Narasi

Sindrom “Katak Rebus” dan Matinya Nalar Geopolitik

Terdapat potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung ke dalam air yang sudah mendidih, dengan refleks mereka akan langsung lompat untuk menyelamatkan diri.

Namun, ketika katak dimasukkan ke dalam air biasa kemudian dipanaskan secara perlahan, ia merasa tidak sedang dalam bahaya. Si katak justru berusaha menyesuaikan suhu tubuhnya tanpa menyadari bahwa ia sebenarnya sedang dalam bahaya hingga akhirnya mati. Kita mungkin berpikir, katak tersebut mati karena air yang mendidih.

Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun faktor utama yang menentukan mati atau tidaknya katak tersebut adalah ketidakmampuannya untuk memahami situasi dan menyelamatkan dirinya di waktu yang tepat. Bukannya menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam situasi yang membahayakan, ia malah menyesuaikan dirinya di lingkungan yang tidak menguntungkan baginya.

Tanpa disadari, panci berisi air yang menghangat perlahan itu kini hadir di linimasa media sosial. Banyak anak muda Indonesia hari ini sedang “terrebus” secara diam-diam dengan cara serupa ketika mereka mengikuti berbagai konflik di luar negeri, misalnya konflik Houthi–Arab Saudi, atau isu sekularisme di Azerbaijan.

Berawal dari rasa ingin tahu dan solidaritas, mereka perlahan menyesuaikan diri dengan narasi yang “suhu” manipulasinya nya terus dinaikkan di media sosial. Satu per satu tampak masuk akal, bahkan emosional.

Dan memang, peduli pada penderitaan sesama manusia, termasuk sesama Muslim, adalah empati yang sehat. Masalahnya, antusiasme dan empati yang tulus itu diam-diam ditunggangi serta dibelokkan oleh kelompok radikal ekstremis.

Ambil contoh sebuah buletin dakwah edisi pertengahan Oktober 2026. Dengan mengutip laporan kantor berita tentang serangan ke Riyadh, ia menulis judul, ‘Haram Menumpahkan Darah Sesama Muslim’.

Siapa yang menolak? Argumennya logis. Namun kalau saya cermati arah argumennya. Muncul klaim bahwa yang bermasalah bukan sekadar pemimpin, melainkan sistem. Dari duka korban, pembaca digiring pada kesimpulan bahwa negara-bangsa itu sendiri cacat. Lompatan logika ini nyaris tak terasa.

Unggahan yang lain menyebut bahwa hanya ada empat jenis pihak yang memerangi Saudi; kaum liberal, Syiah, kelompok teroris, dan orang bodoh. Mereka membingkai konflik dengan label dan stigma.

Artinya, peristiwa itu sendiri bukan pokok perkara. Ia hanya bahan baku, sementara yang diincar adalah emosi pembacanya. Padahal perang Yaman, yang berlangsung lebih dari satu dekade, menyangkut rivalitas regional, kepentingan kekuatan besar, dan krisis kemanusiaan. Tak satu pun bisa dijelaskan dengan satu label.

Mengapa cara ini efektif?

Karena dunia yang dibagi dua terasa nyaman. Ia murah secara kognitif, tak menuntut membaca sejarah, dan menawarkan rasa memiliki; kami yang benar, mereka yang salah. Bagi remaja yang sedang mencari tempat berpijak, tawaran itu menggoda.

Di sinilah sindrom katak rebus bekerja. Anak muda tidak dipaksa menelan ideologi ekstrem sekaligus. Yang diubah pelan-pelan adalah suhunya.

Hari ini diajak marah pada ketidakadilan global. Besok diajak curiga pada negara sendiri. Lusa merasa identitas kebangsaan tak ada hubungannya dengan imannya. Tiap langkah terasa kecil, sehingga tak ada momen untuk melompat.

Konsensus negara-bangsa memang bukan berhala. Ia boleh dikritik, seperti kebijakan luar negeri atau penegakan hukum. Namun kritik berbeda dari delegitimasi absolut. Solidaritas yang sehat justru menuntut data dan konteks, bukan kemarahan yang diproduksi massal.

Sekolah, kampus, dan netizen ruang siber perlu membiasakan hal sederhana, yaitu memeriksa sumber, membandingkan unggahan, membedakan fakta, tafsir, dan ajakan. Moderasi dalam arti ini bukan sikap netral terhadap ketidakadilan, melainkan kesediaan menimbang sebelum bereaksi.

Katak dalam perumpamaan itu tidak mati karena airnya panas, tetapi karena tak punya cara mengukurnya. Anak muda kita masih bisa dibekali alat itu, sebelum airnya mendidih.

Susi Valeria

Recent Posts

Komodifikasi Ketakutan dan Ilusi Ideologi: Merefleksikan Sumpah Pemuda di Palagan Siber

Peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tidak boleh dibiarkan menguap sekadar menjadi romantisme sejarah…

3 jam ago

Belajar Kolaborasi Pemuda Lintas Iman dalam Aksi Kemanusiaan : Kepedulian Tidak Mengenal Batas Iman

Suatu hari di Mekah, jauh sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, seorang pedagang dari Zubaid, Yaman,…

3 jam ago

Jong Islamieten Bond, Merawat Identitas Tanpa Terjebak Polarisasi

Surakarta, 1927. Di tengah ruang kongres yang riuh, Haji Agus Salim melangkah tenang menuju mimbar.…

23 jam ago

Generasi Muda 5.0; Menghidupkan Literasi Kasih Sayang dan Menutup Ruang Radikalisme

Telah kita ketahui bersama bahwa AI atau kecerdasan buatan telah menjelma menjadi kekuatan dahsyat nan…

1 hari ago

Menghidupkan Ikrar Sumpah Pemuda di Ruang Siber

Hampir seabad lalu, para pemuda dari berbagai daerah duduk bersama dan mengucapkan tiga ikrar sederhana:…

1 hari ago

Pranciskan Indonesia!: Ketika Slogan Menggelegar Menggantikan Kedalaman Intelektual

Tanda seru dalam slogan “Pranciskan Indonesia!” seolah menyimpan energi perlawanan yang meluap. Ia terdengar heroik,…

2 hari ago