Narasi

Toa Masjid dan Keegoan dalam Berpuasa

Minggu-minggu ini, Toa masjid menjadi pembicaraan publik. Hal ini terkait dengan postingan Zascia Mecca di Instagramnya, yang mempertanyakan soal Toa mesjid yang dinilainya sudah berlebihan, tidak etis, dan kurang elegan.

Memang sudah menjadi rahasia umum, penggunaan Toa mesjid di Indonesia, khususnya di bulan puasa, sering membuat tidak nyaman. Toa yang seharusnya membuat orang nyaman dan aman, justru –dalam beberapa – membuat masyarakat tidak nyaman.

Penggunaaan Toa yang berlebihan saat membangunkan orang untuk sahur adalah salah satunya. Sering terjadi di lapangan, Toa digunakan dengan cara-cara yang tidak elegen, tak punya adab, dan tak mempertimbangkan kondisi manusia yang ada di sekitarnya.

Bukankah yang manusia yang ada di sekitar mesjid itu bukan hanya orang muslim saja dan bukan juga orang yang sehat saja. Beragama manusia. Ada non-muslim, ada oarang sakit, ada bayi kecil, ada orang tua yang tua renta.

Bagaimana nasib mereka jika Toa dipergunakan dengan cara-cara yang berlebihan dan tidak pada tempatnya?

Dalam konteks inilah, puasa yang seharusnya menjadi rahmat bagi semua, kegembiaraan bagi semua, justru berbalik menjadi laknat, dan membuat manusia justru berada dalam ketidaknyamanan.

Keegoaan Kita

Puasa seharusnya menjadikan kita lebih toleran dan lebih peka terhada kondisi sosial kita. Jika yang terjadi sebaliknya, kualitas puasa kita patut dipertanyakan. Puasa seharusnya menjadi kita lebih menghargai sesama. Bijak dalam bersikap dan bertindak.

Penggunaan Toa yang berlebihan adalah tindakan yang memperturutkan keegoaan kita dalam berpuasa. Membangunkan sahur itu bagus dan sangat penting, itu adalah tradisi yang harus dilestarikan. Akan tetapi, jika tradisi yang baik itu dirusak dengan cara-cara yang buruk, apalagi itu atas nama puasa dan viralitas, maka itu adalah tindakan jauh dari nilai-nilai puasa itu sendiri.

Dalam sebagian pikiran, masih ada anggapan seolah-olah atasa nama puasa semuanya bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan bagaimana kondisi sosial-psikologi dari masyarakat setempat. Pikiran seperti itu tentu salah besar. Puasa bukanlah jalan untuk menghalalkan semua cara. Puasa justru untuk menundukkan keegoan kita, terutama keegoaan dalam beragama.

Keegoaan dalam beragama yang saya maskud adalah perasaan kalau kita menjalankan suatu ajaran agama, maka kita wajib dihormati. Apapun yang dilakukan tak boleh dikritik. Jika ada yang mengkritik, maka keimananya dipertanyakan. Bahkan dalam beberapa kasus, orang yang memberikan kritik-konstruktif itu sering dibully di media sosial.

Hal seperti ini yang kita lihat dalam kasus kritikan Zascia Mecca itu. Ia dibully habis-habisan. Imannya dipertanyakan. Di media sosial trending tagar #ZasciaMabokToaMesjid. Bahkan tak sampai di sini, jilbab yang dipakai Zascia itu dituduh hanya topeng dan kamuflase saja.

Ramadan Adalah Rahmat

Ramadan adalah bulan rahmat. Puasa diwajibkan kepada manusia bukan untuk menyiksa, melainkan sebagai sarana untuk bisa menjadi manusia yang bertakwa. Siapa manusia yang bertakwa itu?

Dalam surat Ali Imran (133-134) disebutkan bahwa ciri-ciri orang yang bertakwa itu ada tiga. Pertama, yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Kedua, yang bisa menahan amarah. Ketiga, yang bisa memaafkan orang lain.

Ketiga ciri ini adalah rahmat. Ketiganya selalu membutuhkan manusia lain. Tak ada orang yang bisa berinfak kecuali membutuhkan orang lain. Pun tak ada orang bisa melakukan sikap menahan amarah dan memaafkan orang lain, kecuali dengan perantaraan orang.

Tiga ciri ketakwaan ini bukan berarti kita tunggu sampai selesai Ramadan. Pada saat puasa pun harus selalu dilatih. Sebab, ketakwaan itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan ia datang dengan adanya usaha yang terus-menerus.

Dalam konteks inilah, dengan melakukan ketiga hal di atas, kita bisa menjadikan Ramadan sebagai bulan rahmat bagi sesesama. Dan, prilaku menggunakan Toa mesjid yang berlebihan bisa kita tinggalkan.

This post was last modified on 27 April 2021 1:50 PM

Abdul Rahman Harahap

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago