Narasi

Tolak Intoleransi, Pemilu Bukan Demokrasi Kufur

Akhir-akhir ini beredar video dan unggahan lama yang menyatakan bahwa demokrasi adalah produk yang melenceng dari Islam. Dengan jargon dan hashtag Demokrasi Kufur dan Pemilu Syirik Akbar, Warganet tengah membangunkan denyut intoleransi. Padahal, Pemilu 2024 sudah tinggal beberapa hari lagi.

Pemilu sebagai bagian dari sistem demokrasi yang ada di Indonesia adalah produk hukum dan nilai Islam atau agama lain. Warga negara telah bersepakat dalam menjalankan negara yang ideal perlu dan penting adanya Pemilu. Dengan Pemilu, rakyat bisa memiliki pemimpin dan dengan Pemilu aspek dan nilai demokrasi bisa dijalankan dengan baik.

Mengapa Pemilu oleh para perancang intoleransi dan jihad buta disebut sebagai Demokrasi Kufur? Tentu itu tidaklah benar, karena Pemilu dan Demokrasi dalam istilah lain juga diteladankan oleh Nabi Muhammad Saw. dengan berbagai model pergantian khalifah saat masa Sahabat. Ada tiga model, dengan penunjukan langsung, dipilih rakyat, dan dipilih oleh orang-orang otoritatif (ahlul hal wal aqdi).

Nabi Muhammad telah memberi contoh praktik baik dalam mengelola sebuah negara. Negara membutuhkan pemimpin, manajer, dan para ahlinya untuk mengurus berbagai tugas kenegaraan dan keummatan. Apa saja tugas para negarawan itu dalam pandangan Islam?

Tugasnya di antaranya ialah mewujudkan keadilan dan kesetaraan, memastikan Hak Asasi Manusia terpenuhi dengan benar, pemberdayaan, dan musyawarah. Demokrasi merupakan sistem yang akan mewujudkan itu semua. Tanpa demokrasi tentu bangsa ini akan kerepotan mewujudkan keadilan sosial dan seterusnya.

Warganet atau warga negara yang menganggap Pemilu ini adalah produk tak beragama atau melenceng dari agama perlu segera bertaubat. Pemilu yang akan dihelat sebentar lagi merupakan upaya memilih ulul amri (pemimpin negeri), mandatori rakyat yang paling bertangung jawab. Karena jika urusan kerakyatan ini tidak terkelola dengan baik, maka negeri yang baik dengan pengampunan Tuhan akan sulit diraih.

Tidak juga syirik akbar, persekutuan terbesar adalah ketika seseorang menyekutukan Tuhan dengan menolak negara demokrasi, negara bhineka yang berdiri dari tumpah ruah ide, gagasan, dan gerak persatuan dan kesatuan untuk kemanusiaan. Syirik akbar itu seseorang yang tidak menghargai perbedaan dan mereka baik perorangan atau lembaga yang menindas kemanusiaan dan berlaku tidak adil kepada setiap orang atau makhluk.

Demokrasi kita sudah berjalan dengan baik. Kalau meminjam kutipan dari Gus Mus beberapa hari yang sempat viral, Gus Mus mengatakan bahwa demokrasi kita sudah baik dari pada sebelumnya, mungkin saat era orde baru. Dan, pada Pemilu kali ini rakyat tidak perlu berlebihan mendukung Pasangan Calon (Paslon), tugas rakyat atau waktu itu menyebut Nahdlatul Ulama adalam Memenangkan Indonesia.

Jika sudah demikian, seruan untuk memenangkan Indonesia dari jalur Pemilu dan Demokrasi ini adalah dengan berpartisipasi aktif mengikuti Pemilu. Setiap orang berhak memilih siapa yang paling disukai dari segi pemikiran, rekam jejak, dan visi misinya. Rakyat wajib menggali pemikiran, rekam jejak, dan visi misi Paslon untuk memenangkan Indonesia. Jika Paslon pasif, apalagi terima suap, maka Indonesia akan Kalah.

Pemilu dengan beragam partai politik, ide, gagasan, partisipasi publik, dan kepentingan lain mengajak kita menghargai pilihan-pilihan setiap warga negara. Sikap toleransi terhadap beragam warna potik dalam Pemilu kali ini haruslah dijunjung tinggi. Intoleransi tidaklah perlu muncul pada demokrasi yang ada. Agar, demokrasi bisa berjalan dengan penuh toleran dan perdamaian.

Kebhinekaan dan cita-cita demokrasi kita masih panjang. Pemilu 2024 mari kita jadikan ajang memenangkan rakyat memenangkan Indonesia. Dengan cara apa? Sekurangnya kita harus berpikir cerdas, memahami profil dan rekam jejak Paslon, tidak menerima suap, dan bersama wujudkan Pemilu yang toleran, saling menghargai satu sama lain. Karena dengan itu semua, demokrasi akan menjadi lebih baik.

This post was last modified on 6 Februari 2024 2:00 PM

Al Muiz Liddinillah

Recent Posts

Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

Ada fenomena menari yang terjadi di lanskap keislaman Indonesia kontemporer. Di tengah menguatnya kelompok kelas…

6 jam ago

Di Balik Konflik Saudi–Houthi: Bahaya Geopolitik dan Ekonomi yang Sering Disederhanakan Politisasi Agama

Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memasuki fase kritis. Eskalasi yang semakin…

6 jam ago

Menjernihkan Simplifikasi Geopolitik: Merawat Solidaritas Kemanusiaan Tanpa Merobohkan Rumah Bangsa

Kepedulian generasi muda Indonesia terhadap gejolak geopolitik dunia, khususnya yang terjadi di dunia Islam, hari…

6 jam ago

AI Berfatwa Moderasi, AI juga Berfatwa Ekstremisme

Pada 2023, jemaat sebuah gereja di Furth, Bavaria, Jerman, mendengarkan khotbah 40 menit yang dibawakan…

3 hari ago

Tirani Algoritma dan Ekstremisme digital: Membumikan Etika Digital, Menjaga Nalar Kritis

Kebisingan di lini masa media sosial belakangan ini telah menjadi realitas keseharian yang tak terhindarkan.…

3 hari ago

Mengapa Dakwah Membutuhkan Ilmu sekaligus Literasi Media

Di ruang digital, pesan keagamaan tidak hanya bersaing dengan ceramah lain, tetapi juga dengan potongan…

3 hari ago