Categories: BudayaPeradaban

Respon Cerdas Muslim AS Soal Gambar Nabi

Beberapa waktu lalu dunia sempat dikejutkan ulah provokatif dari seorang anti-Islam –begitu ia menyebut dirinya— bernama Pamela Geller. Ia menggelar kontes menggambar Muhammad. Ia berharap kontes ini mampu menarik perhatian dan –tentu saja- kemarahan kaum Muslim. Bukan rahasia jika umat muslim sengaja dipancing untuk sebentar-sebentar marah,  hal ini ditujukan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa muslim itu pemarah.

Sebagai seorang presiden di American Freedom Defence Initiative (AFDI), Pamela mengerti betul ‘tugas’ utamanya, yaitu menghentikan penyebaran Islam di Amerika. Ia dan kelompoknya tidak ingin Islam berkembang pesat di negeri paman Sam itu. Oleh karenanya ia tak pernah berhenti untuk menampilkan wajah buruk sebagian muslim dengan terus menerus memancing amarah mereka dengan beragam kegiatan kontroversial.

Sebelum mengadakan kontes menggambar nabi Muhammad, sebelumnya ia pernah mengadakan aksi anti-Islam pada 2012 setelah peristiwa penyerangan kedubes Amerika di Libya yang menewaskan 4 orang warga Amerika. Ia menempelkan poster-poster berisi hujatan dan makian kepada muslim di kereta bawah tanah. Ia ingin warga Amerika melihat muslim sebagai orang jahat, gemar melakukan kekerasan dan tak asing dengan aksi pembunuhan.

Kontes menggambar nabi Muhammad yang ia gagas beberapa waktu lalu adalah kelanjutan dari aksi anti Islam. Ia begitu berhasrat untuk memancing kemarahan –dan mungkin juga aksi kekerasan—dari muslim, sehingga dengannya ia dapat dengan mudah menunjukkan pada warga Amerika betapa Muslim bukan orang ramah, tetapi orang yang mudah marah. Namun yang terjadi ternyata justru diluar perkiraannya. Sebagian besar Muslim memang tersinggung dengan aksi provokatifnya, tetapi respon yang diberikan Muslim ternyata kreatif dan positif.

Sebagian Muslim di Amerika justru menyambut aksi Pamela Geller dengan cara yang positif. Mereka ‘membantu’ Pamela untuk mensukseskan aksi menggambar Muhammad. Para Muslim tersebut berkeliling di pusat-pusat keramaian dan meminta orang-orang yang mereka temui untuk menggambar wajah Muhammad seperti yang mereka ketahui.

Tapi tunggu dulu, Muhammad yang dimaksud bukan Muhammad Rasulullah, melainkan orang-orang dengan nama Muhammad yang pernah mereka temui. Orang-orang yang diminta untuk menggambar wajah Muhammad tersebut lantas menggambar wajah Muhammad dalam beraneka rupa.

Ah, tentu saya mengenal Muhammad, ia adalah supervisor saya di tempat kerja,” begitu kata salah seorang pengunjung pusat keramaian yang diminta untuk menggambar nama Muhammad.Ia pun lantas menggambar wajah si supervisor tersebut dengan menggunakan spidol di atas white board kecil yang telah disediakan. Orang-orang lain yang ditemui juga menggambar wajah Muhammad secara berbeda-beda, ada yang berambut kribo, memiliki pipi tembem, dan lain sebagainya.

Tujuan dari aksi ini adalah untuk menunjukkan bahwa nama Muhammad telah digunakan banyak Muslim sebagai wujud kecintaan mereka kepada sang kekasih Allah. Aksi ini tentu telah membuat propagana Pamela dan para bolo-nya gagal total. Karena nyatanya Muslim tidak hanya bisa marah, masih ada banyak Muslim lain yang kreatif dan ramah. Dan sekali lagi, kreatifitas mampu menjauhkan kita dari perilaku yang tidak pantas.

Jika anda penasaran untuk melihat aksi kreatif namun sangat menohok ini, di bawah ini adalah videonya. Stay creative and always be positive!

sumber : jalandamai.com

This post was last modified on 7 Mei 2015 2:19 PM

Khoirul Anam

Alumni Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), UGM Yogyakarta. Pernah nyantri di Ponpes Salafiyah Syafiyah, Sukorejo, Situbondo, Jatim dan Ponpes al Asyariah, kalibeber, Wonosobo, Jateng. Aktif menulis untuk tema perdamaian, deradikalisasi, dan agama. Tinggal di @anam_tujuh

Share
Published by
Khoirul Anam

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago