Laporan Digital 2026 dari DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025. Angka itu setara dengan 62,9 persen populasi. Data tersebut bukan jumlah pengguna unik, tetapi cukup menggambarkan luasnya ruang yang kini menjadi tempat masyarakat mencari informasi, termasuk pengetahuan agama.
Besarnya jangkauan itu membawa peluang sekaligus persoalan. Dakwah dapat menjangkau orang yang sebelumnya sulit mengikuti pengajian. Namun, ketika pengetahuan agama disampaikan melalui persaingan merebut perhatian, ada risiko lain yang perlu diperhatikan: penjelasan yang paling banyak ditonton belum tentu merupakan penjelasan yang paling tepat.
Viralitas dan otoritas adalah dua hal berbeda. Seorang pendakwah bisa memiliki kemampuan komunikasi yang baik, memahami kebutuhan audiens, dan menyampaikan materi secara menarik. Semua itu merupakan kelebihan. Namun, kemampuan menarik perhatian tidak otomatis membuktikan penguasaan tafsir, hadis, atau fikih. Sebaliknya, pendakwah yang jarang muncul di beranda bukan berarti kurang berilmu.
Persoalan muncul ketika perbedaan tersebut tidak lagi diperhatikan. Audiens menerima suatu pendapat karena disampaikan oleh figur yang dikagumi, bukan karena memahami dasar argumentasinya. Kritik terhadap ceramah pun terkadang dianggap sebagai serangan terhadap pribadi pembicara. Padahal, dalam urusan ilmu, pernyataan siapa pun tetap layak diperiksa.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Harmoni Kementerian Agama RI pada 2026 memberikan gambaran mengenai persoalan ini. Studi terhadap 300 siswa dari delapan madrasah di Jakarta Timur dan Jakarta Utara menemukan hubungan antara paparan algoritma media sosial dan polarisasi keagamaan. Model penelitian tersebut mencatat nilai R² sebesar 0,312. Artinya, model menjelaskan 31,2 persen variasi polarisasi yang diukur dalam penelitian itu. Temuan ini tidak membuktikan bahwa algoritma menjadi penyebab tunggal, tetapi menunjukkan adanya hubungan yang patut diperhatikan.
Bayangkan seorang remaja yang berkali-kali menonton ceramah dengan pesan serupa. Awalnya, ia hanya ingin mengetahui suatu persoalan agama. Setelah beberapa waktu, berandanya dipenuhi konten dengan pandangan yang sama. Pendapat berbeda semakin jarang ditemui, sementara pernyataan yang menyudutkan kelompok lain terus muncul. Tanpa disadari, ruang belajar yang semula luas bisa berubah menjadi ruang yang hanya menguatkan keyakinan sendiri.
Persoalannya semakin rumit ketika ceramah dipotong menjadi video pendek. Penjelasan yang semula disampaikan dalam konteks tertentu dapat kehilangan bagian penting saat diunggah ulang. Audiens hanya mendengar kesimpulan, tanpa mengetahui dalil, latar belakang, atau perbedaan pendapat yang menyertainya. Sebuah persoalan yang sebenarnya membutuhkan penjelasan panjang akhirnya tampak sederhana, seolah-olah hanya memiliki satu jawaban.
Dalam isu keagamaan yang sensitif, penyederhanaan semacam itu dapat memicu prasangka. Perbedaan penafsiran berubah menjadi tuduhan penyimpangan. Kelompok yang tidak sepaham digambarkan sebagai ancaman. Jika narasi seperti ini terus diulang, batas antara kesungguhan menjalankan agama dan kebencian terhadap orang lain semakin kabur.
Lalu, bagaimana seharusnya anak muda menyikapinya?
Tradisi pesantren sebenarnya memberikan pelajaran yang relevan. Belajar agama tidak cukup dengan menghafal kesimpulan. Ada kitab yang dibaca, guru yang membimbing, sumber yang ditelusuri, dan perbedaan pendapat yang dipelajari. Sanad keilmuan membantu seseorang mengetahui dari mana pengetahuan diperoleh dan melalui jalur pembelajaran apa pengetahuan itu diteruskan.
Tentu, sanad bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kompetensi seseorang. Penguasaan materi, ketepatan menggunakan sumber, kualitas penalaran, dan integritas tetap perlu diperhatikan. Intinya, pengetahuan agama membutuhkan proses belajar yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kemampuan berbicara di depan kamera.
Prinsip tabayun pun tidak kehilangan relevansinya di era digital. Sebelum membagikan potongan ceramah, seseorang bisa mencari video lengkapnya, memeriksa sumber kutipan, atau membandingkan penjelasan dari rujukan yang tepercaya. Langkah sederhana ini penting, terutama ketika sebuah konten mengajak audiens membenci kelompok tertentu atau membenarkan kekerasan.
Kita tidak perlu mencurigai setiap ustaz yang viral. Media sosial bukan musuh pendidikan agama, sebagaimana popularitas bukan bukti bahwa seseorang tidak berilmu. Yang perlu dikritisi adalah kebiasaan menerima popularitas sebagai pengganti pemeriksaan, lalu menganggap pendapat seorang figur sebagai satu-satunya kebenaran.
Di media sosial, perbedaan pendapat tentang agama sering kali tidak berhenti sebagai perbedaan penafsiran. Ia…
Dulu, ketika mendengar nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bayangan yang melintas di kepala sebagian besar…
Bagi generasi digital hari ini, game online telah melampaui definisi sederhana sebagai sarana hiburan. Di…
Sebuah kanal game bisa memiliki ribuan pengikut, jadwal siaran yang teratur, dan penonton yang selalu…
Bagaimana jika anak kita bertemu seseorang di gim daring yang selalu memujinya, mendengarkan keluhannya, lalu…
Tragedi Penembakan Masjid Christchurch pada 15 Maret 2019 menjadi titik balik bersejarah bagi Selandia Baru.…