, dan memaksakan ilusi sistem transnasional—seperti khilafah—sebagai satu-satunya obat penawar. Ini adalah bentuk neokolonialisme kognitif yang secara langsung mengancam kedaulatan bangsa.

Pimpinan DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, secara tajam memotret kerentanan struktural yang tengah kita hadapi. Beliau  menyampaikan bahwa saat ini Indonesia dihadapkan pada dinamika global yang bergejolak, termasuk perang tarif perdagangan, konflik geopolitik yang meningkat, serta ketidakpastian ekonomi internasional. Oleh karena itu, Dasco menekankan Pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global.

“Karena itu, persatuan tidak boleh berhenti menjadi semboyan. Ia harus menjelma menjadi kemampuan negara dalam mengambil keputusan yang tepat, cepat, dan adil,” ujar Dasco dalam pernyataannya dalam momentum Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 di Kompleks Parlemen, Rabu (28/10).

Pernyataan tersebut menempatkan persatuan bukan sekadar sebagai jargon romantis, melainkan sebagai perisai strategis (strategic shield). Di tengah turbulensi geopolitik global yang kian tidak menentu, pertahanan terbaik sebuah bangsa adalah resiliensi masyarakatnya. Di sinilah pemuda harus mengambil peran sentral sebagai jangkar kedaulatan.

Merespons gelombang ancaman yang mengikis kedaulatan ini, negara tentu tidak boleh abai. Masyarakat jangan mudah tergiring narasi adu domba di tengah riuhnya informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat harus memiliki kemampuan dalam memilah informasi, membedakan dengan jernih mana yang murni solidaritas kemanusiaan dan mana yang merupakan mobilisasi kebencian.

Solidaritas kemanusiaan adalah panggilan nurani universal. Ia menuntut kita untuk bersimpati, menggalang bantuan, dan mendorong perdamaian bagi mereka yang tertindas di belahan bumi mana pun. Namun, solidaritas yang sejati tidak akan pernah mensyaratkan Anda untuk membenci tanah air Anda sendiri. Sebaliknya, mobilisasi kebencian mengeksploitasi penderitaan orang lain sebagai bahan bakar untuk mengobarkan api permusuhan di dalam negeri. Ia meminjam narasi “bela agama” atau “bela kaum tertindas” untuk memecah belah kebhinekaan dan merongrong fondasi negara.

Membiarkan narasi kebencian ini merajalela sama halnya dengan menyerahkan kedaulatan bangsa kita secara sukarela kepada agenda asing dan kelompok ekstrem. Kedaulatan tidak hanya tentang batas wilayah laut dan darat, tetapi juga tentang batas kewarasan dan kemerdekaan berpikir warga negaranya dari manipulasi ideologi destruktif.

Momentum Sumpah Pemuda ke-98 harus menjadi titik balik (trigger) kebangkitan nalar. Merawat kebhinekaan adalah syarat mutlak bagi persatuan, dan persatuan adalah prasyarat bagi tegaknya kedaulatan. Pemuda Indonesia harus berdiri di garda terdepan, menolak menjadi pion dari konflik impor, dan kembali menegaskan bahwa tumpah darah, bangsa, dan bahasa yang satu adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan narasi apapun.

Amirah Ufairah

Recent Posts

Sensasionalisme Narasi Eskatologi: Pentingnya Studi Takhrij terhadap Hadis Akhir Zaman

Isu eskatologi selalu memiliki daya pikat magis di tengah umat Muslim. Di era banjir informasi…

7 menit ago

Menolak Normalisasi Vigilantisme: Main Hakim Sendiri Sebagai Pintu Masuk Terorisme

Kasus penggerebekan sebuah pondok pesantren di Karanganyar oleh aparat kepolisian yang berkaitan dengan aksi pembakaran…

8 menit ago

Sindrom “Katak Rebus” dan Matinya Nalar Geopolitik

Terdapat potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung…

23 jam ago

Komodifikasi Ketakutan dan Ilusi Ideologi: Merefleksikan Sumpah Pemuda di Palagan Siber

Peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tidak boleh dibiarkan menguap sekadar menjadi romantisme sejarah…

24 jam ago

Belajar Kolaborasi Pemuda Lintas Iman dalam Aksi Kemanusiaan : Kepedulian Tidak Mengenal Batas Iman

Suatu hari di Mekah, jauh sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, seorang pedagang dari Zubaid, Yaman,…

24 jam ago

Jong Islamieten Bond, Merawat Identitas Tanpa Terjebak Polarisasi

Surakarta, 1927. Di tengah ruang kongres yang riuh, Haji Agus Salim melangkah tenang menuju mimbar.…

2 hari ago