Isu eskatologi selalu memiliki daya pikat magis di tengah umat Muslim. Di era banjir informasi dan pesatnya media sosial, narasi seputar fitnah akhir zaman, kemunculan sosok eskatologis, hingga prediksi kehancuran dunia kerap mendapat engagement tinggi di media sosial.
Sayangnya, antusiasme masyarakat sering kali tidak diimbangi dengan sikap kritis terhadap sumber tekstual dari narasi yang berkembang tersebut. Alhasil, narasi eskatologi kerap dibumbui sensasionalisme, salah penafsiran, bahkan kutipan riwayat yang tidak jelas asal-usulnya. Dalam konteks inilah, takhrij hadis hadir sebagai instrumen ilmiah yang krusial untuk menjernihkan narasi yang terlanjur keruh.
Seperti kita lihat belakangangan ini. Isu akhir zaman sering dimanfaatkan oleh sebagian penceramah atau pembuat konten demi mendulang perhatian dan emosi massa. Narasi eskatologi cenderung dikemas secara bombastis. Misalnya, mengaitkan peristiwa geopolitik, bencana alam, hingga fenomena alam tertentu secara langsung dengan nubuat kenabian.
Masalah utama dari fenomena ini terletak pada dua hal. Pertama, pencampuran status riwayat, di mana hadis shahih, dha’if (lemah), hingga maudhu’ (palsu) dipakai secara acak tanpa adanya penyaringan. Kedua, terjadi cocoklogi alias kontekstualisasi yang memaksa dan over-generalisasi, dimana peristiwa sosiologis atau ekologis kontemporer dipaksa untuk merujuk pada teks zaman lampau.
Dampak dari keruhnya narasi ekstaologis ini tidak main-main. Narasi eskatologi yang liar dapat menimbulkan kecemasan massal, keputusasaan, kesimpulan, hingga sikap apatis terhadap masa depan. Umat menjadi berpikir regresif alias melihat ke belakang dan bersikap fatalistis.
Peran Takhrij Hadis sebagai Filter Otentisitas
Takhrij hadis secara mendasar adalah proses menelusuri dan mengeluarkan hadis dari kitab-kitab sumber aslinya, lalu menguji kualitas sanad dan matan-nya. Dalam studi eskatologi, takhrij berfungsi sebagai metode verifikasi ilmiah untuk menjawab pertanyaan mendasar, apakah kalimat ini benar-benar bersumber dari Nabi Muhammad SAW?
Metode takhrij bekerja dalam tiga kerangka. Pertama, kerangka verifikasi sanad, yakni memastikan sebuah hadist diriwayatkan oleh sosok perawi yang jujur dan memiliki hafalan yang kuat (dhabith). Verifikasi sanad juga memastikan bahwa satu hadis memiliki rantai periwayatan yang tidak terputus (itthal as-sanad) ke Rasulullah. Dalam konteks eskatologis, harus diakui bahwa banyak hadis seputar akhir zaman yang beredar di masyarakat ternyata bersumber dari perawi yang terbukti bermasalah atau suka memalsukan riwayat.
Kedua, kerangkka pengujuan matan, yakni memeriksa apakah teks hadis tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an, hadis-hadis yang lebih shahih, atau logika rasional yang sehat. Harus diakui pula bahwa banyah isu eskatologis tentang akhir zaman yang tidak rasional dan bertentangan dengan prinsip Al Qur’an. Namun, narasi itu tetap dipaksakan untuk dipercayai oleh umat.
Ketiga, kerangka filterisasi dari narasi Israiliyat. Filterisasi ini penting, lantaran banyak narasi eskatologi yang populer di masyarakat sebenarnya bukan berasal dari Nabi SAW, melainkan dari cerita-cerita Israiliyat (kabar dari tradisi umat terdahulu) yang masuk ke dalam literatur Islam melalui transmisi lisan sahabat atau tabi’in tanpa sanad yang muttashil kepada Nabi.
Membedah Hadis-Hadis Akhir Zaman yang Populer
Untuk memahami bagaimana takhrij bekerja menjernihkan narasi, kita dapat melihat beberapa contoh narasi yang kerap beredar di masyarakat. Misalnya, terkait narasi kemunculan Dukhan atau asap tebal yang datang di pertengahan bulan Ramadan. Narasi ini hampir selalu muncul setiap tahun, apalagi jika malam pertengahan Ramadan jatuh pada hari Jumat.
Padahal, jika dilihat dari metode takhrij, riwayat-riwayat spesifik mengenai tanggal dan hari terjadinya dukhan tersebut bersumber dari kitab-kitab seperti Al-Fitan karya Nu’aim bin Hammad, bukan bersandar pada hadis Rasulullah. Para ulama kritikus hadis, seperti Al-Aqili, Ibnul Jauzi, hingga Ibnu Hajar, menyimpulkan bahwa riwayat tersebut berstatus dha’if syadid (sangat lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) karena memuat perawi yang matruk (ditinggalkan).
Contoh lainnya, terkait hadis yang meyakini bahwa umur dunia hanyalah 1500 tahun. Spekulasi bahwa dunia akan kiamat ketika berada pada abad ke-15 Hijriah kerap menjadi bahan perbincangan. Takhrij terhadap klaim ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun hadis shahih dari Nabi SAW yang menyebutkan batasan umur dunia secara pasti.
Imam as-Suyuthi dan Ibnul Qayyim menegaskan bahwa seluruh riwayat yang menetapkan umur spesifik bagi dunia adalah riwayat yang batil dan tidak bernilai secara ilmiah. Al-Qur’an sendiri telah menegaskan bahwa pengetahuan tentang kiamat adalah rahasia mutlak Allah SWT (QS. Al-A’raf: 187).
Mengintegrasikan Takhrij dan Fiqh al-Hadith
Takhrij sanad adalah langkah awal untuk menjernihkan kekeruhan eskatologis, terutama terkait narasi akhir zaman. Selanjutnya, umah harus menyempurnakannya dengan fiqh al-hadith atau pemahaman makna hadis.
Artinya, meskipun suatu hadis eskatologi berstatus shahih, seperti hadis-hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim mengenai Dajjal, Nabi Isa AS, atau Ya’juj dan Ma’juj, umat tetap harus memakai metodologi penafsiran yang proporsional.
Para ulama hadis modern menekankan pentingnya memahami hadis nubuwwat dengan pendekatan alegoris (majazi), serta tidak terburu-buru mencocokkan teks hadis dengan tokoh atau peristiwa politik tertentu. Dengan kata lain, umat idealnya tidak menafsirkan hadis-hadis akhir zaman dengan pendekatan cocoklogi.
Menjernihkan narasi eskatologi adalah tanggung jawab kita bersama. Takhrij hadis tidak boleh berhenti sebagai diskursus akademis di ruang-ruang kuliah semata, melainkan harus ditransformasikan menjadi budaya literasi digital bagi masyarakat luas.
Dengan membudayakan tradisi tabayyun dan takhrij terhadap hadis-hadis akhir zaman yang viral di medsos, umat Muslim akan terhindar dari ketakutan, kecemasan, dan kepanikan yang berlebih. Kiamat pasti akan datang dan kita wajib meyakininya sebagai bagian dari keimanan Islam.
Namun, biarlah kiamat menjadi hak mutlak Tuhan untuk menentukan kapan terjadinya. Jangan sampai, wilayah prerogratif Tuhan itu kita ambil alih dengan melakukan cocoklogi dan generalisasi yang justru meresahkan umat. Esensi menjadi muslim bukanlah pada bagaimana kita menghadapi kiamat. Namun, bagaimana kita menjadi insan yang bermanfaat di masa sekarag dan dimana kita tinggal.
Tembok kedaulatan sebuah negara hari ini tidak lagi semata diruntuhkan oleh invasi militer, melainkan oleh…
Kasus penggerebekan sebuah pondok pesantren di Karanganyar oleh aparat kepolisian yang berkaitan dengan aksi pembakaran…
Terdapat potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung…
Peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tidak boleh dibiarkan menguap sekadar menjadi romantisme sejarah…
Suatu hari di Mekah, jauh sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, seorang pedagang dari Zubaid, Yaman,…
Surakarta, 1927. Di tengah ruang kongres yang riuh, Haji Agus Salim melangkah tenang menuju mimbar.…