Narasi

Vigilantisme dan Kebenaran yang Mesti Terkonfirmasikan

Seorang santri, yang barangkali sudah mengalami kementokan logika tingkat ke-3, di mana panjang-lebar-tinggi bertemu atau yang akrab disebut sebagai logika ruang, tiba-tiba mengikuti sebuah pengajian hakikat.

Sang mursyid, sang pemberi ceramah yang seolah tak terbantahkan dalam pengajian itu, menyajikan tema tentang “perkawinan spiritual” atau “perkawinan ruhani” yang menurutnya memang dianjurkan untuk ditempuh bagi para perambah wilayah hakikat.

Sang santri, yang barangkali pula masih “jomblo,” memaknai perkawinan itu sebagaimana “perkawinan” di dunia nyata di mana kedua tubuh saling menyentuh, namun sekarang tubuh itu sudah dilampaui sehingga menyisakan apa yang dikenal sebagai “ruh.”

Hasil pengajian itu pun diberikan pada simbahnya yang adalah seorang kejawen tulen. Sang Simbah, yang memang terdidik untuk mengukur sebuah kebenaran secara eksperiental, menyangsikan penangkapan sang santri itu.

“Kalau ‘perkawinan spiritual’ benar ada atau dapat dimungkinkan, lalu apa bedanya ‘ruh’ dengan ‘nafsu’, Nak?,” telisik sang simbah.

Sang santri yang fasih berbahasa Arab itu pun tersentak. Ia ingat bagaimana karakteristik ruh yang konon tak mengalami sakit, lupa, dan kebusukan. Yang artinya, bahwa ruh itu adalah salah satu unsur kemanusiaan yang sama sekali berbeda dengan nafsu.

“Ketahuilah, Nak,” kata sang simbah, “‘Perkawinan’ spiritual itu sebenarnya adalah sebentuk kebenaran yang sudah terkonfirmasikan. Bukankah selama ini banyak di antara kita yang masih memegang kebenaran masturbasif atau kebenaran sepihak, apalagi di ranah agama? Benarkah, dalam derajatnya yang halus, Tuhan itu ada? Benarkah, dalam derajatnya yang paling kasar, Tuhan menampik orang-orang kafir dan akan menghukum mereka di neraka?”

Tak jauh beda dengan sains, agama pun—yang konon sekedar mesti diyakini—ternyata juga memerlukan sebentuk konfirmasi. Pada sains salah satu ukuran kebenaran itu dipayungi dalam apa yang dikenal sebagai teori korespondensi di mana sebuah pernyataan bertemu dengan kenyataan.

Ukuran kebenaran lainnya, dalam jagat filsafat dan wa bil khusus dalam pemikiran Heidegger, adalah adanya penyingkapan atau “Aletheia” yang juga menuntut kita selaku pencari kebenaran untuk bersikap “Gelasenheit” (kerelaan) dan “Offenheit” (keterbukaan).

Dalam ekspresinya yang paling vulgar, kebenaran masturbasif itu tampak dalam apa yang kita kenal sebagai “vigilantisme” di mana tindakan main hakim sendiri menjadi pembuktian dari sebuah kebenaran, apalagi kebenaran agama.

Namun, dalam sains, filsafat Heideggerian, dan kejawen, kebenaran yang mendasari vigilantisme itu belumlah kebenaran itu sendiri di mana dalam sains mesti mendapatkan kesesuaian dengan fakta, dalam filsafat Heideggerian mesti mendapatkan kejelasan atas segala hal sebagai konsekuensi atas penyingkapan, dan dalam kejawen mesti mendapatkan pembuktian atau kasunyatan—yang karena itulah di Jawa istlah “kebenaran” sinonim dengan istilah “kasunyatan” di mana ketika suksma (kecenderungan diri seperti nafsu dsb.) setangkup dengan nyawa yang perceraiannya hanya akan membuahkan kegelapan).

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Eks Napi Teroris dalam Pusaran Vigilantisme; Tantangan Baru bagi Agenda Deradikalisasi

Keterlibatan dua mantan narapidana terorisme sebagai tersangka pembakaran warung mi babi di Sukoharjo menjadi catatan…

4 jam ago

Dari Purifikasi ke Vigilantisasi: Membongkar Akar Kekerasan Ekstrajudisial Gerakan Salafi di Ruang Publik

Pasca Reformasi 1998, lanskap keberagamaan kita diwarnai oleh kebangkitan konservatisme keagamaan. Salah satu motor utama…

4 jam ago

Hakim Tanpa Palu, Pengadilan Tanpa Saksi

Sabtu dini hari, 12 September 2026. Warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro,…

1 hari ago

Antara Fobia Anjing dan Tabu Babi: Menyingkap Politik Identitas Kuliner di Indonesia

“Di Indonesia, orang Islam lebih takut liur anjing dan daging babi ketimbang korupsi.” Begitu cuitan…

1 hari ago

Vigilantisme dan Psikologi Kerumunan: Bagaimana Rage Bait Menjadi Bahan Bakar Kekerasan Kolektif di Era Digital?

Di era interkonektivitas global hari ini, linimasa media sosial telah menjadi jendela kita dalam melihat…

1 hari ago

Mengurai Jebakan Propaganda Ekstremis dan Menafsir Ulang Sumpah Pemuda di tengah Gejolak Geoekonomi-Politik

Tembok kedaulatan sebuah negara hari ini tidak lagi semata diruntuhkan oleh invasi militer, melainkan oleh…

4 hari ago