Fenomena True Crime Community (TCC) belakangan mendapat perhatian setelah Densus 88 mengungkap 70 anak berusia 11-18 tahun yang terhubung dengan kelompok TCC bernuansa kekerasan di 19 provinsi. Dari jumlah tersebut, 67 anak telah mendapatkan asesmen, pemetaan, konseling, atau intervensi. Angka ini tentu tidak berarti setiap anak yang menyukai konten true crime memiliki kecenderungan melakukan kekerasan.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan setelah seseorang mulai terlibat dalam sebuah komunitas. Pembahasan soal kriminal bisa saja berawal dari rasa penasaran. Namun, ketika obrolan mulai mengarah pada pengagungan pelaku, menganggap kekerasan sebagai hal yang wajar, atau bahkan membicarakan rencana untuk melakukan serangan, persoalannya sudah masuk ke tahap yang berbeda.
Radikalisasi Tidak Selalu Dimulai dari Ideologi
Pembicaraan mengenai radikalisasi sering kali dimulai dari ideologi. Seseorang dianggap mulai berbahaya ketika sudah menunjukkan pandangan ekstrem atau membenarkan kekerasan. Pola tersebut memang ada, namun perkembangan komunitas digital menunjukkan bahwa prosesnya bisa berjalan dari arah yang berbeda.
Anak muda bisa masuk karena penasaran. Bisa karena ingin mencari teman. Bisa pula karena menemukan komunitas yang membuat mereka merasa diterima.
Dari sana, keterikatan dengan kelompok dapat berkembang. Percakapan yang semula membahas kasus kriminal dapat berubah menjadi candaan tentang kekerasan, kemudian menjadi pembenaran terhadap pelaku, dan dalam kondisi tertentu bergerak menuju pembicaraan mengenai tindakan nyata.
Analisis RSIS mengenai TCC di Indonesia memberikan gambaran mengenai eskalasi tersebut. Dari 70 anak yang teridentifikasi, 20 disebut telah memasuki tahap persiapan serangan. Sembilan anak dilaporkan telah memilih calon target, sebagian besar sekolah, sementara 11 lainnya telah melakukan langkah persiapan konkret.
Gambaran ini memperlihatkan bahwa ancaman tidak selalu muncul dalam bentuk propaganda yang terang-terangan. Kekerasan bisa saja menjadi pintu masuknya, sementara alasan atau pandangan yang membenarkan tindakan tersebut muncul belakangan. Proses seperti ini tentu lebih sulit dikenali karena pada awalnya tidak selalu terlihat sebagai persoalan ideologi.
Karena itu, perhatian tidak cukup diarahkan pada apa yang diyakini seorang anak. Perubahan sikap, cara berkomunikasi, siapa saja yang sering berinteraksi dengannya, sampai munculnya pembicaraan tentang tindakan kekerasan perlu dilihat sebagai rangkaian yang saling berkaitan.
Komunitas Kekerasan Menjadi Tempat Mencari Pengakuan
Komunitas pada dasarnya memberikan sesuatu yang dibutuhkan banyak anak muda, yaitu rasa diterima. Mereka menemukan orang dengan minat yang sama, memiliki tempat untuk berbicara, dan merasa tidak sendirian. Masalah muncul ketika kebutuhan tersebut dipenuhi oleh kelompok yang menjadikan kekerasan sebagai bagian dari identitas.
Di sinilah persoalan TCC menjadi lebih rumit. Menghapus sebuah grup atau akun memang dapat membatasi penyebaran konten berbahaya. Namun, penghapusan tersebut tidak otomatis menghilangkan kebutuhan seseorang untuk mencari teman, perhatian, atau pengakuan.
Densus 88 sebelumnya menyebut telah menangani lebih dari 7.000 konten ekstremisme sepanjang 2025 dan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam proses penanganannya. Upaya tersebut penting untuk mengurangi ruang penyebaran materi ekstrem. Namun, jika hanya berhenti pada penghapusan konten, akar persoalan sosial yang membuat anak mencari komunitas tertentu belum tentu tersentuh.
Karena itu, perlu kehati-hatian dalam melihat anak yang menyukai true crime. Menonton dokumenter kriminal, membaca kisah pembunuhan, atau mengikuti forum pembahasan kasus tidak bisa dijadikan bukti bahwa seseorang telah terpapar radikalisme.
Yang perlu diperhatikan adalah eskalasinya. Apakah anak mulai mengagungkan pelaku? Apakah kekerasan mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar? Apakah terdapat ancaman, pembicaraan mengenai target, atau langkah nyata menuju tindakan kekerasan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memberi label berdasarkan jenis konten yang dikonsumsi. Jika semua anak dengan minat tertentu langsung dicurigai, upaya pencegahan justru dapat menciptakan stigma dan membuat mereka semakin tertutup.
Membangun Ruang Aman Sebelum Kekerasan Menjadi Identitas
Lingkungan pertemanan dapat menjadi bagian dari pencegahan. Teman sebaya sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui perubahan dalam diri seorang anak. Mereka tidak perlu mengambil alih peran konselor atau aparat, cukup mengetahui bahwa ancaman kekerasan bukan sesuatu yang boleh dianggap sebagai candaan.
Persoalan ini semakin penting ketika melihat data yang lebih luas. BNPT menyebut 620 anak di 34 provinsi terpapar gagasan kekerasan dan radikal melalui media sosial sepanjang Januari hingga 26 Agustus 2026. Angka tersebut tidak berarti seluruh anak berkaitan dengan TCC atau akan melakukan kekerasan, karena tingkat paparan dan risikonya berbeda-beda.
Namun, angka itu memperlihatkan bahwa ruang digital tidak bisa dipisahkan dari upaya pencegahan radikalisasi anak. Terlebih pada 2025, Densus 88 menyebut ada 110 anak berusia 10–18 tahun di 23 provinsi yang diduga direkrut jaringan terorisme melalui pola komunikasi daring.
TCC dan jaringan terorisme tentu bukan hal yang sama. Keduanya tidak bisa disamakan begitu saja. Namun, terdapat persoalan yang sama-sama perlu diperhatikan, yaitu bagaimana ruang digital dapat digunakan untuk membangun hubungan, memengaruhi cara berpikir, dan dalam kondisi tertentu mendorong seseorang menuju tindakan yang lebih ekstrem.
Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dengan menghapus konten. Anak membutuhkan keluarga yang mau mendengar, sekolah yang memiliki sistem pendampingan, lingkungan pertemanan yang sehat, serta platform digital yang lebih bertanggung jawab dalam menangani konten berbahaya.
Seorang pastor Katolik umumnya dikenal melalui pelayanan keagamaan dan karya misionernya. Namun, Y.B. Mangunwijaya memilih…
Pernahkah kita bertanya dalam benak kita pada kita sendiri, sejak kapan perbedaan terasa seperti ancaman?…
Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati momentum bersejarah Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukanlah…
Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momentum ini seharusnya tidak hanya menjadi…
Sepanjang tahun 2025-2026, sejumlah wilayah di Indonesia dilanda bencana alam. Mulai dari banjir di Aceh…
Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…